Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Masalah Serius


__ADS_3

Mereka pun akhirnya memutuskan untuk benar-benar keluar dari kafe, tapi tetap Zahra masih merasakan ada hal yang janggal di sini.


"Lain kali kalau nggak ada uang nggak usaha ngajak nongkrong deh mas, apalagi tadi pakek traktir Bayu segala lagi. Kan malu sama temennya mas ustad, mikir apa.coba dia nanti!" gerutu Zahra sepanjang jalan dan ustad Zaki hanya tersenyum mendengar Omelan istrinya,


Dia sudah kayak istri-istri orang, suka sekali mengomeli suami ....


Tapi bukan rasa kesal yang muncul, rasanya sebegitu senangnya hingga ia tidak bisa berhenti tersenyum meskipun Zahra terus saja mengomelinya.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan rumah, tapi ada yang aneh di sini, dari kejauhan terlihat Amir tengah mondar-mandir di depan rumah, ia sepertinya tengah memanggil pemilik rumah dan sesekali mengintip dari balik jendela kaca.


Tapi terlihat wajah leganya setelah melihat kedatangan mereka, dengan cepat Amir berlari menghampiri mereka meskipun motor belum benar-benar berhenti.


"Gawat ustad, gawat ...!"


Ustad Zaki dan Zahra pun segera turun dari motornya, Amir masih memegangi dadanya yang terlihat naik turun, sepertinya ia baru saja berlari untuk datang ke rumah mereka.


"Assalamualaikum Amir!" sapa ustad Zaki agar Amir sedikit lebih tenang.


"Waalaikum salam, ustad!"


"Tenang dulu Mir, ayo duduk dulu!"


"Nggak ada waktu ustad!"


"Duduk dulu!" ustad Zaki pun segera menggiring tubuh amir.mengajaknya duduk di teras rumah mereka, Zahra pun juga mengikuti di belakang mereka.


"Dek, minta tolong ambilkan air untuk Amir ya!" perintah ustad Zaki pada Zahra dan zahra pun mengangukkan kepalanya, ia segera membuka pintu dan menuju ke dapur untuk mengambilkan segelas air putih.


"Minum mas!" ucapnya sambil mengulurkan segelas air putih pada Amir.


"Terimakasih, Zah!" Amir pun segera meneguk minumannya setelah mengucapkan basmallah hingga air itu benar-benar tidak tersisa.


"Ada apa?" tanya ustad Zaki setelah melihat Amir sudah tenang.


"Gawat ustad, ini sungguh gawat!"


"Iya, tapi gawat apanya?"


"Imah, ustad! Imah!"


Zahra segera berkacak pinggang mendengar nama Imah di sebut,


"Kenapa mas Amir cari mas ustad ngomongin soal Imah, sana cari bapaknya!"


"Dek," dengan cepat ustad Zaki menggengam tangan Zahra agar istrinya itu sedikit lebih tenang.


"Lanjutkan Mir!?" perintah ustad Zaki lagi saat melihat Zahra sudah bisa tenang walaupun sedikit terdengar gerutuannya.


"Tadi kyai Rosyid tiba-tiba datang marah-marah dan minta kita ke rumahnya!"


"Marah-marah?" tanya ustad Zaki dan Zahra bersamaan. Zahra segera menoleh pada sang suami.


"Mas punya masalah apa sama mereka?" tanyanya dan ustad Zaki hanya menggelengkan kepalanya.


"Kyai Rosyid marah-marah karena apa Mir?"


"Nggak tahu, pokoknya salah satu dari kita di minta tanggung jawab sama Imah!"


Ustad Zaki tampak berpikir, selama ini ia merasa tidak punya masalah dengan keluarga kyai Rosyid apalagi dengan Imah, selama ini hubungan mereka baik-baik saja sebagai rekan mengajar.

__ADS_1


"Baiklah, nanti ba'dha magrib kita ke sana!"


"Kenapa nggak sekarang saja sih ustad, aku sudah nggak sabar pengen tahu apa masalahnya!"


"Sabar, nanti aku akan menjemput kamu!"


"Baiklah ustad, kalau begitu aku pulang dulu ya!"


"Iya!"


Amir puj akhirnya beranjak dari duduknya dan mengucapkan salam, meninggalkan rumah mereka.


Zahra sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, ustad Zaki segera menyusulnya.


"Dek," panggilnya saat Zahra tengah menyiapkan baju ganti untuk suaminya, ia tahu sebentar lagi jadwal suaminya mengajar.


"Mas ada hubungan apa sama mbak Imah?" tanya Zahra sambil sedikit membanting baju yang ada di tangannya ke tempat tidur.


