Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Apa sudah siap?


__ADS_3

"Maksudnya siap apa?" tanya Zahra kali ini berhasil membuat ustad Zaki tersenyum.


Walaupun begitu, ia masih menyembunyikan senyumnya itu di balik sendok yang sengaja ia tahan di dalam mulut.


Setelah menormalkan mimik wajahnya, ustad Zaki segera melepas sendoknya dan menatap sang istri dengan tatapan tegasnya,


"Jangan sambil bicara kalau sedang makan!" ucapnya agar Zahra berhenti dulu bicara,


Kali ini ucapan ustad Zaki berhasil membuat Zahra diam, mereka menyelesaikan makannya tanpa bicara lagi. Lagi pula rasa penasarannya masih bisa di tangguhkan sampai ia menyelesaikan makannya.


Akhirnya ....


Zahra lega akhirnya selesai juga, ia sudah bersiap memberi pertanyaan pada sang suami, tapi sang suami segera beranjak dari duduknya.


Ustad Zaki sengaja segera bangun dari duduknya dan membereskan piring kotor mereka agar terhindar dari pertanyaan zahra.


Ihhh, sepertinya dia sengaja ...., keluh Zahra dalam hati. Ia pun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan sang suami.


"Biar Zahra saja!" ucapnya sambil menahan tangan ustad Zaki. Tapi ustad Zaki malah memicingkan matanya, memiringkan senyum di bibirnya membuat Zahra terpaku di buatnya.


"Siapkan dirimu saja, biar aku minta pegawai hotel untuk membersihkan ini!"


lagi-lagi Zahra tercengang, entah kenapa semua kata-kata ustad Zaki malam ini seakan menjurus ke hal-hal yang ia pikirkan di kamar mandi tadi.


Menyiapkan? sungguh kata-kata itu berhasil membuatnya gagal fokus.


"Maksudnya apa ya?" tanya Zahra sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan ustad Zaki memilih menatap Zahra dengan tatapan dinginnya, walaupun kadang terlihat lucu, wajah tampan itu semakin tampan dengan gaya cool yang di keluarkan oleh sang ustad,


"Gosok gigi dan naiklah ke atas tempat tidur, tutup tubuhmu dengan selimut!" ucap ustad Zaki seperti sedang berbicara pada anak kecil saat mau tidur. Tapi bukan Zahra namanya jika tidak banyak bertanya,


"Buat apa?" tanyanya lagi dan ustad Zaki pun menepuk-nepuk puncak kepala Zahra lembut sambil tersenyum,


"Buat bersiap-siap!"


"Jangan menakutiku, bersiap-siap apa?" Zahra menahan tangan ustad Zaki agar tidak berpindah dari kepalanya.


"Buat bersiap-siap kalau pekerja hotel yang masuk laki-laki!"


Zahra memicingkan matanya tidak percaya, "Issstttt!"


"Sudah sana!" perintah ustad Zaki lagi.


"Tapi kan Zahra sudah pakek baju!" Zahra masih saja terus protes.

__ADS_1


Ustad Zaki menghela nafas, memang tidak mudah bicara dengan Zahra, butuh kesabaran ekstra untuk itu,


"Tapi baju kamu pendek, dek! Jangan sampai ya mas yang angkat kamu ke tempat tidur!" ancam sang suami membuat Zahra mengerucutkan bibirnya tidak suka.


Zahra baru menyadari bahkan sang suami belum melepas sarungnya, mungkin ia sengaja agar saat ada orang yang masuk ke dalam kamar, ia masih menutup auratnya.


"Terserah lah!" Zahra pun akhirnya menyerah, ia melakukan apa yang seperti di perintahkan oleh suaminya, segera ke kamar mandi untuk gosok gigi. Setelah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi ia kembali keluar, dan ternyata belum ada siapapun kecuali suaminya yang tengah berbicara di dalam telpon yang ada di kamar hotel itu. Ia pun memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut, tidak mempedulikan apa yang akan di lakukan suaminya.


