
Zahra setia di atas tempat tidurnya, meskipun pria yang berpamitan ke kamar mandi sudah kembali ke kamar dan mengelar sajadahnya dengan penampilan menawannya yang identik dengan sarung dan songkoknya.
Apa iya kami sudah melakukannya? Memang rasanya gimana?
Sekali lagi Zahra masih penasaran, ia memandangi suaminya itu, tidak berniat untuk ikut sholat tahajud barang dua raka'at.
Terlihat pria itu sudah mengakhiri aktifitasnya dengan mengucapkan salam dan kedua tangannya yang ia takupkan ke wajah tampannya.
"Dek, ikut mas ke mushola bawah nggak?"
Pertanyaan itu segera menyadarkan Zahra dari lamunannya,
"Ahhhh iya, bentar!"
Zahra pun bergegas turun dari tempat tidurnya, selain untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, Zahra juga ingin jalan-jalan. Menikmati waktunya yang singkat di tempat yang terasa asing ini.
Zahra sudah hampir sampai di pintu kamar mandi, tapi sekali lagi ia menoleh pada pria yang tengah melipat sajadah,
"Ada apa?" tanya sang suami.
"Mas, Zahra keramas nggak?"
Ustad Zaki mengerutkan keningnya kurang mengerti dengan pertanyaan sang istri, tidak biasanya Zahra menanyakan hal itu.
"Kalau kamu ngerasa dingin, nggak usah keramas dek. Keramas nanti saja pas sudah di rumah!"
"Gitu ya!"
Walaupun ragu tapi Zahra tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi,
Ia seperti tengah berpikir sesuatu,
"Apa kamu sudah bersenggama?" gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin, "Kalau menurut guru agama, setelah bersenggama kita wajib mandi besar kan, tapi kenapa mas ustad bilang nggak pa pa?"
Sekali lagi Zahra menatap pantulan dirinya di cermin sembari melepas pakaiannya.
"Tapi rambut mas ustad basah, dia pasti keramas kan?"
Hingga semua pakaiannya terlepas dari tubuhnya, Zahra masih setia di depan cermin.
"Tapi kan memang dia selalu keramas di pagi hari, itu bukan hal yang aneh!"
"Dari pada dosa, mending keramas aja deh, kan di sini ada air hangatnya!"
Setelah sekian lama berdebat dengan dirinya sendiri akhrinya Zahra benar-benar memutuskan untuk keramas.
Setelah menyudahi semua kegiatannya, ia segera keluar dari dalam kamar mandi, hanya memakai baju mandi, kebiasaan lupa itu Sepertinya sudah melekat di diri Zahra,
__ADS_1
"Dek, kenapa lama sekali di kamar mandinya, nanti nggak keburu sholat jama'ah nya!" ucap suatad Zaki tanpa menoleh pada wanita yang telah resmi ia nikahi itu saat mendengar pintu kamar mandi terbuka dari dalam.
"Iya, aku kan lupa nggak bawa baju ke kamar mandi!"
Entah dorongan dari mana, membuat kepala ustad Zaki reflek menoleh pada sang istri,
Astaghfirullah hal azim ...
Dengan cepat ustad Zaki kembali mengalihkan tatapannya, ia tidak mau pagi ini sampai mandi dua kali.
"Ya udah, mas tunggu di depan ya! Kamu segera pakek baju!"
"Hmmm!"
Ustad Zaki memilih jalur aman, ia segera keluar kamar dan menunggunya di samping pintu lift.
Hanya dalam hitungan menit, Zahra sudah menyusulnya keluar. Zahra bukan tipe cewek yang ribet yang jika akan kemana-mana selalu lama dandan, ia membiarkan wajahnya tetap polos tanpa make up.
"Sudah?" tanya ustad Zaki begitu Zahra sudah menghampirinya.
"Hmmm!"
"Nggak bawa mukena?"