Pertanyaan Zahra tentu berhasil membuat ustad Zaki terkejut,


"Dek, maksudnya apa?"


"Kenapa sampai kyai Rosyid minta mas tanggung jawab kalau kalian nggak ada hubungan?"


Ustad Zaki benar-benar frustasi, ia segera menarik.kedua habis Zahra,


"Astaghfirullah hal azim dek, mas sungguh nggak ada hubungan apa-apa dengan dek Imah, percaya sama mas. Mas juga belum tahu apa masalahnya, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak dulu ya!"


Srekkkk


Ustad Zaki segera menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Baiklah, mas mandi dulu ya!"


Zahra pun hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah, meskipun kini hatinya tengah was-was dengan segala kemungkinan yang terjadi.


***


Ustad Zaki sudah tampak rapi dengan baju Koko dan sarungnya,


"Dek, mas nanti langsung ke rumah kyai Rosyid. Nanti Bu Marni yang akan menemani dek Zahra, nggak pa pa ya!" ucapnya saat zahra hendak mengulurkan tangannya.


"Iya!" ucap Zahra pasrah, tapi ustad Zaki tidak segera meraih tangan zahra ia malah mengerutkan keningnya. "Ada apa mas?"


"Lupa ya?"


"Apanya?"


Srekkkk


Ustad Zaki meraih pinggang Zahra dengan satu lengannya hingga kini tubuh mereka begitu dekat,


"Jangan pura-pura lupa!"


Zahra mendongakkan kepalanya agar bisa mencapai wajah sang suami,


"Apa?"


Cup

__ADS_1


Tiba-tiba bibir ustad Zaki sudah menempel di bibirnya hingga membuat Zahra terkejut dibuatnya. Ustad Zaki segera magutkan bibir mereka.


"Sudah mas bilang kan, mas akan menagih ini setiap hari!" ucapnya setelah pagutan bibir mereka terlepas dan mengusap bibir basah Zahra membuat Zahra tersenyum.


Cup


Sekali lagi sebuah kecupan mendarat di kening Zahra,


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" jawab Zahra yang masih terdiam di tempatnya melihat kepergian sang suami.


***


Tepat ba'dha magrib, seperti yang di janjikan ustad Zaki, ia pun mengajak Amir untuk pergi ke rumah kyai Rosyid.


Ternyata kedatangan mereka memang sudah di tunggu-tunggu, bukan hanya kyai Rosyid saja yang datang di sana tapi juga beberapa perangkat desa seperti ketua RT dan RW,


"Assalamualaikum!" sapa ustad Zaki dan semua yang ada di ruangan itu segera menjawab salam ustad Zaki.


"Waalaikum salam!"


"Alhamdulillah, akhirnya ustad punya nyali juga datang ke sini!" sambut kyai Rosyid yang masih tampak menahan amarah tapi sang istri segera menenangkannya.


"Ada apa ya kyai?" ustad Zaki dan Amir masih tampak bingung dengan yang terjadi sebenarnya.


"Sebaiknya biarkan mas Amir dan ustad Zaki duduk dulu, kyai!" beruntung salah satu perangkat desa menengahi.


"Baiklah, silahkan duduk!"


Akhrinya ustad Zaki dan Amir hanya bisa pasrah, ia segera duduk. Mereka duduk seperti tersangka, semua mata menyorot padanya, sesekali ustad Zaki mengedarkan pandangannya, mencari sosok Imah yang akan menjadi fokus pembicaraan mereka kali ini.


"Jadi sebenarnya ini ada apa, kyai? Sungguh kami tidak tahu."


"Diminum dulu ustad!" istri kyai menghentikan pembicaraan mereka dengan menyuguhkan dua gelas teh hangat untuk ustad Zaki dan Amir, sedangkan yang lainnya sudah menghadap gelasnya masing-masing.


"Terimakasih, bi!" ucap ustad Zaki tapi ia kembali fokus pada kyai Rosyid yang tampak berapi-api.


"Ini mengenai Imah, putri saya satu-satunya!"


"Iya kyai, Imah kenapa? Insyaallah kalau saya dan Amir bisa bantu, kami akan membantu!"


"IMAH HAMIL!"


Dua kata itu berhasil membuat ustad Zaki dan Amir benar-benar dibuat terkejut, pasalnya seluruh kampung tahu jika Imah belum bersuami.


"Hamil, kyai?" tanya Amir yang sedari tadi hanya diam kini mulai buka suara.


"Iya!"


"Bukankah Imah belum menikah, atau kami yang tidak tahu jika Imah sudah menikah?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2