
Akhirnya Zahra tidak punya pilihan lain selai. menuruti kemauan ustad Zaki, mereka pun masuk ke toko seragam dan memilih beberapa seragam dengan bawahan panjang begitu juga dengan lengannya.
"Aku bakalan seperti Nur nih di sekolah!"
"Bagus dong, kalian kan memang temenan!"
"Ihhhh, mas nih nggak ngerti ya!"
"Sudah jangan ngambek terus, sekarang kita cari makan dulu habis itu sholat ashar."
"Terserah!"
Ustad Zaki seperti sudah hafal dengan seluk beluk tempat itu, hingga ia tidak perlu bertanya pada siapapun untuk mencari tempat makan.
"Kita makan di sini saja, di sini makanannya semuanya enak!" ucapan ustad Zaki berhasil membuat Zahra menatap pada pria itu.
"Mas sering datang ke sini?"
"Enggak bukan gitu, aku sudah cek di media sosial dan di sini yang paling enak menurut rekomendasi mereka."
"Ohhhh, kirain!"
"Kirain apa?"
"Kirain sering ke sini!"
Ustad Zaki tersenyum dengan ucapan Zahra membuat Zahra semakin penasaran,
"Jangan-jangan benar sering ke sini? Sama siapa? Sama cewek ya?"
"Apa sih dek, pertanyaanmu itu!?"
"Kan siapa tahu kencan sama cewek, di ajakin ke mall. Di belanjain banyak!"
"Enggak dek, insyaallah cuma dek Zahra cewek yang mas ajak ke sini!"
"Jadi sering?"
"Alhamdulillah lumayan, nanti kalau ada waktu luang mas ajak dek Zahra ke sini lagi!"
"Ini bukan termasuk sogokan kan?"
Sekali lagi pertanyaan dari Zahra berhasil membuat ustad Zaki gemas dengan istri kecilnya itu hingga ia mengusap kepala sang istri,
__ADS_1
"Kebiasaan deh!"
"Mas lebih suka sih sebenarnya kalau ada kain yang menutupi di sini!" ucap ya sambil menunjuk ke rambut Zahra yang di ikat asal itu.
Zahra terdiam, ia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Saat ustad Zaki mengatakan hal itu, seperti ada sesuatu yang tengah menggelitik hatinya.
"Aku lapar!" Zahra segera mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, ayo masuk!"
Akhirnya mereka pun masuk ke salah satu food court yang ada di pusat perbelanjaan itu, mereka memilih tempat duduk yang kosong dan ustad Zaki menyodorkan buku menu pada Zahra,
"Pilih apa yang kamu suka!"
"Boleh pilih banyak?"
"Semampu perutmu makan!"
"Tapi aku pengen merasakan semuanya!" rengek Zahra saat melihat beberapa menu yang menggiurkan.
"Baiklah, kalau begitu pilih menu masing-masing satu porsi saja!"
"Lalu mas ustad?"
"Kok gitu!"
"Mubazir dek kalau nggak habis!"
"Mubazir apa pelit?" goda Zahra membuat ustad Zaki mencondongkan tubuhnya ke arah Zahra,
"Menurutmu?" hal itu membuat Zahra malah salah tingkah saat tanpa.sengaja mata mereka saling bertemu.
"Baiklah, terserah mas aja. Pokoknya bukan aku loh ya yang minta mas ustad buat makan makanan sisa Zahra!"
"Bukan sisa dek, tapi seporsi berdua. Kalau begini lebih bagus jadi kamu nggak perlu merasa bersalah!"
"Terserahlah!"
Akhirnya Zahra memesan makanan semua yang ia inginkan dan masing-masing hanya satu porsi.
Karena pesanan Zahra yang cukup banyak membuat meja mereka begitu penuh dengan makanan.
"Selamat makan!" ucap Zahra yang tampak begitu kalap ingin memakan semuanya.
__ADS_1
"Berdoa dulu dek! Biar berkah makanannya!"
"Iya, iya!" akhirnya Zahra melafalkan doa terlebih dulu sebelum mulai makan.
Dan setelah itu satu per satu makanan mulai di cicipi oleh Zahra begitu juga dengan ustad Zaki. Tetap saja ustad Zaki memakan tidak sebanyak seperti yang di makan Zahra, ia sudah cukup merasa kenyang melihat Zahra yang begitu lahap.
"Zahra!"
Suara seseorang yang begitu familiar berhasil menghentikan kegiatan Zahra, bahkan makanan yang tengah ia kunyah di dalam mulut dengan cepat tertelan.
Zahra segera menoleh ke sumber suara.
"Bayu! Kamu di sini?"
Bayu sudah berdiri di samping meja mereka dengan membawa sebuah piring yang berisi makanan.
Zahra menatap ke arah ustad Zaki yang juga meletakkan sendoknya, begitu juga dengan Bayu. Bayu tersenyum pada ustad Zaki dan menyapanya.
"Hai mas, masnya Zahra kan? Masih ingat saya, saya pacarnya Zahra. Kenalkan nama saya Bayu!" ucap Bayu sambil mengulurkan tangannya. Tapi ucapan Bayu tentu membuat Zahra tersedak di buatnya.
Huks huks huks
Dengan cepat ustad Zaki mengambilkan air untuk Zahra,
"Minumlah!" Zahra segera mengambil gelas itu dan meneguk isinya tapi tatapan Zahra kini tidak bisa beralih dari menatap suaminya, tampak sekali kalau ustad Zaki tengah marah padanya, senyum yang biasanya menghiasi bibirnya menghilang seketika.
Bayu menarik kembali tangannya yang masih menggantung di udara,
"Emmm, boleh kan saya bergabung di sini?"
Ustad Zaki menganggukkan kepalanya,
Yahhh kenapa setuju sih? Mati kan aku ..., lagi pula kemarin kan aku sudah mutusin hubungan sama Bayu, kenapa pakek ngaku pacarku sih ..., batin Zahra. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya tidak berani menatap suaminya lagi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig@tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1