
Sepertinya berita tentang kedatangan Anwar lebih cepat menyebar dari pada angin, semua sudut kampung sudah mendengar beritanya, kini nama baik ustad Zaki sudah kembali. Anak-anak sudah kembali meramaikan masjid untuk mengaji. Beberapa dari anak-anak itu bahkan rela mendatangi rumah ustad Zaki hanya untuk meminta maaf dan mengajaknya ke masjid.
"Kan kalah lagi!" gerutu Zahra saat harus merelakan suaminya pergi lagi padahal ia belum mendapatkan berita apapun mengenai Imah dan Anwar.
"Begini nih kalau punya suami milik masyarakat, yang di dulukan pasti selalu masyarakat!" Zahra hanya bisa terus menggerutu hingga rasa kesalnya harus teralihkan karena ada ponsel yang tengah berdering tapi itu bukan ponselnya.
"Bukan ponselku!" ucapnya sambil mengerutkan kening, ia pun menyusuri rumah dan akhirnya menemukan benda pipih itu di atas meja makan,
"Mas ustad meninggalkan ponselnya!?" gumamnya, ia pun dengan ragu melihat siapa yang melakukan panggilan.
"Ummi!" gumamnya lirih, hingga ponsel itu kembali berdering dengan nama yang sama,
"Kasihan kan kalau nggak aku angkat, siapa tahu penting!"
Zahra pun akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan telpon itu.
"Hallo, assalamualaikum ummi!"
"Waalaikum salam, Zahra sayang!"
"Iya ummi, maaf Zahra yang angkat. Soalnya mas us_, maksudnya mas Zaki lupa tidak membawa ponselnya!"
"Tidak pa pa sayang, kebetulan sekali. Ummi cuma mau menanyakan keadaan kalian, beberapa hari ini perasaan ummi sedikit tidak enak, kalian baik-baik saja kan?"
Hehhhh, begitu lembutnya perasaan seorang ibu ..., batin Zahra. Walaupun mereka tidak pernah bercerita tetap saja seorang ibu pasti bisa merasakan apa yang terjadi pada anak-anak nya.
"Tidak pa pa kok ummi, kami baik-baik saja!"
"Syukurlah kalau begitu, Imah_?" ummi sepertinya ragu untuk melanjutkan perkataannya, atau mungkin ia tengah merancang ucapannya agar tidak membuat Zahra salah faham, "Maksud ummi, ummi beberapa hari ini memimpikan soal Imah, dia tidak menggangu kalian kan?"
Hahhh, benar kan ...., batin Zahra. Akhirnya Zahra pun menceritakan semuanya tentang Imah dan hal yang menimpa keluarga kecilnya.
"Astaghfirullah hal azim!" dari suaranya tampak ummi begitu terkejut.
"Tenang ummi, semuanya sudah selesai. Kami sekarang sedang baik-baik saja!"
"Syukurlah kalau begitu. Ummi hanya bisa mendoakan untuk kebaikan kalian dari sini!"
"Terimakasih ummi!"
"Sudah dulu ya sayang, ummi telpon lagi nanti. Abi kamu ngajak ummi ke pengajian!"
"Iya ummi, salam buat Abi!"
"Pasti ummi sampaikan, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Akhirnya sambungan telpon pun terputus, Zahra kembali mengamati ponsel suaminya. Ia menyadari sesuatu, ternyata ponsel sang suami tidak di kunci,
"Tidak di kunci rupanya!"
Zahra pun menarik kursi dan duduk, ia mulai berselancar dengan ponsel suaminya, pertama yang ia lihat adalah daftar kontak.
"Kok cuma dikit sih!" gumamnya saat melihat isi kontak ponselnya tidak lebih dari dua puluhan saja, "Yang benar saja!"
__ADS_1
Zahra pun kembali memastikan sesuatu, hampir semua orang yang ada di ponsel itu adalah orang yang ia kenal, hanya keluarga dekatnya saja.
"Apa mungkin mas ustad punya dua ponsel!?"
Zahra pun meninggalkan laman kontak, ia beralih ke galeri dan di galeri itu ia hanya menemukan beberapa foto pernikahan mereka dan hampir semua nya adalah fotonya,
"Kapan dapat fotoku sih?" tiba-tiba pipinya merona dan terasa panas, "Ihhh jadi terharu!" gumamnya lagi sambil memegangi pipinya.
