Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Rencana apa?


__ADS_3

Akhrinya ketiga teman Bayu pergi juga, kini hanya menyisakan mereka bertiga,


"Ayo duduklah!"


Apa maksud mas ustad?


Zahra masih di buat bingung dengan apa yang terjadi, sedangkan saat ini ada Bayu dan ustad Zaki di tempat yang sama.


Pelayan kafe yang tadi menyapa ustad Zaki pun mengantarkan minuman pesanannya ke meja mereka,


Ustad Zaki melihat ke arah gelas Bayu yang sudah kosong,


"Tolong buatkan yang sama untuk dia ya!"


"Baik mas, tunggu sebentar ya!" pelayan itu pun kembali meninggalkan mereka.


"Tidak perlu repot-repot mas," Bayu tampak tidak enak dengan ustad Zaki.


"Nggak pa pa, hanya satu gelas!" ustad Zaki tersenyum dan menggenggam tangan Zahra dan membawanya ke atas meja.


Bayu mengerutkan keningnya melihat hal itu,


"Enak ya jadi masnya Zahra, bisa pegangan tangan sama Zahra." ucap Bayu merasa iri dengan apa yang di lakukan oleh ustadz Zaki pad Zahra.


Zahra pun berusaha untuk melepaskan genggaman tangan suaminya tapi tidak bisa, ustad Zaki malah tersenyum padanya membuat Zahra semakin takut saja,


Apa sebenarnya yang di rencanakan mas ustad, kenapa dia melakukan semua ini?


Zahra benar-benar tidak bisa duduk tenang.


"Memang kalian tidak pernah berpegangan tangan seperti ini?" tanya ustad Zaki sambil tersenyum pada Zahra kemudian beralih pada Bayu.


"Jarang banget mas, itu pun kalau pas Zahra lupa. Kalau inget mah langsung di hempas tangan Bayu!"


"Kalian belum pernah ciuman?" tanya ustad Zaki lagi, kali ini Zahra benar-benar tidak bisa menahan untuk bicara.


"Cukup mas!?"


Sekali lagi ustad Zaki tersenyum pada Zahra, tidak ada raut marah padanya,


"Mas kan cuma tanya sama Bayu, Bayu nggak keberatan kan jawabnya?"


"Enggak kok mas!" jawab Bayu tanpa curiga, "Santai aja Ra, lagi pula kita beneran nggak ngapa-ngapain kan. Aku tuh beneran cinta sama kamu jadi pastilah aku jaga kehormatan kamu!"


Tapi mendengar ucapan Bayu yang baru saja, tiba-tiba wajah ustad Zaki berubah dingin. Rasanya begitu tidak iklas mendengarnya, ia tidak suka ada pria lain yang mencintai istrinya.


Ustad Zaki segera melepaskan tangan Zahra, sepertinya Zahra juga menyadari perubahan suasana hati ustad Zaki.


"Bayu, sudah aku bilang kan kita sudah putus. Nggak usah lah bahas tentang perasaan!"

__ADS_1


"Tapi Ra, yang mutusin kan kamu sedangkan aku belum menerimanya! Aku janji aku akan buat kamu jatuh cinta lagi sama aku, aku pengen kita barengan seperti dulu, kemana aja, hangout bareng, nongkrong, bolos dan semuanya!"


"Jadi kalian sering bolos?" sepertinya Bayu kelepasan hingga ia lupa jika ada ustad Zaki.


"Maaf, iya mas. Baiklah kalau masalah bolos nggak akan aku ulangi lagi!"


"Tapi hari ini kamu bolos kan?"


Bayu tampak terdiam, ia bingung harus jawab apa, mau bohong tapi jelas sudah ketahuan,


"Iya mas, tapi kan hari ini tidak ada pelajaran, kalau hanya acara begituan nggak akan masuk nilai juga mas!"


"Tapi kamu muslim kan?" sepertinya ustad Zaki sengaja memberondong pertanyaan pada Bayu.


"I_iya sih mas, KTP saya muslim, orang tua saya juga muslim!"


"Kamu sholat?"


Bayu beralih menatap Zahra, ia seperti tengah menghadapi pertanyaan dari calon mertua.


