
Siang ini pelanggan tidak begitu banyak, hanya ada beberapa yang datang biasanya akan kembali banyak saat jam-jam pulang kerja.
Zahra tampak santai memutar-mutar bolpoin yang ada di tangannya di atas meja kasir, sedangkan gadis yang ada di sampingnya tampak sibuk dengan berkas-berkas yang ada di tangannya.
"Mbak Des, boleh di bantu nggak?" tanya Zahra menawarkan diri.
"Nggak, jangan sekarang! Aku kebelet bab, nanti tunggu di sini sampai aku selesai bab ya, tapi aku selesaikan dulu berkasnya!"
"Biar aku bantu mbak, nyelesaiinnya."
"Nggak usah lah, takut salah aku."
Zahra hanya bisa mengerucutkan bibirnya, walaupun kata-katanya halus tapi itu sungguh meremehkan kemampuannya,
Kalau cuma gitu aja aku juga bisa ...., batinnya sambil sesekali melirik ke arah Desi.
"Akhirnya, selesai juga!" ucap Desi sambil meregangkan tubuhnya, mengangkat kedua tangannya ke atas, "Aduuhh!" keluhnya kemudian sambil memegangi perutnya, "Kebelet!"
Desi menoleh ke arah Zahra, dan dengan cepat menyerahkan berkas itu ke arah Zahra,
"Jaga ini ya, jangan kemana-mana, panggil aku kalau orang bank datang! Okey!?"
"Iya mbak!"
"Bagus!"
Dengan cepat Desi meninggalkan Zahra, ia berlari menuju ke toilet untuk buang air besar.
Baru saja Desi masuk, tiba-tiba dua orang dengan pakaian rapi masuk ke dalam kedai.
Zahra terlihat ragu antara menghampiri kedua orang itu atau tetap menjaga berkas itu,
"Ya udah aku bawa aja deh!?" gumam Zahra, ia pun berjalan cepat menghampiri dua orang itu sambil membawa list pesanan dan tangan kirinya membawa berkas yang di titipkan oleh Desi tadi,
"Selamat siang, mau pesan apa? Silahkan isi di sini ya!" ucap Zahra sambil menyerahkan bolpoin dan secarik kertas yang berisi daftar menu.
Pria dengan jas hitam itu malah tampak menatap Zahra dengan wajah yang berkerut,
"Kamu pegawai baru ya?"
"Hahhh?" Zahra bingung, apa aku sangat terlihat kalau belum berpengalaman, batin Zahra.
"Iya pak, saya anak magang di sini!"
"Ohhh, anak magang kok sudah di serahi kepercayaan sebesar itu?!"
"Hahhhh?" sekali lagi Zahra tampak bingung.
__ADS_1
"Itu!?" ucap pria itu sambil menunjuk berkas yang ada di tangan kiri Zahra.
"Ini?"
"Iya, itu. Itu berkas yang akan di serahkan pada kami kan?"
Jadi mereka pihak bang, tadi mbak Desi ngomong apa ya? Di serahkan ke pihak bang atau suruh panggil dia kalau pihak bank datang? batin Zahra bimbang.
"Sini, biar aku periksa!" ucap pria itu lagi dan Zahra tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan berkas itu.
"Duduklah!?" perintah pria itu setelah Zahra menyerahkan berkas di tangannya.
"Hahh?" sekali lagi Zahra terkejut.
"Duduklah!"
Zahra pun menggeser tempat kosong di sana, ia duduk di sana.
Aku kalau di tanya jawab apa ya ...., Zahra takut jika sampai salah jawab.
Tampak pria satunya sibuk dengan berkas yang ia bawa dari luar dan satunya lagi memilih memeriksa berkas yang baru saja di serahkan oleh Zahra.
"Pak Zaki memang tidak di tempat ya?" tanya pria itu,
Kenapa dia nanyain mas ustad, ohhh mungkin mereka tahu kalau aku istrinya mas ustad dan mereka temannya mas ustad.
