Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Serangan preman


__ADS_3

"Dewean dek?" tanya seorang pemuda tiba-tiba menghampiri Zahra.


Zahra hanya tersenyum hambar, ia menggeser tubuhnya agak menjauh dari pemuda asing yang menghampirinya itu, tapi tetap saja pemuda itu kembali mendekat.


Nih orang cari gara-gara ya sama aku ....


Zahra mencoba untuk tidak mempedulikannya, ia memilih mengalihkan perhatiannya dengan memainkan ponselnya agar pemuda dengan bau menyengat dari tubuhnya itu segera meninggalkannya.


Tapi nyatanya pria itu malah ikut duduk di dekatnya, ini memang tempat umum. Tidak akan mungkin jika pemuda itu akan berbuat macam-macam padanya, banyak saksi mata yang akan melihat, tapi tetap saja hal itu membuatnya tidak nyaman, ia mencoba mencari-cari sosok ustad Zaki, tapi pria itu sudah berpindah dari kedai sate, entah kemana perginya hingga Zahra tidak lagi bisa menjangkau keberadaanya.


"Boleh ya ikut gabung?" tanya pemuda itu lagi membuat Zahra semakin was-was saja.


Kemana sih mas ustad, nggak balik-balik, batin Zahra sambil memperhatikan sekitar mencoba mencari sosok ustad Zaki di segala penjuru.


Zahra sudah merasa tidak nyaman saat pemuda itu bahkan menggeser duduk akan semakin dekat dengan zahra,


"Dek, boleh kenalan nggak?" lagi, pemuda itu kembali mengulurkan tangannya.


Zahra mencoba mencari alasan yang masuk akal untuk mengusir pria itu,


"Ngapunten, saya sudah punya suami!" ucapnya kemudian berharap pria itu akan segera meninggalkannya.


"Ckkk, siapa yang percaya." setelah berdecak, pemuda itu terlihat tersenyum meremehkan, "Anak kecil aja gaya banget, sombong! Nggak usah jual mahal deh!"


Tiba-tiba tangan pemuda itu terulur menowel dagu Zahra, dengan cepat Zahra menepis tangan pemuda itu,


"Jangan macam-macam ya! Kalau tidak saya teriak nih!" ancam Zahra.


"Wisss kasar juga kamu, padahal aku cuma mau kenalan, tapi kamu malah jual mahal."


"Sudah aku bilang ya, aku sudah punya suami!" ucap Zahra sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Yang sopan dong jadi anak, anak kemarin sore aja blagu! ayolah. Jangan jual mahal, aku tahu kamu biasanya nongkrong sama anak motor itu kan?" ucap pemuda yang memang usianya mungkin sekitar dua puluhan itu.


Zahra mengerutkan keningnya tidak percaya,


Dia tahu itu? Zahra menatap wajah pemuda itu,tetap saja ia merasa tidak kenal dengan pemuda yang sepertinya baru saja menenggak minuman haram itu, hingga membuat bicaranya ngaco.


Sekali lagi tangan pemuda itu hampir saja mengusap dagu Zahra, tapi tangan itu nyatanya melayang di udara saat Zahra mencoba menghindar karena seseorang telah mencengkeram lengannya,

__ADS_1


"Maaf, dia istri saya. Jadi jangan macam-macam!" ucap ustad Zaki yang tiba-tiba datang dengan tatapan tajam pada pemuda itu.


Beruntung ustad Zaki datang tepat waktu, Zahra dengan cepat menggeser tubuhnya mendekat ke arah ustad Zaki.


"Ckkk!?" tampak sekali pemuda itu kesal, tapi melihat lawannya yang jelas tidak seimbang, pemuda itu pun memilih pergi meninggalkan mereka.


Ustad Zaki segera menoleh ke arah Zahra yang sudah kembali duduk di tempatnya setelah memastikan semuanya aman.


"Dek, kamu tidak pa pa?" tanya ustad Zaki khawatir.


"Tidak!" jawab Zahra sambil kembali memainkan ponselnya. Terlihat sekali kali ini Zahra tengah menahan kesal, ia kesal karena ustad Zaki yang tidak kunjung datang tadi.


"Maafin mas ya, karena terlalu lama."


"Hmmm!?"


"Jangan marah ya!"


"Hmmm!"


