Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Cincin tanda cinta


__ADS_3

"Aduhhhh, sudah pinter gombal ya sekarang," ucap ustad Zaki sambil mencubit hidung sang istri.


"Loro mas." keluh Zahra sambil mengusap hidungnya yang memerah.


Ustad Zaki mengerutkan keningnya, "Loro, maksudnya dua?" tanyanya sambil mengacungkan dua jarinya.


"Loro, duduk loro mas, sakit ...!" keluh Zahra yang kadang suka sebel saat suaminya tidak begitu faham dengan beberapa bahasa Jawa, "Nih delapan hari di Bandung, sudah lupa lagi bahasa Jawa!"


"Ya nggak lah dek, masak delapan hari bisa ngalahin delapan tahun!? Mas becanda tadi!"


Zahra memilih tidak melanjutkan perdebatannya, ia kembali memeluk suaminya,


"Pengen cepet-cepet pulang!"


"Buat apa?" tanya ustad Zaki lagi, ia melihat ke arah cairan infus yang memang hampir habis.


Nggak peka men to jadi orang, bikin sebel ..., batin Zahra kesal.


"Ya pengen aja!" ucapnya kemudian, ia pun mendorong tubuh ustad Zaki agar bisa lepas dari pelukannya. "Nanti langsung pulang ke rumah kan, nggak ke rumah ibuk bapak?"


"Mampir ke sana dulu dek, kan aku nitipnya baik-baik masak ambil langsung ambil aja tanpa permisi!"


"Nitip apa?"


Ustad Zaki tersenyum, "Nitip hatiku!"


"Hahhh, Zahra nggak lihat hati mas di sana, apa mungkin di kulkas ya!" Zahra tiba-tiba jadi bodoh aja dengan kata-kata suaminya.


"Nggak ada dek, yang mas maksud kamu!"


"Ohhh, Zahra kirain ati beneran." ucap Zahra sambil tersenyum kikuk.


***


Kini ustad Zaki sudah berpamitan kepada kedua orang tua zahra, sembari menunggu Zahra berberas ia menyempatkan untuk mengobrol dengan Bu Narsih dan pak Warsi.


"Maaf ya buk, pak. Zaki nggak bawa oleh-oleh!"


"Nggak pa pa nak, kami tahu tadi pulangnya dadakan, Zahra sudah cerita sama ibuk!"


"Iya buk, Zaki panik tahu Zahra terluka."


"Zahra memang suka gitu nak Zaki, nggak usah kaget. Dulu pas kecil bahkan hampir setiap pulang sekolah ada saja yang terluka." ucap Bu Narsih menjelaskan.


Zahra yang di kamar tampak masih bingung dengan benda asing yang beberapa hari lalu ia beli,

__ADS_1


"Yahhh, aku kan belum tahu cara minumnya, udah pulang aja dia. Trus ini gimana? Atau buat jaga-jaga aku minum sekarang aja ya satu,"


Zahra memegangi pil kontrasepsi yang sempat ia beli beberapa waktu lalu.


"Tapi kalau tetap gini kemasannya, bisa-bisa mas ustad tahu kalau ini pil kontrasepsi."


Zahra pun kemudian melepas semua pil dari kemasannya dan memasukkannya ke dalam wadah vitamin yang sudah ia buang isinya. Tidak lupa ia juga memakan satu pil untuk pemula.


Setelah siap semua ia pun keluar dan mereka pun berpamitan untuk pulang.


"Kenapa tadi lama sekali dek?" tanya ustad Zaki saat mereka sudah berada di atas motor.


Zahra mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang sang suami,


"Ada deh, mau tahu aja atau mau tahu banget?"


"Bisa aja ya godain suami." ucap ustad Zaki sambil menurunkan tangan kirinya dari stang stir dan mengusap punggung tangan Zahra yang melingkar di perutnya.


Mereka akhirnya benar-benar meninggalkan rumah orang tuanya, terlihat sekali sepasang suami istri yang di landa rindu itu tengah tidak sabar untuk sampai di rumah.


Dan benar saja, sesampai di rumah, ustad Zaki segera mengunci kembali pintu rumahnya membuat Zahra terheran-heran oleh ulah sang suami,


"Mas, ngapain di kunci?" tanya Zahra sedangkan sekarang masih belum begitu malam, mungkin saja akan ada tamu yang datang.