"Ya kadang-kadang sih mas!"


"Kadang-kadang nya seperti apa?"


Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"Satu_, satu_!"


"Satu Minggu sekali pas sholat Jum'at?" tanya ustad Zaki lagi dan kembali Bayu menggelengkan kepalanya.


Ustad Zaki pun menoleh pada Zahra seperti tengah mengatakan sesuatu melalui sorot matanya,


"Jadi satu apa?"


"Satu tahun sekali mas, pas sholat hari raya. Itu kalau Bayu nggak kesiangan bangunnya!"


Astaghfirullah hal azim ...., ustad Zaki hanya bisa beristigfar dalam hati.


Hingga akhirnya minuman yang di pesan untuk Bayu pun datang,


"Minumlah!"


Dan Bayu pun segera meneguk minumannya hingga tersisa setengah, sepertinya ia benar-benar gugup kali ini. Memang wajah ustad Zaki tidak menyeramkan tapi bicara dengannya begitu menakutkan.


"Sepertinya sebentar lagi dhuhur, bagaimana kalau kita sholat berjamaah di mushola kafe ini!?" ajaknya pada Bayu dan sekali lagi Bayu meneguk minumannya hingga habis.


"Ehhhh, gini mas. Maaf banget, tapi kayaknya Bayu nggak bisa soalnya aku udah janji sama mama buat jemput dia sekarang!"


"Sekarang banget?"

__ADS_1


"Iya mas, lain kali aja ya. Terimakasih ya atas minumannya!" Bayu pun segera bangun dari duduknya tidak lupa ia menatap Zahra,


"Besok kita bicara di sekolah ya, aku pergi dulu!"


Akhirnya Bayu pun benar-benar pergi, di susul juga oleh ketiga temannya yang duduk di meja lainnya.


"Mas,"


"Mas sudah tahu apa yang ingin kamu tanyakan, tapi sebaiknya kita sholat dulu nanti mas akan katakan semuanya! Apa yang ingin dek Zahra ketahui!"


Zahra pun hanya bisa pasrah, ia pun mengikuti langkah suaminya menuju ke mushola kafe, memang tidak besar tapi cukup nyaman untuk sholat.


Walaupun ia sering menghabiskan waktu nongkrong di kafe ini, tapi Zahra tidak pernah tahu jika kafe itu ada musholanya. Rupanya sudah cukup lama ia lalai.


Mereka pun sholat berjamaah dengan beberapa karyawan dan pengunjung lainnya, walaupun kecil setidaknya mushola itu muat untuk sekitar dua puluh lima jama'ah.


Setelah selesai, mereka pun kembali duduk di tempatnya yang tadi. Zahra masih tampak menunggu penjelasan dari suaminya,


"Apa maksud mas ustad tanya kayak gitu sama Bayu?"


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin kamu tahu. Jika seorang imam saja tidak mampu memimpi dirinya sendiri, bagaimana dia mau memimpin keluarganya kelak. Jika bukan kamu, aku berharap suatu saat nanti dia akan mengerti dan menjadi lebih baik!"


"Bukan karena ingin menghinanya? Atau ingin menunjukkan padanya kalau mas jauh lebih baik?"


Ustad Zaki tersenyum, "Apa hak mas melakukan hal itu, segala kebaikan hanya milik Allah. Jika mas melakukan ini dan membuat orang lain merasa tersentuh hatinya untuk kembali pada Allah, pastilah mas sangat senang. Insyaallah mas akan berusaha untuk menjaga hati agar tidak timbul rasa itu! Mas juga butuh kamu untuk selalu mengingatkan mas!"


Hehhhhh ....


Zahra malah menghela nafas, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana, senang atau malu, atau mungkin minder


"Merendahnya mas seperti ini malah semakin membuat mas tinggi di mata Zahra!"


Ustad Zaki tersenyum dan mengusap kepala Zahra,


Cup


Meninggalkan kecupan di kening Zahra,


"Maafin mas!"


"Bukan salah mas ustad juga!"


Zahra pun segera meneguk minumannya untuk mengalihkan suasana hati yang kurang baik itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.anj5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2