Setelah menghubungi pengelola hotel, selang beberapa menit pintu kamar mereka di ketuk, ustad Zaki yang tengah membersihkan meja segara menghampiri pintu dan membukanya.


"Maaf menggangu istirahat Anda, kami mendapat panggilan_!"


"Iya, itu saya! Saya cuma mau minta tolong ini!" ustad Zaki sudah mengumpulkan semua sampah di dalam kantong kresek dan menumpuk piring kotor untuk di serahkan kepada petugas hotel tanpa mempersilahkan masuk.


Trus apa gunanya aku bersembunyi di balik selimut kayak gini, nggak masuk juga orangnya, batin Zahra sambil menggelengkan kepalanya kesal. Lebih tepatnya gemas pada sang suami.


Apa ini maksudnya ...., tiba-tiba pikiran kotornya kembali masuk ke dalam pikirannya.


Ahhhh tidak, tidak, apa aku sudah siap? Zahra sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya jika ia akan meminta hal itu pada suaminya.


Setelah semua sampah dan piring kotor di serahkan, ustad Zaki kembali menutup pintu kamar. Ia berbalik dan berjalan menuju ke kamar mandi, sepertinya ia juga melakukan seperti apa yang di perintahkan ya pada Zahra.


Setelah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi, ia pun segera kembali menghampiri Zahra.


"Kenapa menatap mas kayak gitu?" tanya ustad Zaki sambil melepaskan sarungnya dan dengan begitu lihai melipat hingga rapi, ia berjalan mendekati Zahra dan meletakkan sarungnya di nakas samping tempat tidur.


"Mas ustad sengaja ya?" ustad Zaki mengerutkan keningnya membuat Zahra kembali bertanya, "Iya kan?" sekali lagi untuk memastikan.


Ustad Zaki mendekati dirinya, hingga mereka begitu dekat, ustad Zaki ikut menaikkan kakinya dan duduk bersila di depan Zahra yang memang sedari tadi sudah melipat kakinya.


"Sengaja apa?"


"Sengaja memancing Zahra agar naik ke atas tempat tidur!" tebak Zahra,


"Buat apa, mas pakek mancing dek Zahra segala?" tanyanya dengan suara lembutnya.


"Ya mancing Zahra, buat itu_!" Zahra sampai bingung sendiri bagaimana caranya menjelaskan pada sang suami.


"Apa maksudnya itu? Mas nggak ngerti!"


"Ya itu!" Zahra menunjukkan dengan mendekatkan kedua ujung jari telunjuknya.


"Ini apa?" ustad Zaki menirukan apa yang di lakukan oleh Zahra, ia ikut menempelkan kedua ujung jari telunjuknya tepat di depan wajah Zahra.

__ADS_1


"Masak nggak ngerti sih, mas ustad kan sudah dewasa!"


"Kan aku bukan anak remaja lagi, mana tahu bahasa anak remaja!"


"ML!" ucap Zahra dengan cepat kemudian segera menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Ampun deh, aku kejebak sama ucapanku sendiri, batin Zahra.


"Ohhhh, ML!"


Mendengar respon santai dari ustad Zaki, Zahra pun segera membuka tangannya, menyingkirkan dari wajahnya,


Cuma gitu?


Zahra mengerutkan keningnya, "Tahu maksud Zahra?"


Ustad Zaki tersenyum, membuat Zahra semakin curiga.


Tuh kan, dia tuh pasti sengaja ngejebak aku ..., pakek gaya-gaya nggak tahu segala ...


"Jadi beneran sudah siap?" tanya ustad Zaki, kali ini dengan sedikit menggoda.


Zahra terlihat berpikir, aku beneran siap apa belum ya?


Ia sendiri bahkan tidak tahu apa batasan dari siap itu sendiri.


"Zahra nggak tahu!"


Tiba-tiba suasana menjadi hening, baik Zahra maupun ustad Zaki tidak ada yang bicara ataupun menggerakkan tubuhnya hingga ustad Zaki menghena nafas begitu dalam.


"Mas boleh tahu sesuatu nggak?"


Zahra segera mendongakkan kepalanya menatap sang suami,


"Apa?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2