"Sebenarnya tadi mas beli ini, mas khawatir kamu kehausan!"


Zahra kali ini mendongakkan kepalanya menatap apa yang tengah di bawa oleh ustad Zaki,


Zahra segera meraihnya, tidak bisa di pungkiri jika ia sempat khawatir jika ustad Zaki tidak datang tepat waktu. Ia juga tengah haus saat ini.


"Makasih!"


Ustad Zaki mengusap pipi Zahra, membuat Zahra terdiam dengan sedotan yang masih menempel di bibirnya,


"Aku sekali lagi minta maaf ya, insyaallah lain kali mas tidak akan meninggalkan kamu lagi."


"Lupakan, lagi pula aku sudah tidak pa pa!" sedikit minum rupanya juga mampu mengurangi kekesalan Zahra,


"Apa kamu kenal dengan pemuda tadi?"


Zahra dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia yakin tidak kenal dengan pemuda yang baru saja menghampirinya tadi.


Hingga akhirnya mereka memakan Sempol pesanannya yang sudah datang sedari tadi bahkan sebelum ustad Zaki kembali. Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang saja kerena malam juga sudah mulai larut.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan menuju ke motor mereka yang di parkir sedikit jauh, saat mereka datang tadi masih banyak motor di sekitar mereka tapi kini hanya tinggal beberapa motor dan tempat itu terlihat sepi serta sedikit gelap karena beberapa lampu sudah mulai dimatikan.


Jlekkkk


Hingga tiba-tiba sebuah tinjauan keras menghantam wajah ustad Zaki, karena tidak siap dengan serangan yang tiba-tiba itu membuat tubuh ustad Zaki terhuyung hingga membuat tautan tangannya dengan zahra terlepas.


"Mas_!" teriak Zahra kencang karena begitu terkejut, tapi belum sampai Zahra menghampiri ustad Zaki, sudah ada beberapa preman yang lebih dulu menghampiri ustad Zaki.


"Kamu ya yang sudah berani menantang adikku tadi?" tanya salah satu dari mereka, pria berambut gondrong sebahu serta lukisan tato memenuhi lengannya, beberapa temannya juga tidak jauh beda penampilannya. Mereka berjumlah empat orang siap untuk mengeroyok ustad Zaki.


"Jadi gara-gara gadis itu!?" ucap salah satu dari mereka lagi sambil menunjuk ke arah Zahra.


Tapi Zahra segera mundur saat dua orang dari mereka berjalan mendekati ke arah Zahra,


Ustad Zaki yang melihat hal itu segera mengusap bibirnya yang berdarah,


"Berhenti, jangan ganggu dia. Urusan kalian dengan saya, bukan dia!" ucap ustad Zaki yang sudah siap dengan kuda-kudanya.


Zahra malah berharap ustad Zaki akan mengajaknya berlari pergi saja menyelamatkan diri dari pada duel dengan keempat perman yang tubuhnya tidak seimbang dengan tubuh ustad Zaki.


"Ehhhh, beraninya di menantang kita. Pria bersarung gitu bisa apa!?" ucap salah satu dari mereka dengan tatapan meremehkan melihat penampilan ustad Zaki yang hanya memakai peci dan sarungnya.


"Mending sembunyi saja di rumah sambil ngaji, gaya-gayaan mau nantangin kita!"


Mereka tertawa meremehkan pada ustad Zaki, tapi ustad Zaki malah tampak tersenyum seperti biasanya.


"Saya nggak nantang kok mas, tapi kalau mas-mas mau duel, satu lawan satu akan saya layani, atau empat lawan satu sekalian? Monggo siapa dulu yang mau maju!"


"Wah, wah, dia benar-benar menantang kita. Belum tahu siapa kita!"


Mereka pun akhirnya maju satu per satu dan ustad Zaki berhasil menghalau serangannya hingga giliran yang ke empat. Karena ternyata kalah satu lawan satu, akhirnya mereka memutuskan untuk mengeroyok ustad Zaki. Satu dua kali pukulan sempat mendarat di wajah dan tubuh ustad Zaki tapi hal itu terlihat tidak mempengaruhi ustad Zaki.


Hanya dalam hitungan menit, ustad Zaki mampu mengalahkan keempat preman itu hingga membuat mereka berlarian kocar-kacir.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani4259


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2