"Kan biasanya di mushola selalu di sediain, ribet amet!" Zahra segera berjalan mendahului ustad Zaki begitu pintu lift terbuka. Ustad Zaki hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyusul masuk ke dalam lift.
"Jangan kemana-mana setelah selesai sholat, tunggu mas di sini!" seperti biasa ustad Zaki mewanti-wanti istri kecilnya sebelum meninggalkannya.
"Iya!" jawab Zahra asal lalu meninggalkan sang suami begitu saja, ia belum kehilangan wudhunya jadi langsung menuju ke tempat mukena sedangkan ustad Zaki, meskipun ia merasa belum batal wudhunya tetap saja menuju ke tempat wudhu untuk mengambil wudhu kembali.
Hingga sholat selesai, Zahra mealkuakn seperti apa yang di perintahkan sang suami, ia menunggu di tempat yang sama karena ia tahu suaminya pasti akan sedikit lama.
Hingga semua jama'ah hampir habis barulah ustad Zaki keluar,
"Dek, maaf ya buat dek Zahra nunggu lama!"
Zahra mendongakkan kepalanya dan mendengus kesal,
"Untung tampan, kalau enggak udah aku tinggal pergi!" ucapnya sambil berdiri dan mulai memakai sendalnya.
Ustad Zaki tersenyum melihat kelakuan sang istri yang berjalan meninggalkannya. Ia pun segera memakai sendalnya dan menyusul sang istri.
"Dek, sebenarnya mas mau ngajak jalan-jalan pagi sambil menikmati coklat hangat di depan hotel. Tapi kalau dek Zahra buru-buru, ya udah nggak jadi nggak pa pa!"
Mendengar ucapan ustad Zaki, Zahra pun segera menghentikan langkahnya.
Nggak boleh di batalin dong ...
__ADS_1
Zahra dengan cepat memutar tubuhnya,
"Zahra nggak keburu-buru!"
Ustad Zaki tersenyum dan berjalan mendekati sang istri, meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat,
"Ayo, anggap saja ini honeymoon kita yang tertunda!" ucapnya sambil berjalan sedangkan Zahra hanya bisa mengikuti langkahnya saja, ia tidak tahu akan di bawa kemana.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di sebuah restauran terbuka yang menyajikan pemandangan yang indah di pagi hari dengan hangatnya mentari serta berbagai menu yang memanjakan lidah pengunjung, saat mata harus udah mulai tinggi maka atap akan dengan otomatis menutup agar tidak terlalu panas, selain out door untuk pagi dan malam hari juga ada indoor untuk siang hari atau saat cuaca sedang tidak mendukung.
"Di sini atau mau di dalam?"
"Nggak pa pa memang kita sarapan di sini?" Zahra terlihat ragu, apalagi saat melihat orang-orang di sekeliling mereka, mereka terlihat berkelas.
"Ya nggak pa pa, tapi kalau dek Zahra nggak nyaman, kita bisa pindah ke tempat lain!"
"Nyaman aja, di sini. Pemandangannya juga bagus!"
"Baiklah, kita di sini ya!"
Mereka pun akhirnya memilih tempat duduk di outdoor, ustad Zaki melambaikan tangannya pada pelayang dan memilih beberapa menu untuk sarapan tidak lupa coklat hangatnya juga.
"Tolong coklat hangatnya di dulukan ya!" ucap ustad Zaki pada pelayan restauran itu.
"Baik!"
Dan benar saja, hanya selang beberapa menit coklat hangat pesanan ustad Zaki sudah datang. Zahra masih sibuk mengawasi sekitar dan rasanya sangat asing.
"Minumlah!" perintah ustad zaki saat coklat hangat ustad Zahra sudah datang.
"Hmmm!"
Zahra pun segera meneguk minumannya seperti yang di minta oleh ustad Zaki sambil menunggu makanannya datang.
"Ungkapkan cintamu, dan kita sama-sama tidak bisa membaca pikiran" @aidar.rofiqq
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1