Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Hilang keprawanan


__ADS_3

"Mas boleh tahu sesuatu nggak?"


Zahra segera mendongakkan kepalanya menatap sang suami,


"Apa?" ada rasa takut sekaligus was-was, ia yakin suaminya belum bisa melupakan kejadian tadi sore di mall,


Tampak wajah suaminya begitu serius hingga membuat Zahra tidak berani mengeluarkan candaan lagi. Setidaknya kali ini ia harus cari aman.


"Dek Zahra mau jujur?" ustad Zaki meyakinkan istrinya bahwa dia akan menjawab dengan penuh kejujuran.


Sekali lagi Zahra menganggukkan kepalanya, ia sudah siap dengan apapun yang ingin di tanyakan oleh sang suami, ia sudah mengaku bersalah karena tidak pernah jujur tentang hubungannya dengan Bayu, walaupun hubungan mereka lebih dulu dari pernikahan mereka, tapi tetap saja jujur jauh lebih baik dari pada menyembunyikannya.


"Apa benar yang di katakan oleh Bayu tentang kalian?"


Deg


Dan benar saja, seperti dugaan Zahra, ia tidak mungkin mengelak lagi ataupun menutupi semuanya. Walaupun ia belum mencintai suaminya, setidaknya dengan memutuskan hubungannya dengan Bayu menjadi awal keseriusannya menyandang status sebagai seorang istri dari seorang ustad muda.


"Iya!" Zahra menjawab sambil menganggukkan kepalanya, sejauh apapun ia berbohong dan menutupi semuanya, akhirnya pasti tidak akan baik. "Tapi sungguh beberapa waktu lalu aku sudah memutuskan hubungan kami, tepatnya kapan aku lupa!" sambungnya lagi, ia tidak mau semakin membuat suaminya salah faham.


Hehhhhh ....


Sebuah helaan nafas dalam keluar dari bibir sang suami, seperti memberi jeda pada sebuah pemikiran, setelah beberapa detik ustad Zaki kembali menatap Zahra, dengan begitu yakin ia kembali bertanya,


"Apa saja yang sudah kalian lakukan?" sebenarnya pertanyaan itu cukup membuat hati ustad Zaki sakit, tapi ia juga ingin tahu kebenarannya. Ingin rasanya bersikap biasa saja tapi membayangkan istrinya berpelukan atau bahkan berciuman dengan pria lain membuat hatinya sedikit terluka, ia memang tidak bisa mengubah masa lalu tapi setidaknya jiwanya sebagai manusia biasanya tetaplah mencoba mencari kebenaran Walaupun mungkin tidak akan mengubah apapun.


Zahra malah tercengang dengan wajah polosnya, sepertinya gadis yang ia nikahi itu memang benar-benar polos.


"Maksudnya?" Zahra kurang mengerti dengan maksud dari pertanyaan sang suami, " Apa maksudnya pergi ke mana, gitu ya? Kalau itu aku lupa," Zahra tampak berpikir,


Tapi sepertinya ustad Zaki masih berusaha diam untuk menunggu jawaban Zahra selanjutnya,


"Ya maaf, kan sudah dua tahun lamanya! Mana bisa ingat semuanya." jawab Zahra dengan polosnya, ia tidak tahu jika lawan bicaranya tengah menahan hatinya.


"Bukan! Aku tidak akan bertanya hal yang menberatkan kamu."


"Lalu?" Zahra sampai memiringkan kepalanya penasaran.


"Aku cukup mengerti tentang bagaimana cara anak-anak remaja jaman sekarang yang berpacaran, biasanya mereka pelukan, ciuman bahkan hal yang lebih dari itu! Jadi_"


Seketika Zahra melebarkan matanya tidak percaya ia akan mendapatkan pertanyaan seperti itu,


"Pertanyaan macam apa sih itu, jadi mas ustad kira Zahra sudah berbuat yang aneh-aneh!?" kali ini Zahra yang kesal.


"Mas kan nggak tahu dek, makanya mas tanya sama dek Zahra!"


"Tapi nggak gitu juga!"

__ADS_1


Melihat ekspresi kesal dari Zahra, ustad Zaki pun kembali mengusap kepalanya Zahra,


"Maaf jika pertanyaan mas menyinggung perasaan dek Zahra!"


"Dikit sih!" ucap Zahra sambil menunjukan ujung jarinya.


"Kalau gitu mas masih boleh bertanya kan?"


Zahra pun kembali mengangguk, memang bagaimanapun itu hak suaminya untuk bertanya.


"Pacaran kalian tipe yang mana? Jalan aja, atau ciuman, pegangan tangan atau mungkin lebih dari itu?"


