
Akhirnya mereka sampai juga di rumah orang tua ustad Zaki alias mertua Zahra.
Zahra menarik kemeja belakang suaminya beberapa kali persis seperti anak kecil yang minta jajan sejak keluar dari mobil,
"Apa dek?" tanya ustad Zaki dengan suara lirih agar dua orang yang berjalan di depannya tidak mendengar percakapan mereka.
"Mas, kenapa mas ustad nggak bilang?" tanya Zahra dengan suara lirih.
"Apa dek?"
"Kalau rumah Abi dan ummi di pesantren!"
Mendengar pertanyaan dari sang istri, ustad Zaki tersenyum. Sepertinya ia cukup tahu dengan maksud istrinya, ia pun menghentikan langkahnya dan di ikuti oleh Zahra, ia mengusap puncak kepala Zahra dan tersenyum padanya,
"Tidak pa pa dek, jangan khawatir semua akan baik-baik saja!"
Rupanya jarak yang sedikit jauh dengan ummi dan Farid di sadari oleh ummi, ummi pun menoleh.
"Kalian sedang apa? Ayo!"
Farid yang berjalan di paling depan pun ikut menoleh dan menggelengkan kepalanya begitu melihat kemesraan dua sejoli di belakangnya itu,
"Mereka benar-benar tidak tahu apa di sini ada yang masih galau!?" gerutunya sambil kembali berjalan.
"Nggak masuk dulu Rid?" tanya ummi saat mereka sudah berada tepat di depan pintu yang terbuka itu.
"Lain kali aja ummi, lagian Farid juga sebentar lagi ada kelas ngajar!"
"Oh ya sudah, matuhnuhun ya Rid!"
"Sami-sami, ummi. Kalau begitu Farid permisi dulu, salam buat Zaki sama istrinya ummi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
__ADS_1
Ya setelah memasuki gerbang pesantren, ustad Zaki dan Zahra sengaja berpisah dengan mereka. Ustad Zaki sengaja ingin membawa Zahra jalan-jalan keliling pesantren agar kesan menyeramkan berada di pesantren hilang dari pikiran Zahra.
"Ini tempat apa mas, kenapa besar sekali?" tanya Zahra saat mereka melewati sebuah ruangan terbuka yang luasnya melebihi lapangan.
"Oh ini, biasanya di sini para santri mengadakan pengajian Akbar, atau kalau ada acara-acara hari besar Islam juga di adakan di sini soalnya mengundang warga sekitar juga!"
"Kenapa nggak di masjid yang di sebrang aja, kan juga luas?" sebelum masuk area pesantren di seberang jalan memang ada sebuah masjid yang biasa di gunakan para santri untuk sholat berjamaah bersama warga sekitar.
"Abi sengaja ngadain nya di dalam pesantren agar mereka tertarik memboyong putra putri mereka belajar di pesantren, selain mengikuti pengajian bisanya para warga suka kepo dengan keadaan pesantren dan sebagian besar dari mereka tertarik untuk mempercayakan putra putrinya belajar di sini."
"Jadi yang ke sini bukan warga sini aja dong?" tanya Zahra lagi dan ustad Zaki pun menggelengkan kepalanya.
"Beberapa undangan sengaja datang dari kampung sebelah tau orang tua wali yang anaknya akan masuk sekolah menengah pertama. Atau yang memang sengaja pengen survei pesantren. sengaja datang hanya untuk melihat-lihat keadaan pesantren!"
"O!"
"Kita ke sana yuk!?" ustad Zaki kemudian menunjuk ke arah Gasebo yang langsung menghadap ke perbukitan yang ada di seberang.
Zahra pun menganggukkan kepalanya, pemandangan seperti itu memang sudah biasa di tempatnya jadi ia tidak begitu excited dengan hal itu.
"Biasa aja, kan di Blitar juga sudah banyak gunung, ada gunung Kawi, gunung Kelud, gunung batok, gunung pegat, sawah juga banyak, kali (sungai) apa lagi."
Ustad Zaki tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipinya,
"Pinter banget istri aku!?"
"Dari dulu, mas ustad aja yang nggak nyadar!?"
"Maksud mas bukan itu dek, kalau soal gunung atau bukit itu, mas sudah tahu, di Blitar begitu banyak pemandangan alam yang indah dan masih alami. Hanya_, yang sedang mas tanyakan tentang pesantren ini, dek Zahra suka?"
Zahra mengerutkan keningnya, "Jangan bilang kalau mas mau masukin Zahra ke pesantren?" tanya Zahra dengan nada was-was, "Aku nggak mau ya, lagi pula Zahra juga sudah nggak suka keluyuran. Zahra akan belajar yang rajin di rumah, jadi jangan ya! Please!?" Zahra sampai menakupkan kedua tangannya di depan dada.
Kali ini ustad Zaki benar-benar tertawa keras hingga berhasil menjadi pusat perhatian pada santri saat tanpa sengaja melintas di dekat mereka.
__ADS_1
"Nggak mungkin dek, kalau mas masukin dek Zahra ke pesantren, kalau mas kangen gimana?"
"Lalu kenapa tanya pendapat Zahra tentang pesantren segala?"
"Ya, mas cuma mau dek Zahra bisa merubah kesan menakutkan dari pesantren buat dek Zahra, itu aja! Belajar di pesantren itu bukan hal yang menakutkan, tapi mungkin malah bisa di bilang menyenangkan. Di pesantren kita punya banyak teman, kalau di rumah bangun tidur atau sehabis istrirahat kita nongkrong-nongkrong aja, kalau di pesantren waktu kita lebih banyak manfaatnya, kita bisa belajar mengaji Al Qur'an, hadist dan kitab-kitab yang tidak kita dapatkan di pendidikan formal."
"Lalu hubungannya sama aku apa dong?" tanyanya kemudian setelah mendapat penjelasan panjang dan lebar dari sang suami.
"Ya nanti insyaallah kalau anak-anak kita besar mas punya harapan besar agar anak-anak kita masuk pesantren!"
"Issttttt, kok jadi ngomongin anak sih!?" keluh Zahra.
Rupanya kedatangan ustad Zaki bersama seorang wanita telah menjadi pusat perhatian seisi pesantren, dan ternyata kehebohan itu juga menarik perhatian seorang ustadzah muda yang baru saja keluar dari kelasnya,
"Kalian ada apa?" tanyanya pada salah satu santri yang kebetulan membicarakan ustad Zaki.
"Itu ustadzah, ustad Zaki datang sama cewek cantik!?"
"Cewek?" tanyanya dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Apa dia wanita yang beruntung itu ....
...Cinta memang tidak pernah salah, yang salah adalah waktu dan kepada orang yang tidak tepat....
Maaf ya kakak-kakak semua, painem dua hari ini nggak bisa up bukannya tega atau mau kabur gimana, emang painem lagi sibuk di dunia nyata, mohon di maklumi ya🙏🙏🙏
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...