"Ohhh ini, takut aja Amir akan bertamu malam-malam!"


Masih jam delapan malam ...


"Dek, tunggu di sini sebentar ya!" pinta ustad Zaki, ia meminta Zahra untuk duduk di sofa depan tv.


"Ngapain? Aku mau naruh ini di kamar!" ucapnya sambil menunjuk tas miliknya.


"Biar mas aja, tunggu bentar ya!" ustad Zaki pun mengambil kedua tas mereka dan membawanya ke kamar, ia tampak terburu-buru rupanya ia tengah membersihkan kamar mereka dan menyemprotkan wewangian ke seluruh sudut kamar, menyalakan lilin aroma terapi.


"Hahhh, akhirnya beres juga!" gumam ustad Zaki sambil menyillangkan kedua tangannya di depan dada, memastikan tidak ada yang terlewat, ia juga mengeluarkan beberapa tangkai bunga mawar yang ia simpan di dalam tasnya,


"Untung nggak hancur!" ucapnya lalu meletakkannya di atas tempat tidur dengan seprei berwarna putih yang tampak kontras dengan warna bunga mawar merah yang baru saja ia letakkan di atasnya.


Setelah memastikan semuanya beres, ia pun kembali keluar pastinya dengan penampilan yang juga sudah berubah. Ustad Zaki keluar dengan memakai jas hitam tampak begitu rapi membuat Zahra tercengang dibuatnya,


Subhanallah ...., kenapa ada pangeran yang datang ke sini? Zahra sampai berdiri dari duduknya dengan mulut yang membetuk o saking terkejutnya.


"Mas,"


Ustad Zaki berjalan perlahan mendekati sang istri dan tiba-tiba berlutut di depannya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya,

__ADS_1


"Dek, mungkin ini sedikit terlambat, tapi mas berharap tidak akan mengurangi maknanya,"


Zahra sampai tidak bisa berkata-kata lagi, ia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya,


"Dek, mungkin nanti akan banyak lagi kerikil yang akan mencoba membuat kita terkilir atau terluka dalam rumah tangga kita, tapi mas selalu berdoa sama Allah untuk tetap meneguhkan hati ini hanya untuk dek Zahra,"


Ustad Zaki pun mengeluarkan sebuah cincin dari kotak kecil berwarna hitam itu dan bersiap untuk memakaikannya pada Zahra, "Jadi terimalah cincin ini sebagai penanda bahwa kamulah satu-satunya yang akan menjadi ratu di hati mas!"


Zahra pun menurunkan tangannya dan mendekatkan jari-jarinya pada ustad Zaki, ustad Zaki pun mengusap sudut matanya yang mulai berair lalu mengenakan cincin itu di jari manis Zahra.


Setelah memakaikan cincin itu, ustad Zaki pun segera berdiri dan memeluk Zahra,


"Bagaimana? Apa dek Zahra suka?" tanyanya hingga membuat Zahra kembali melepas pelukannya,


Zahra mengamati cincin itu, memang terlihat sederhana dengan warna silver, permata satu di tengahnya sedikit lebih besar dan beberapa permata di sekelilingnya dengan ukuran lebih kecil,


"Bagus sihhh!" ucapnya membuat ustad Zaki mengerutkan keningnya,


"Kok sih? Dek Zahra nggak suka? Atau gini aja, bagaimana kalau besok kita pergi ke tokonya dan dek Zahra memilih sendiri." ustad Zaki memberi pendapat dan Zahra langsung mengibaskan tangannya.


"Bukan itu maksud Zahra!?"


"Lalu?"


"Tidak ada yang mau di kasih lainnya gitu?"


"Apa? Maksudnya kalung? Gelang? Mas nggak yakin kamu suka, makanya mas nggak beli sekalian, kalau dek Zahra suka, nanti mas belikan yang satu stel dengan cincin itu!"


"Bukan!?" sekali lagi Zahra mengibaskan tangannya tidak setuju.


"Trus apa dong?"


"Itu mas, yang hold atau yang hitam, kecil, tipis!" Zahra memberi isyarat dengan tangannya menggambarkan apa yang tengah ia harapkan akan di berikan oleh sang suami.



...Pye Ndak kangen dek, sliramu terlalu imut buatku, 😱...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2