
Sepeninggal ustad Zaki, Zahra tampak kembali bingung. Ia ingin keluar kamar, tapi ia tidak tahu harus melakukan apa nanti, harus menyapa bagaimana dengan wanita yang berstatus sebagai mertuanya itu.
"Aku harus apa?" gumamnya pelan, tangannya sedari tadi tampak meraih handle pintu, tapi lagi-lagi ia urungkan, "Tapi aku lapar, mau sampai kapan di sini?"
Akhirnya setelah melaksanakan sholat magrib, Zahra benar-benar tidak tahan ingin keluar.
Ya ampun, mana dia di dapur lagi , Zahra benar-benar bukan gadis yang suka di dapur, dengan langkah bimbangnya ia akhirnya memutuskan untuk ke dapur, semuanya sudah kepalang tanggung. Ia jadi ingat dengan uang belanjaan yang di berikan oleh ustad Zaki, seharusnya ia sudah membeli sesuatu untuk mengisi dapurnya.
"Masak apa umi?" tanya Zahra dengan tangan yang terus meremas ujung kaos oblongnya, ia tidak tahu apa pembuka percapakan yang tepat untuk mengawali semuanya.
"Ehhh, Zahra. Sini sayang, ini umi lagi masak sambal pindang kesukaan Zaki, kamu suka tidak?"
"Ehmmm, suka umi!" jawab Zahra dengan begitu salah tingkah, ia segera mendekat dan melihat apa yang di sajikan di atas piring besar itu.
Wanita itu pun segera mengambil sendok, dan mengambilkan sedikit untuk Zahra, "Dicicipi ya!" ia menyiapkannya pada Zahra.
"Biar Zahra sendiri, umi!" Zahra berusaha untuk menolaknya.
"Enggak sayang, umi mau nyuapin kamu!"
"Baiklah, umi!"
"Gimana? Enak?"
"Enak umi!"
"Mau lagi?"
"Hmmm!" Zahra menganggukkan kepalanya cepat Dan umi pun kembali menyuapkan ke Zahra beberapa kali.
"Umi seneng kalau kamu suka, soalnya Zaki itu juga paling suka sama sambal pindang. Kalau sudah ketemu sambel pindang, nggak selesai-selesai makannya!"
"Soalnya masakan umi enak banget!"
"Ihhh pinter banget muji umi!"
"Bukan muji umi, tapi memang kenyataanya."
Terlihat umi mulai mengambil nasi, dan Zahra pun segera memintanya, "Biar Zahra aja umi!"
"Beneran nggak pa pa?"
"Nggak pa pa, umi!"
"Ya sudah, sekalian kamu tata meja makannya ya, sebentar lagi Abi dan Zaki pasti pulang, kita makan malam bersama!"
"Iya umi!"
Ternyata apa yang di takutkan oleh Zahra tidak terjadi, gambaran ibu mertua yang galak tidak terdapat pada umi ya ustad Zaki.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" tepat saat Zahra dan umi selesai menyiapkan makan malam, Abi dan Zaki kembali dari masjid.
"Waalaikum salam!" jawab umi dan Zahra bersamaan.
"Wahhhh, masak apa umi?"
"Ini masak makanan kesukaan kamu, sama abi juga. Untuk Abi sengaja umi buat oseng pare."
Ustad Zaki pun menatap Zahra yang sibuk membukakan piring untuk Abi dan dirinya, ia bisa melihat senyum di bibir Zahra.
Segera tangan Zahra di tahan oleh ustad Zaki saat hendak mengambilkan nasi untuknya seperti yang di lakukan oleh umi pada Abi,
"Biar mas sendiri, duduklah!"
"Tapi_!"
"Duduklah!"
Akhirnya Zahra pun duduk dan mereka pun mulai makan bersama,
"Umi senang bisa melihat Zahra. Kalau sudah begini, umi bisa tengang kembali ke Bandung!"
"Bandung?" Zahra menoleh pada ustad Zaki, ia baru tahu jika ustad Zaki ternyata orang Bandung.
"Maaf, mas belum cerita sama kamu." Ustad Zaki segera tahu dengan maksud tatapan Zahra. "Jadi Abi sama umi tinggal di Bandung, ada pesantren yang harus mereka urus di sana!"
Bukankah itu terlalu jauh? Zahra tidak menyangka akan menikah dengan orang yang begitu jauh asalnya,
"Kenapa Blitar?" pertanyaan Zahra langsung mendapat tatapan bingung dari ketiganya, tapi tidak lama karena ustad Zaki segera menggenggam tangannya.
"Karena aku sudah jatuh cinta sama Blitar, jatuh cinta sama orangnya juga!" ucapnya sambil menatap Zahra dengan tatapan yang membuat Zahra benar-benar dibuat terkesima.
"Ya Allah, anak umi ternyata sudah pandai gombal ya!"
"Iya, kan kayak masa muda Abi!"
Seketika ucapan Abi berhasil membuat suasana menjadi cair, semua tertawa.
"Oh iya, Zak! Besok anter Abi sama umi ke rumah orang tua Zahra!"
"Insyaallah Abi, Zaki akan antar."
"Ya sudah kalian istirahat saja, biar umi yang bereskan semuanya!" ucap umi saat Zahra hendak mengambil piring kotor di atas meja,
"Biar Zahra aja, umi. Kan umi sama Abi yang habis perjalanan jauh, pasti capek. Biar Zahra aja ya umi, umi sama Abi istirahat saja!"
"Ya udah kalau kamu maksa, umi sama Abi ke kamar dulu ya!"
"Iya umi!"
__ADS_1
Akhirnya umi pun menyusul Abi yang sudah masuk ke dalam kamar lebih dulu.
Kamar ....
Zahra baru sadar jika ada kamar lain di rumah itu, selama ini ia telah dibohongi oleh ustad Zaki.
"Dasar pembohong, bilang aja mau tidur satu kamar sama aku. Tapi memang aku sih yang bodoh, mudah banget percaya sama ustad mesum itu!" Zahra terus saja menggerutu sambil membereskan meja makan.
"Kenapa sih, kok cemberut gitu. Kan cantiknya jadi ilang!" ustad Zaki ternyata sedari tadi memperhatikan Zahra.
Srekkkk
Tiba-tiba Zahra mengacungkan centong sayur pada ustad Zaki,
"Dasar ustad mesum, bisa-bisanya bohongin anak SMA."
"Hahhhhh?"
"Katanya kamarnya cuma satu, ternyata Abi sama umi tidur di kamar satunya!"
"Sengaja, biar kamu nggak minta tidur terpisah."
"Kok gitu sih!?"
Srekkkk
Tiba-tiba ustad Zaki mengungkung tubuh Zahra diantara tubuhnya dan meja dapur membuat Zahra terpaku dibuatnya,
Ya ampun, dia kenapa semakin hari semakin tampan aja sih? Jantungku ini gimana? Gimana kalau dia sampai dengar suara jantungku?
Ternyata ustad Zaki juga merasakan hal yang sama, ia seakan tidak bisa beralih menatap Zahra,
"Kamu kan istriku, sudah halal tidur satu kamar, kenapa harus terpisah!"
"Apaan sih, minggir aku mau cuci piring!" Zahra segera berpaling dan berusaha melepaskan diri dari ustad Zaki.
Perlahan ustad Zaki pun melepaskan tubuh Zahra,
"Biar aku bantu!" ustad Zaki segara mengambil spon cuci piring dan mulai mencuci piring.
"Aku ngapain sekarang?"
"Duduk saja di situ dan temani aku!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