
"Mas sengaja ya?" tanyanya kesal begitu menyambut kedatangan suaminya yang baru saja pulang dari mengisi pengajian rutin.
Sebenarnya ustad Zaki ingin selalu memantau keberadaan sang istri, tapi nyatanya kesibukannya berkata lain. Beruntung ada Imron, kakak laki-laki Zahra itu sekarang sudah tidak bekerja di kota. Atas permintaan ustad Zaki, mas Imron menjadi supir pribadi Zahra. Selain untuk menjaga zahra, mas Imron juga dapat gaji dari pekerjaannya.
Untung ustad Zaki masih bisa pindah mengajar di kampus tempat Zahra kuliah dari kampus lamanya karena memang satu yayasan jadi meskipun hanya dua sampai tiga jam ia bisa menatap wajah istrinya setiap kali mengisi kelas Zahra.
"Dek, mas datang bukanya jawab salam.kok malah nodong sama pertanyaan sih." protes ustad Zaki.
"Waalaikum salam," jawab zahra ketus, "Eh tunggu, tapi kayaknya aku belum dengar mas ucap salah."
"Memang belum dek."
"Maaaasssss," Zahra mendengus kesal.
"Assalamualaikum dek Zahra sayangnya mas ustad Zaki."
Zahra segera menarik sudut bibirnya hingga menunjukkan gigi ratanya yang berjejer,
"Waalaikum salam, mas ustad Zaki yang paling tampak sayangnya Zahra."
Cup
Sebuah kecupan manis langsung mendarat di kening Zahra, cukup lama hingga akhirnya ustad Zaki melepaskan ciumannya.
"Baiklah, kita duduk trus boleh tanya sekarang."
Ustad Zaki membimbing Zahra untuk duduk di ruang tv, mereka duduk di sofa dan hal yang paling manis yang Zahra dapat, ustad Zaki selalu meletakkan kaki Zahra di pangkuannya dan mulai memijatnya.
"Gimana, enak?" tanya ustad Zaki sambil memijat betis Zahra.
"Enak, kaki Zahra memang rasanya kayak mau patah naik turun tangga kampus, pengen banget ada lift nya biar enak kalau naik turun. Apalagi ya mas dari lantai satu ke kelas Zahra kan lantai tiga, kempor bisa-bisa kaki."
Hal biasa jika satu pertanyaan singkat akan di jawab sepuluh kali lipat panjangnya. Dan itu yang membuat ustad Zaki begitu rindu, bahkan keseharian Zahra kerap menjadi bahan tausiyah ustad Zaki. Hal-hal konyol yang kerap di lakukan Zahra yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh ustad Zaki.
__ADS_1
"Insyaallah besok di pasang lift." celetup ustad Zaki dengan santainya.
"Kayak peramal aja mas," Zahra pun sama, ia tidak kalah santai menanggapi ucapan sang suami yang lebih mirip seperti candaan,
"Oh iya mas, gimana tadi?"
"Apanya?"
"Zahra nggak suka ya kalau di kelas mas senyum-senyum terus kayak gitu. Mas nggak lihat apa, mata cewek-cewek, uhti-uhti cantik itu tengah menatap ke arah mas terus. Pantas saja mas betah jadi dosen, rupanya benar ya kata Ina. Pasti mas suka kalau di lihatin kayak gitu."
Bukanya marah atau kesal dengan tuduhan sang istri, ustad Zaki malah tersenyum dan mengusap pipi sang istri,
"Kenapa malah senyum-senyum sih?" tanya Zahra kesal karena merasa ucapannya di abaikan.
"Mas lagi menyiapkan sesuatu, dek."
"Menyiapkan apa?"
Seketika pipi Zahra merona merah. Ia benar-benar merasa semua yang keluar dari bibir sang suami adalah bentuk pujian.
Oh iya, memang besok masuk lagi?" tanya Zahra begitu teringat jika jadwal sang suami cuma satu hari dalam satu Minggu.
"Ahhh iya, mas lupa. Rasanya akan berat pasti tanpa mas."
"Enggak, biasa aja." jawab Zahra dengan wajah dengan pasti tanpa beban. "Ehhh, tapi kalau Zahra lapar gimana? Kalau Zahra tiba-tiba pengen sesuatu gimana? Kalau tiba-tiba Zahra kang_en gima_?"
Ustad Zaki dengan cepat menyambar bibir Zahra, rasanya begitu gemas dan tidak sabar menunggu sampai mereka di kamar.
***
"Loh, ini kok banyak tukang ada apa Na?" Zahra terpaksa harus melewati jalan lain karena ada beberapa tukang yang tengah bekerja.
"Katanya yang aku denger-denger, ada orang gabut tiba-tiba ngasih donasi buat pasang lift."
__ADS_1
'Ada ya gabut kayak gitu? Emang uang tinggal sobek,' batin Zahra tapi kemudian ia menutup mulutnya tidak percaya.
"Zah, kenapa? Ada masalah? Atau kamu tahu siapa di gabut itu?"
' Nggak mungkin kan kalau mas ustad,' batin Zahra sekali lagi sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak, nggak tahu."
"Tapi wajah kamu berkata lain loh." Nana, gadis imut dengan kulit sawo matang itu tampak memaksa Zahra.
"Serius nggak tahu, udah ah yok. Kelas udah mau mulai."
Zahra menarik tangan Nana dan mengajaknya menaiki tangga.
****
"Bukan mas kan yang gabut?" tanya Zahra begitu sampai di rumah. Dan ustad zaki dengan santainya menggelengkan kepala.
"Serius?"
"Insyaallah mas nggak tahu yang di tanyakan."
"Astaghfirullah hal azim mas." keluh Zahra kesal. "Lain kali ya mas kalau gabut itu bangun bangun bandar udara nasional di belakang rumah, biar Zahra kalau mau ke mana-mana enak, tinggal ke belakang rumah udah nyampek aja ke Bandung, Jakarta, Korea, Bali, jepang." cerocos zahra yang selalu berhasil membuat ustad Zaki merasa gemas.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1