Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
kecemasan ustad Zaki


__ADS_3

"Siapa yang telpon tadi? Calon istri ustad Parid ya?" tanya Zahra sambil mengunyah jajanan yang baru saja ia beli, kini mereka tengah duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari penjual cilok.


"Bukan! Mana ponselmu?" tanya ustad Farid kemudian dan Zahra pun langsung tersadar jika ia sedari tadi tidak memegang ponselnya.


"Astaga!?"


"Astaghfirullah!" ustad Farid mengingatkan.


"Ahhh iya, astaghfirullah. Aku taruh di mana ya hp aku!?" Zahra mengingat-ingat kembali di mana terakhir kali ia memegang ponselnya.


"Hilang ya?" tanya ustad Farid lagi.


"Husttt, diam dulu. Jangan membuyarkan konsentrasi ku!?" ucap Zahra, ia menyerahkan piring yang berisi cilok kepada ustad Farid agar tidak mengganggu konsentrasinya.


"Ya Allah, cepetan datengin pawangnya, bisa mumet aku kelamaan sama dia!?" keluh Farid sambil mengusap dadanya.


"Nahhhhh, aku ingat!?" teriak Zahra setelah suasana hening cukup lama dan berhasil membuat ustad Farid kembali terkejut.


"Astaghfirullah hal azim, nih orang bener-bener ya!?" keluh ustad Farid sambil memegangi letak jantungnya. "Bisa agak kalem dikit nbahn sih, dasar bocah!?"


"Enak aja bilang aku bocah, gini-gini aku sudah jadi istri seseorang ya!?"


"Percaya deh!" ustad Farid tidak mau terlalu banyak berdebat dengan Zahra, "Memang di mana ponselnya?"


"Ternyata ketinggalan di teras rumah ummi, tadi pas setelah kirim pesan sama mas ustad, aku lupa bawanya_!" tiba-tiba Zahra menggantung ucapannya, ia menatap pada ustad Farid, "Jangan-jangan tadi yang telpon_?"


"Iya bener, suami kamu!" jawab ustad Farid santai sambil tanpa sadar memakan sisa cilok milik Zahra.


"Mas ustad cemas ya? Pasti cemas kan?"


"Iya kali, dia mau nyusul ke sini!" ucapnya masih begitu santai memakan cilok milik Zahra dan akhirnya zahra sadar.


"Pariiiiddddd!?" teriak Zahra.


"Apaan sih teriak-teriak?"


"Itu kenapa cilokku kok pangan (kamu makan)?"


"Ohhh ini!?" ustad Farid menggaruk kepalanya yang tertutup peci, "Soalnya aku juga lapar tadi!?"


"Ihhhh, gimana sih!? Mana uang lagi!" ucapnya sambil mengacungkan tangannya pada ustad Farid.


"Buat apa?"


"Beli cilok lagi!"

__ADS_1


"Kamu kan tahu, uangku tinggal sepuluh ribu!?"


"Nggak pa pa, cukup kok buat beli satu porsi cilok!"


"Masalahnya mau aku buat lebi bensin, ini nggak dapet satu liter juga!?"


"Nggak peduli, pokoknya mana!?"


"Ampun deh!"


Walaupun terpaksa akhirnya ustad Farid menyerahkan uang yang tinggal satu-satunya itu.


"Makasih!?"


Zahra pun bersiap untuk kembali membeli seporsi cilot, tapi tepat saat berbalik seseorang lebih dulu memeluknya membuat Zahra terpaku di tempatnya.


"Mas ustad!?" ucap Zahra lirih.


"Mas begitu cemas tadi!?" ucap ustad Zaki yang tidak kalah lirihnya, "Lain kali jangan pergi-pergi sendiri ya dek, mas nggak akan bisa maafin diri mas sendiri kalau sampai terjadi apa-apa sama dek Zahra!?"


"Hmm!" Zahra pun menganggukkan kepalanya.


"Datang-datang bukannya salam, main peluk-peluk aja. Emang ya kalau dunia udah kayak milik berdua, yang lain tinggal ngontrak aja!?" ucap ustad Farid yang masih berdiri di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Zahra dan ustad Zaki hanya tersenyum menanggapinya, bukannya melepaskan pelukannya ustad Zaki malah semakin mempererat pelukannya hingga ia benar-benar lega.


"Dek Zahra mau beli apa, biar mas belikan!"


"Udah enggak, Zahra sudah kenyang. Kita pulang aja mas!?"


"Baiklah, ayo!?"


Ustad Zaki pun menggandeng tangan Zahra, ia menoleh pada ustad Farid.


"Makasih ya Rid, kalau gitu kami pulang dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" ustad Farid merasa lega akhrinya bisa terbebas dari Zahra.


Tapi ia kembali sadar saat motor ustad Zaki berlalu,


"Ehhh, ehhhh, ehhhh, ini gimana sih!?" keluhnya sambil melambai-lambaikan tangannya, tapi tetap saja percuma karena motor sudah cukup jauh.


"Gimana bisa lupa sih, uang tinggal sepuluh ribu ku kenapa nggak aku minta lagi, gimana aku beli bensinnya?!"


Dari pada tetap di tempat itu tanpa melakukan sesuatu, ustad Farid pun memilih pulang, karena jarak ke mesin ATM lebih jauh di banding jarak ke rumah, ia pun memilih pulang saja ke rumah.

__ADS_1


Dan benar saja , baru beberapa meter dari tempatnya, motornya tiba-tiba berhenti


"Yahhh, yahhhh, yahhhh kan, bener! Apa aku bilang, habis kan bensinnya!?" keluhnya sambil turun dari motor dan terpaksa ia harus mendorong motornya sampai di rumah, ia tidak mungkin kembali ke mesin ATM atau pom bensin karena uangnya benar-benar habis.


***


Di kamar ba'dha isya'


"Capek ya dek? Biar mas pijitin ya kakinya!?" ustad Zaki menyusul zahra yang sudah lebih dulu berada di atas tempat tidur.


"Nggak usah mas!?"


"Nggak pa pa, siniin!?" ucap ustad Zaki meminta zahra menselonjorkan kakinya.


"Baiklah kalau begitu!" Zahra pun bersemangat menselonjorkan kakinya dan ustad Zaki menarik kaki Zahra ke atas pangkuannya.


"Bagaimana? Begini enak?" tanya ustad sambil terus memijat kaki zahra.


"Enak, enak banget.malah!" puji Zahra sambil tersenyum, "Oh iya mas, kayaknya Ama ustad lupa deh!"


"Lupa apa dek?"


"Bukunya!?"


"Ohhh, baiklah mas cerita ya!?"


Ustad Zaki pun akhirnya menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir bagaimana ia bisa mendapatkan buku itu.


"Ihhh, nyesel deh nggak ikut mas, kan aku pengen ketemu ustadzah Nafis!"


"Baiklah, buat tanda tangan, bagaimana. kalau besok kita buat janji ketemu sama ustadzah Nafis!"


"Yang bener!?" tanya Zahra memastikan.


"Iya, sekarang tidurlah biar besok bisa lebih segar saat bertemu dengan ustazah nafis."


"Siap!?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.anu5249

__ADS_1


...happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2