Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Zahra hamil


__ADS_3

Dengan cepat ia menggeser tombol terima,


"Hallo, assalamualaikum!"


"Hallo, ustad Zaki. Saya Bayu_!"


"Bayu?"


Nur segera menoleh ke arah ustad Zaki saat mendengarkan nama Bayu di sebut.


***


Di klinik terlihat Bayu tengah mondar-mandir di depan ruang gawat darurat, seorang dokter tengah menangani Zahra di dalam sana.


Kaki jenjangnya terus mondar mandir di koridor rumah sakit dengan wajah lusuhnya, baju yang tadi rapi sekarang sudah tidak teratur lagi. Rambutnya pun terlihat semakin berantakan.


Glekkk


Hingga akhirnya setelah penantiannya selama setengah jam, pintu yang sedari tadi tertutup akhirnya terbuka juga, dokter terlihat keluar dari ruangan itu.


Tatapan sang dokter langsung tertuju pada Bayu, tatapan itu terlihat mengintimidasi.


Sebelum Bayu benar-benar mendekat, rupanya sang dokter sudah lebih dulu mendekat,


"Kalian pacaran?"


Dokter itu langsung menodong dengan pertanyaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Bayu.


"Maksud dokter?"


"Kalian pacaran kan?" tanya dokter lagi dengan kening yang berkerut seakan meminta kepastian dari bayu, tapi bukan itu yang di tunggu Bayu, ia ingin tahu bagaimana keadaan Zahra sekarang? Apa dia baik-baik saja? Hanya itu.


"Iya, kami dulu pacaran. Kami baru putus beberapa Minggu ini!" jawab Bayu sambil mengingat-ingat terakhir kali Zahra mengatakan putus. Seingatnya belum ada satu bulan tapi ia juga tidak yakin dengan hal itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku ikut saya!" ajak dokter sambil meletakkan tangannya di punggung Bayu, seakan memberi tahu jalan yang harus ia tempuh.


"Tapi Zahra gimana dok?" tanya Bayu sambil menoleh ke ruangan yang sudah kembali tertutup.


"Jangan khawatir, di dalam ada suster yang menjaga!"


"Baiklah dok!"


Akhrinya Bayu setuju untuk ikut dengan dokter, ia juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Zahra.


Selama mereka pacaran, Zahra tidak pernah sampai pingsan saat datang bulan, adanya bercak darah di rok abu-abu Zahra membuktikan kalau dia tengah datang bulan, begitulah pikir Bayu.


Akhirnya mereka sampai juga di ruang dokter, ia duduk tepat di depan meja milik dokter yang mengajaknya, berhadapan dengan sang dokter.


"Ada apa dok? Apa yang terjadi sama Zahra?"


Hehhh ....


Terdengar helaan nafas halus dari sang dokter, ia melepaskan stetoskop yang menggantung di lehernya dan meletakkannya di atas meja,


"Hahhh?" Bayu berusaha mencerna ucapan sang dokter, lebih tepatnya ingin memastikan jika yang dikatakan sang dokter itu benar.


"Iya, pacar kamu hamil. Jadi kamu tidak tahu?"


Karena masih terlalu syok, Bayu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sudah ku duga, seharusnya saya bicara pada orang tua kalian."


"Tapi dok_!" Bayu ingin menjelaskan pada dokter bahwa anak itu bukan miliknya, tapi dokter segera memotongnya.


"Mau bagaimana pun keadaannya, kamu sebagai laki-laki harus bertanggung jawab. Makanya kalau belum siap punya anak, kalau pacaran ya jangan kebablasan. Kalau sudah begini bagaimana? Tidak ada pilihan lain kan selain kalian menikah!"


"Tapi dok, itu bukan_!"

__ADS_1


"Bukan salah kamu maksudnya? Ya iya, kalau kalian suka sama suka, berarti salah kalian berdua sudah mengecewakan orang tua kalian. Kasihan orang tua kalian yang sudah banyak berkorban agar kalian bisa sekolah sampai di titik ini, tapi kalian malah mengkhianati kepercayaan mereka. Sungguh keterlaluan!"


"Tunggu dok, biarkan saya bicara! Jadi gini dok, dia sudah menikah!"


"Sama kamu?"


"Bukan! Kalau sama aku, aku Yo mesti gelem. Tapi masalahnya bukan sama aku!"


"Lalu?" dokter terlihat bingung, "Maksudnya, jadi dia sekarang bukan pacar kamu lagi? Atau kamu cuma pengen lari dari tanggung jawab karena tidak ingin menikahi pacar kamu?"


"Nggak percaya banget sih dok, baiklah kalau nggak percaya. Tunggu sebentar biar aku telponin suaminya!"


"Dia sudah menikah?"


"Iya dok!"


"Baiklah aku tunggu. Lagi pula aku juga tidak bisa memberitahukan keadaan pasien kalau bukan keluarganya dan kalian belum menikah. Kalau tidak bisa membawa suaminya, tolong hubungi orang tuanya!"


"Baik dok, kalau begitu saya permisi!"


Akhrinya Bayu keluar juga dari ruangan itu, ia menghela nafas lega. Tapi belum begitu lega saat mengingat keadaan Zahra, rasanya tidak begitu ikhlas mengetahui Zahra tengah hamil tapi bukan miliknya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih berharap bisa bersama dengan Zahra.


Ia teringat jika sempat menyimpan nomor telpon ustad Zaki, ia pun memutuskan untuk menghubungi ustad Zaki dan memberitahu keadaan Zahra.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


.


__ADS_2