"Yang mana?" Zahra kembali menajamkan matanya, " Nggak ada ya yang kayak gitu, paling mentok itu kami cuma pegangan tangan, nggak lebih. Itu aja nggak sering!"


Seketika perasaan lega menyelumti hatinya yang tadi begitu gundah, "Sungguh?" ustad Zaki kembali memastikan.


"Sumpah, demi Allah!" Zahra mengacungkan kedua jarinya ke atas tapi segera oleh ustad Zaki di tahan tangannya,


"Jangan ucapkan itu, jangan sampai sumpah dek Zahra memberatkan dek Zahra nantinya! Sungguh aku tidak mengharapkan sumpah itu!"


"Tapi beneran, aku tidak pernah melakukan yang aneh-aneh, memang sih aku urakan, begundal, susah di atur tapi aku jamin aku masih bisa jaga diriku."


"Mas percaya!"


"Cuma gitu doang percayanya? Nggak perlu Zahra buktikan sesuatu?"


"Insyaallah, Allah yang akan menjaga segalanya. Apapun yang terjadi pada dek Zahra di masa lalu tidak akan merubah perasaan mas pada dek Zahra."


"Trus, sekarang boleh deh di cium!" ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya yang sengaja ia sodorkan pada ustad Zaki.


Ustad Zaki kembali tersenyum, "Ini yakin boleh cium?"


Zahra kembali menarik bibirnya, ia tampak berpikir,


"Tapi ciuman nggak bakal bikin hamil kan?"


Sekolahnya masih setengah tahun lagi, ia juga masih harus PKL yang merupakan program akhir sekolahnya. Tidak mungkin ia sekolah dalam keadaan berbadan dua.


"Kita coba aja!" ustad Zaki menatap Zahra dengan tatapan menggoda.


"Kok coba-coba sih, kalau sampai hamil gimana?" tersirat sebuah kekhawatiran di wajah Zahra dan hal itu berhasil membuat ustad Zaki tersenyum. "Issstttt, malah senyum lagi!" gerutu Zahra.


Ustad Zaki menggema kedua tangan Zahra, mengusap punggung tangannya dengan lembut,


"Kan dek Zahra punya suami, kenapa mesti khawatir?"


"Isssttttt, kan tadi sudah aku bilang. Emang sekolah boleh apa hamil?"

__ADS_1


Jadi dia beneran belum pernah ciuman, senyumnya kembali merekah di bibir tipisnya hingga menampilkan lesung pipinya yang membuat siapapun terpesona dengan senyum itu.


Ehhh, dia malah senyum lagi. Sengaja nih mas ustad goda Zahra ..., Zahra selalu di buat klepek-klepek dengan senyumnya itu.


Sekarang ustad Zaki jadi yakin kalau istrinya belum pernah berciuman selain dengan dirinya.


"Enggak dek, ciuman nggak bakal bikin hamil. Insyaallah, asal mas nggak kelepasan!" tatapnya dengan tatapan menggoda.


"Maksudnya kelepasan?"


Cup


Tiba-tiba bibir ustad Zaki benar-benar mendarat di bibir Zahra membuat Zahra terdiam, bahkan ia tidak berani mengubah posisinya.


Kenapa rasanya manis begini, bibir merah mas ustad beneran nempel di bibir perawan aku, eh tunggu ..., jadi ini maksudnya aku udah nggak perawan dong!?


Zahra dengan cepat memundurkan bibirnya dan menutup bibir ustad Zaki dengan telapak tangan kanannya,


"Tunggu mas!"


Ustad Zaki pun kembali memundurkan bibirnya hingga Zahra menarik kembali telapak tangannya.


"Apa lagi?"


"Kalau ciuman gini, apa artinya Zahra udah nggak perawan ya?"


Ustad Zaki mengerutkan keningnya,


"Bibir aku udah nggak perawan ya?" tanya Zahra sambil menggigit bibir bawahnya.


Sekali lagi ustad Zaki tidak bisa menahan senyumnya, ia benar-benar harus ekstra sabar karena menikahi anak usia remaja yang masih labil,


"Baiklah, sekarang tidurlah, besok kita masih harus mampir ke suatu tempat!"


Ustad Zaki segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Zahra dan ia pun beralih ke sisi lain tempat tidur, mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.


Maaf ya kalau ceritanya terkesanuter di situ saja, alasanya kenapa? Karena memang novel ini sengaja aku buat ringan, kisahnya tidak ada konflik yang berat hanya kehidupan sehari-hari pasangan baru yang usianya terpaut jauh. Semoga apa yang saya tulis tetap selalu menghibur, selamat membaca, I love you all 😘


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2