"Iya ini sudah satu Minggu mas ustad di Bandung," ucap Zahra dengan pasti.
Tanda tangan? Kenapa mas ustad harus tanda tangan segala .,..
"Bagaimana? Tidak mungkin kan anak magang yang menggantikan tanda tangannya? Oh iya saya dengar ustad Zaki sudah menikah, apa mungkin istrinya ada?" tanyanya lagi sambil mengamati berkas itu.
"Hahhhh?" Zahra semakin terkejut, ia sampai tidak bisa menutup mulutnya karena hal itu.
Ini apa-apaan maksudnya?
"Di sini dituliskan namanya Anindira Zahra Fauziyah!"
"Itu saya pak!" ucap Zahra dengan begitu percaya dirinya, tapi langsung mendapat tatapan tidak percaya dari kedua pria berpakaian rapi itu.
"Jangan becanda ya dek, kita ini serius loh!"
"Memang wajah saya tampak becanda apa, pak!?" ucap Zahra sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri, "Nih kalau nggak percaya, aku ambilin KTP aku,"
Zahra langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah dompet berwarna pink kecil,
Dari dompet itu ia mengeluarkan sebuah kartu tanda penduduk yang masih baru, "Nih pak, masih baru. Baru buat beberapa bulan yang lalu! Lihat kalau nggak percaya!"
__ADS_1
Salah satu pria itu pun mengambil KTP milik Zahra dan mencocokkan identitas di KTP itu dengan identitas yang tertera di berkas.
Mereka berdua pun akhirnya saling berpandangan,
"Nggak nyangka ternyata istri ustad Zaki lebih muda dari yang kita pikirkan!"
"Gimana? Sekarang percaya kan?" tanya Zahra sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Iya kami percaya!" ucap si pembaw aktp Zahra sambil menyerahkan kembali KTP Zahra, Zahra dengan cepat memasukkannya kembali ke dalam dompet.
"Sini, jadi di tanda tangani tidak!?" ucap Zahra setelah menyembunyikan kembali dompetnya.
"Iya, silahkan!"
"Di mana nih yang di tanda tangani?" tanya Zahra saat berkas itu sudah ada di depannya, pria itu pun menunjukkan satu per satu tempat yang harus Zahra tanda tangani.
Desi yang baru saja keluar dari kamar mandi begriu tercengang melihat Zahra sudah duduk bersama orang bank,
"Mati aku!?" keluhnya sambil menepuk keningnya, "Bagaimana nanti jelasinnya?"
"Kamu sih terlalu ceroboh!" ucap karyawan lainnya, ternyata beberaoa karyawan juga tengah fokus pada mereka tapi tidak ada yanga berani mendekati.
"Trus gimana dong?" Desi meminta pendapat yang lainnya.
"Lihat aja gimana nantinya, semoga aja Zahra nggak marah terus berantem sama ustad Zaki!"
***
"Terimakasih atas kunjungannya!" ucap Zahra saat mengantar kepergian dia pria tadi.
Setelah memastikan kedua pria itu meninggalkan Keda, Zahra kembali masuk ia langsung menatap Desi dan karyawan lain yang memang terlihat berkumpul dengan tatapan meminta penjelasan.
"Kami bisa jelaskan! Iya kan teman-teman?" ucap Desi seolah memimpin yang lainnya karena ia merasa ialah yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi hari ini.
"ya harus, kalian harus menjelaskan padaku!"
Kini semua karyawan yang tidak bertugas pun akhirnya duduk di ruangan yang katanya adalah ruang owner kedai ini, dan Zahra tengah berdiri mengitari mereka.
Wahhh, wahhh, wahhhh, ini keren ..., rasanya kayak Bu bos beneran ...., batin Zahra, yang sebenarnya tengah menahan tawa melihat wajah-wajah tegang dari sekitar lima orang yang tengah berkumpul di depannya.
...Baik buruknya sebuah keadaan itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Seberat apapun masalahnya jika kita mau tetap tersenyum solusinya pasti juga akan lebih mudah...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...