"Assalamualaikum!"
Tiba-tiba suara salam menghentikan kegiatan Zahra, ia hafal dengan suara itu. Zahra pun kembali meletakkan ponsel suaminya, tapi kali ini ia sengaja menyembunyikan di dalam laci meja makan.
"Waalaikum salam!" jawabnya sambil berjalan cepat menghampiri pintu.
Ceklek
Segera pintunya terbuka dan menampilkan Nur di balik pintu itu,
"Nur, masuklah!" Zahra dengan cepat menarik tangan Nur dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ustad Zaki nggak di rumah?" tanya Nur sambil mengedarkan pandangannya.
"Enggak!"
"Kemana?"
"Kenapa kepo banget sih sama suamiku!?"
"Cie ..., yang sudah baikan sama suami!" goda Nur.
"Syukurlah kalau sudah ada yang datang ke masjid lagi. Seneng deh pas dapat berita kalau mbak Imah mau nikah!"
"Hahhh?" Zahra cukup terkejut dan itu berhasil membuat Nur heran.
"Jadi kamu nggak tahu?" tanya Nur memastikan.
"Kamu tahu dari mana?"
"Beritanya sudah nyebar tahu, aku pikir ustad Zaki sudah kasih tahu kamu!"
"Boro-boro kasih tahu, dia malah suruh aku buat ngerjain pr!"
Nur tersenyum dan wajahnya sengaja di buat iba, "Aduhhh kasihan!?"
"Jangan meledek ya!" ancam Zahra dengan mengacungkan kepalan tangannya pada Nur, "Sekarang ceritakan yang kamu tahu sama aku!"
"Seriusan belum tahu?" Nur kembali memastikan.
"Iya,"
Hehhhh ....
Nur pun akhirnya bersiap untuk memulai bercerita.
"Jadi katanya besok mbak Imah akan menikah dengan pemuda yang katanya mirip dengan ustad Zaki dan setelah itu pemuda itu akan memboyongnya pulang ke tempatnya!"
__ADS_1
"Maksudnya ke Trenggalek?"
"Jadi kamu tahu pemuda itu?" tanya Nur, sekarang malah berbalik penasaran.
"Hemmm!" Zahra mengangukkan kepalanya dengan pasti.
"Kamu sudah melihat pemuda itu?" tanya Nur lagi semakin penasaran hingga ia sampai menggema kedua tangan Zahra.
"Apaan sih Nur, lepasin tahu!?"
"Ya maaf!" Nur pun segera melepas tangan Zahra dan menunggu kelanjutan cerita Zahra. "Beneran dia kayak ustad Zaki?"
"Iya sih," Zahra menghentikan ucapannya, "Sedikit!" ucapnya lagi sambil menunjukan ujung jarinya pada Nur.
"Wahhhh, jadi pengen ada satu lagi yang kayak ustad Zaki buat aku!"
"Mau hamil duluan kayak Imah!"
"Astaghfirullah hal azim, nauzubillahi mindhali'. Gitu banget sih ngomongnya!"
"Ya siapa tahu,"
"Issttttt!"
***
Hingga ba'dha isya' ustad Zaki baru kembali, Zahra sudah menunggunya di depan pintu.
"Kenapa nungguin mas, dek?" tanya ustad Zaki setelah mengucapkan salam.
"Nggak pa pa!?" ucap Zahra tapi tatapannya mengatakan hal lain. Ia bahkan melipat kedua lengannya di depan dada.
Ustad Zaki segera mengusap kepala Zahra dengan lembut,
"Maaf, tadi mas lupa belum cerita. Tapi pr nya sudah selesai kan?"
"Sudah dari tadi."
"Ya udah, ayo mas akan cerita!"
"Sudah nggak penting, Zahra sudah tahu!" ucap Zahra sambil berbalik meninggalkan ustad Zaki.
Ustad Zaki hanya bisa menggelengkan kepalanya,
"Yahhh ngambek lagi!" gumamnya sambil menatap punggung Zahra yang menghilang di balik pintu kamar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1