
"Seneng bisa ketemu kalian di sini, benar-benar nggak nyangka!" ucap Bayu tampak senang, kemudian ia beralih menatap Zahra,
"Kenapa nggak bilang kalau mau jalan-jalan ke sini? Tahu gitu kan kita bisa barengan! Kamu nggak pengen tanya aku ke sini sama siapa?"
Tiba-tiba tangan Banyu terulur memegang tangan Zahra yang ada di atas meja, hal itu tidak luput dari perhatian ustad Zaki.
Zahra dengan cepat menarik tangannya saat ustad Zaki tengah memperhatikan hal itu.
"Bukan urusan kamu!" Zahra menjawabnya dengan ketus, saat ini bahkan nafsu makannya sudah menghilang karena keberadaan Bayu.
"Jadi kalian pacaran? Sudah berapa lama?" tanya ustad Zaki, Zahra benar-benar syok di buatnya.
"Mas, nggak gitu kenyataannya!" Zahra sedang berusaha untuk menjelaskannya.
"Aku nggak tanya sama kamu, aku tanya sama teman kamu!" jawab ustad Zaki dengan nada bicara yang datar, bahkan nada ini terasa lebih menakutkan dari pada harus berdiam di rumah sendirian pas malam-malam, seakan semua bulu kuduk Zahra berdiri semua. Nada bicara itu lebih dingin dari drakula penghisap darah, bahkan tanpa di hisap rasanya darah Zahra sudah mengering, wajahnya seketika pucat pasi karena ketakutan.
"Zahra, kamu nggak bisa menutupi terus dari keluargamu kan?" Bayu kembali menoleh pada Zahra, membuat Zahra memelototkan matanya, ingin sekali menepuk Bayu sampai pipih seperti nyamuk.
Dia benar-benar nggak ngerti ...
Bayu malah tersenyum santai, ia kembali.menoleh pada ustad Zaki karena kebetulan posisi Bayu saat ini berada di antara Zahra dan ustad Zaki.
"Sebenarnya kami sudah berpacaran selama dua tahun, ya memang sih akhir-akhir ini hubungan kita tidak baik apalagi setelah bapaknya Zahra jatuh sakit, kami jadi jarang berkomunikasi, Zahra jarang membalas pesan dariku, dia juga tidak pernah mengangkat telponnya meskipun selalu on. Apalagi Zahra juga berusaha memutuskan hubungan kami, aku yakin itu tidak sungguh-sungguh. Aku senang akhirnya ada saudara Zahra yang mau mendengarkan kisah kami!" Bayu benar-benar berbicara tanpa rasa bersalah karena memang ia tidak mengerti hubungan sesungguhnya dua orang yang berada di depannya itu.
"Jadi sejak kapan Zahra memutuskan hubungan kalian?" tanya ustad Zaki lagi membuat Zahra semakin tidak karuan, bahkan saat ini keringatkan keluar semua meskipun berada di ruang ber AC,
__ADS_1
"Kalau tidak salah sekitar satu atau dua Minggu yang lalu!" jawab Bayu tampak berpikir, ia lupa tepatnya.
"Jadi baru satu atau dua Minggu yang lalu ya?" tanya ustad Zaki lagi kali ini menatap Zahra, padahal pernikahan mereka sudah berjalan satu bulan lebih.
"Bagaimana? Apa kamu bisa jelaskan sekarang?"
Kata 'kamu' terdengar begitu kaku di telinga Zahra, ia tidak suka ustad Zaki memanggilnya seperti itu. Zahra merasa kecewa dengan panggilan itu, rasanya begitu aneh.
"Mas_!" rasanya sakit tapi pasti ustad Zaki lebih sakit mengetahui hal itu.
"Maaf, kami harus segera pergi. Kamu tidak pa pa kan sendiri di sini?" ucap ustad Zaki lagi pada Bayu.
"Kenapa buru-buru sekali, padahal aku masih ingin bicara banyak pada mas Zaki."
"Lain waktu saja!" ustad Zaki sudah berdiri, dan begitu juga dengan Zahra yang hanya bisa pasrah.
Ustad Zaki mengerutkan keningnya masih dengan tanpa ekspresi,
"Tolong bujuk Zahra ya, agar dia mau menerima aku lagi!" ucap Bayu,
"Assalamualaikum!" hanya sebuah salam yang menjadi jawabannya kemudian ustad Zaki benar-benar berlalu.
"Waalaikum salam!" jawab Bayu pasrah apalagi saat melihat Zahra yang juga ikut pergi dengan pria yang ia kira itu saudara Zahra.
"Hehhh, mungkin lain kali aku akan bicara sama mas Zaki." ucap Bayu begitu yakin.
__ADS_1
Ustad Zaki masih berjalan cepat hingga membuat Zahra sedikit berlari untuk mengejar langkahnya.
"Mas, Zahra bisa jelasin!"
"Jelaskan nanti saja, kita ke masjid dulu!"
Mereka pun akhirnya keluar dari pusat perbelanjaan dan menuju mobil yang terparkir.
Setelah memasukkan semua belanjaan, mereka pun masuk ke dalam mobil.
Ustad Zaki memacu kendaraannya, mencari masjid terdekat karena sudah mulai terdengar azan ashar, padah rencananya hari ini ia ingin sholat di mushola mal saja dan kembali mengajak Zahra jalan-jalan tapi ternyata semuanya tidak sesuai rencana saat Bayu tiba-tiba datang.
Dia lebih menakutkan dari pada manusia serigala ..., batin Zahra sambil sesekali menatap ke arah suaminya yang sama sekali tidak menoleh padanya, bahkan senyum ramah biasanya tidak muncul dari bibirnya.
Memang harus ya semarah itu? Aku kan sudah memutuskan hubunganku dengan Bayu, apa itu kurang?
Zahra masih terus saja berbicara sendiri dalam hati karena kini mulutnya bahkan begitu sulit untuk di gerakkan.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah masjid, dan ustad Zaki pun segera memarkirkan mobilnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...