Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 11


__ADS_3

Beberapa masang mata tampak mengawasi keberadaan mereka, penampilan ustad Zaki tentu berbeda dengan penampilan biasanya, kali ini ia tengah memakai celana training warna hitam panjang lengkap dengan kaos dan kali ini untuk menutupi kepalanya buka lagi peci melainkan sebuah topi yang ia balik hingga bagian depan berada di belakang.


"Masyaallah ustad Zaki, akhirnya ustad datang juga." suara itu langsung mengalihkan perhatian Zahra dari beberapa pasang mata yang mengawasi mereka, itu ibu kader posyandu tengah menghampiri mereka.


"Iya Bu, Alhamdulillah hari ini tidak sibuk jadi bisa menemani istri." ucap ustad Zaki dengan senyum menawannya.


"Baiklah, kayaknya mbak Zahra peserta terakhir yang datang. Jadi bisa di mulai sekarang kan ustad?"


"Iya Bu kader, Monggo."


Kader posyandu pun akhirnya meninggalkan mereka, Zahra sudah memasang wajah cemberutnya berbeda dengan ustad Zaki yang terus menebar senyum kepada ibu-ibu di sekeliling mereka.


"Mas," ucap Zahra sambil menakup wajah ustad Zaki agar fokus ke arahnya.


"Iya, dek."


"Senyum aja terus." protesnya.


"Bagaimana lagi dek, mas ini murah senyum. Dan lagi, senyum itu sebagian dari ibadah loh."


Baru saja Zahra hendak protes lagi, instruktur senam pun memberi instruksi untuk memulai senam. Zahra dan ustad zaki susah bersiap di atas matras begitu juga dengan peserta senam yang lain.


"Kita mulai ya, mulai dari hitungan pertama sampai delapan. Satu, dua, tiga, empat, ...,"


"Tangan di angkat, kaki lurus. Tangan suami memegang perut istri, tahan nafas lepaskan perlahan, pindah posisi, satu, dua, tiga, ...."


Meskipun tengah mengikuti instruksi dari instruktur senam, tapi mata Zahra terus tertuju pada ibu-ibu yang terus menatap ke arah suaminya membuat Zahra kesal. Ia benar-benar tidak suka saat suaminya menjadi pusat perhatian wanita lain.


Bikin kesel, lagian ngapain sih mas ustad pakek punya acara ke sini segala,


"Dek, itu loh, suruh bekuk kakinya." ucap ustad Zaki memperingatkan sang istri.


Bukanya mengiyakan, Zahra malah mengerucutkan bibirnya. Hingga akhrinya ia punya ide,


"Mas, tas Zahra tadi di mana?"


"Itu ada, di pojok. Mau mas ambilkan?"


Zahra pun menganggukkan kepalanya, dan ustad Zaki pun tanpa membuang waktu segera mengambilkan tas itu untuk Zahra,


"Dek Zahra haus?" tanyanya sambil mengulurkan tas pada sang istri.


Tapi bukanya menjawab pertanyaan sang suami, Zahra malah sibuk mengambil sesuatu dari dalam tas hitam besar itu, ternyata ia mengambil sebuah masker.


"Mas, pakek ini ya."

__ADS_1


"Mas nggak flu loh dek."


"Memang kalau pakek masker harus flu dulu?"


"Ya enggak, tapi harus ada alasannya." ustad Zaki terus saja mendebatnya.


"Biar senyumnya mas ustad nggak di lihat sama cewek-cewek, Zahra nggak suka."


Mendengar ucapan jujur dari Zahra, ustad Zaki pun tersenyum dan kali ini ia tidak protes lagi,


"Makasih sayang." ucap ustad Zaki sambil memakai maskernya, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Zahra,


"Pengen cium sekarang, boleh nggak ya."


"Astaghfirullah hal azim." Zahra berucap kencang hingga membuat orang-orang di sebelahnya menoleh padanya.


"Mesum ih," ucap Zahra lirih setelah itu sambil tersenyum kikuk.


"Tapi dek Zahra masih hutang penjelasan loh buat mas." bisik ustad Zaki lagi sebelum kembali ke posisi yang di instruksi kan instruktur senam.


***


"Laper banget ya?" ustad Zaki hanya menatap sang istri yang begitu lahap memakan bakso, bahkan miliknya pun sudah di habiskan oleh sang istri.


"Banget, orang hamil malah di suruh olah raga kayak gitu. Ya laper lah."


"Nggak deh, Zahra sudah kenyang."


"Beneran?"


"Iya, aku cuma pengen pentolnya aja nggak pa pa kan mas?" tanya Zahra sambil menunjuk tumpukan pentol yang masih hangat di dalam dandang bakso.


"Katanya kenyang?"


"Jadi nggak boleh?" tiba-tiba bibir Zahra cemberut.


"Boleh kok dek, baiklah biar mas ambilkan, mau berapa butir?"


"Sepuluh?"


"Yakin habis?"


"Kan ada mas." ucap Zahra dengan santainya.


Dan benar saja, persis seperti firasat ustad Zaki , ternyata Zahra hanya memakan dua butir dan delapan sisanya ustad Zaki yang harus memakannya.

__ADS_1


Setelah borong bakso, mereka pun lanjut pulang.


Sesampai di rumah, ustad Zaki langsung meminta Zahra untuk istirahat dan menselonjorkan kakinya, ustad Zaki Dengan sigap menyiapkan susu untuk Zahra.


"Kan Zahra sudah kenyang, masak masih harus minum susu sih."


"Kalau begitu mas taruh di meja ya, dek Zahra minum nanti. Mas mandi dulu, nggak pa pa kan?"


Zahra pun mengangukkan kepalanya, setelah memastikan Zahra dalam posisi yang nyaman ustad Zaki pun akhirnya pergi ke kamar mandi karena sebentar lagi akan tiba waktu zhuhur.


Setelah sang suami meninggalkannya, Zahra pun teringat jika sedari pagi tidak memeriksa ponselnya. Ia pun mencari tas hitamnya yang berada di lantai dan mengambil benda pipih itu.


Ternyata begitu banyak pesan masuk dari Nur, sahabatnya itu hari ini pulang karena besok libur akhir pekan.


Jari jemari Zahra begitu lincah mengetikkan pesan untuk sahabatnya itu.


Zahra


//Sore ini ketemuan yuk, aku pengen makan batagor yang ada di depan masjid//


Nur


//Nggak usah deh, mending aku belikan trus aku ke rumah kamu aja ya//


Zahra


//Nggak mau, aku pengen makan di tempat//


Nur


//Dasar keras kepala😏//


Zahra


//Biarin, awas ya kalau nggak datang, aku tonjok kamu//


Akhrinya Zahra mengakhiri pesannya, ia meletakkan begitu saja ponselnya dan segera menyusul sang suami, sekarang saatnya membujuk sang suami agar ia setuju.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2