Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Jalan-jalan


__ADS_3

Senja mulai menampakkan cahaya jingganya, dia insan yang tengah di mabuk asmara itu tengah menikmati senja di salah satu kafe sawah yang ada di Bandung, setelah seharian mereka sengaja memanfaatkan waktu yang tinggal dua hari di Bandung ini untuk jalan-jalan. Mungkin kafe menjadi tujuan terakhir hari ini dan segera kembali ke pesantren.


Ustad Zaki begitu sibuk menikmati wajah cantik sang istri hingga ia lupa jika tidak segera menyantap makanannya maka azan magrib akan segera berkumandang.


"Dimana mas ustad!?" ucap Zahra sambil sesekali terlihat salah tingkah karena ulah suaminya.


"Kenapa kamu begitu cantik sih?" tanyanya masih sambil memandangi wajah Zahra, dengan tangan yang menyanggah dagunya.


"Biasa ae mas, koyok biasane nggak ngene (biasa aja mas, kayak biasanya tidak seperti ini)!"


"Mau gimana lagi, kayaknya mata ini seakan enggan berpaling dari sana, wajahmu terlalu bikin candu!?"


"Wes mulai mas, Ojo gampang ngrayu ngko kebablasan jadi tukang gombal!"


"Kalau jadi tukang gombalnya buat istri nggak masalah to? Nyenengne istri itu ibadah dek!"


"Iya iya, percaya. Zahra Sampek nambah dua kali, mas satu porsi aja belum habis. Keburu magrib mas!"


"Ya sudah, mas makan dulu ya! Rasa enak makanan ini bertambah nikmatnya saat memandang wajah dek Zahra!"


Dan ucapan ustad Zaki yang terakhir mendapat pelototan dari sang istri,


"Maassssss!?"


"Baiklah, baiklah mas makan sekarang!"


Ustad Zaki pun akhirnya melanjutkan makannya, walaupun begitu ia sambil terus melontarkan gombalan pada sang istri.


Hingga suara azan magrib berkumandang bersamaan dengan habisnya makanan ustad Zaki, walaupun begitu mereka belum berniat meninggalkan tempat itu.


Setelah melaksanakan sholat magrib di saung yang di sediakan oleh kafe itu, mereka pun kembali memesan pencuci mulut sekalian kopi untuk ustad Zaki.


"Padahal Zahra juga pengen kopi,"


"Lain kali aja ya dek, akhir-akhir ini kan dek Zahra sering sakit perut. Jadi kalau sudah baikan aja perutnya, baru boleh minum kopi, dek Zahra minum jus buah, ini sehat untuk dek Zahra!"


"Tapi kan nggak cocok dengan cuacanya, harusnya yang hangat-hangat!" protes Zahra.


Memang benar apa kata Zahra, udara di Bandung lumayang dingin apalagi kalau matahari sudah tenggelam seperti ini.


"Ohh gitu ya, maaf mas Sampek nggak kepikiran. Biar mas ganti aja ya sama bubur kacang hijau atau dek zahra mau susu hangat?"


"Nggak wes, sudah terlanjur ini ya sudah. Zahra mah apa-apa juga masuk."


"Dek Zahra marah nih ceritanya sama mas!?" terlihat ustad Zaki merasa bersalah.

__ADS_1


Tapi segera Zahra menggantungkan tangannya dan menengadahkan telapak tangannya,


"Ini apa?" tanya ustad Zaki bingung.


"Sebagai gantinya nggak pesenin Zahra bubur kacang hijau atau susu hangat, Zahra mau mentahnya aja!"


."Maksudnya kacang hijau mentah?"


Zahra pun menggelengkan kepalanya, "Masak iya, Zahra minta kacang hijau mentah!? Maksud Zahra uangnya aja!"


Ustad Zaki tersenyum lebar hingga menutupi mulutnya dengan telapak tangan, tubuhnya sampai tergelak ke belakang gara-gara ulah sang istri.


Masalahnya bukan uangnya, tapi tingkah Zahra berhasil membuat ustad Zaki gemas, uang yang di berikan ustad Zaki setiap minggunya pada zahra tidak pernah kurang, bahkan bisa di bilang cukup tapi ustad Zaki tetap memberi batasan dalam pengunaan uang itu karena memang Zahra masih terbilang labil, ia belum terlalu bisa mengelola uang sendiri.


Saat ulang Zahra belum sampai satu Minggu sudah habis, ustad Zaki tidak pernah mempermasalahkannya, hanya saja sesekali ia menasehati agar tidak boros, dan hal itu sering menjadi pelajaran untuk Zahra.


"Memang uang dek Zahra habis? Bukankah kemarin saat jajan sama ustad Farid, mas yang gantiin!?" tanya ustad Zaki, karena seingatnya sesampai di Bandung, ustad Zaki sudah memberi sejumlah uang untuk jajan Zahra.


Nanti jika memang sudah waktunya dan ustad Zaki yakin Zahra sudah bisa mengelola uang sendiri, ia akan mempercayakan keuangan rumah tangga padanya, tapi untuk saat ini Zahra masih perlu bimbingan,. Itulah sebabnya ustad Zaki belum mempercayakan urusan keuangan pas Zahra.


"Masih, utuh malah!"


"Trus?"


"Ya biar uang Zahra banyak, sekalian buat nambah uang saku!"


"Ini cukup kan?" tanya ustad Zaki kemudian.


Zahra pun kemudian melihat ke daftar menu dan harganya, ia melihat harga bubur kacang ijo dan susu hangat,


"Ini sih lebih dari cukup, makasih mas!" ucap Zahra dengan begitu senang.


Terlihat begitu mudah membuatmu tersenyum dek, seringan itukah hidup dek Zahra hingga hal sekecil itu sudah membuat dek Zahra bahagia ....


"Dek," panggil ustad Zaki dengan nada serius.


"Hmmm? Ada apa?" Zahra menghentikan tawanya dan beralih fokus pada sang suami.


"Dua hari lagi kita kembali ke Blitar, sebelum itu kita ke klinik temannya mas ya!"


Zahra mengerutkan keningnya,


"Buat apa?"


"Bukan apa-apa, hanya saja mas khawatir dengan kesehatan dek Zahra, nanti sesampai di Blitar dek Zahra langsung ujian. Pasti akan memforsir begitu banyak waktu dekat Zahra, mas mau dek Zahra tetap vit menghadapi ujian nanti!"

__ADS_1


"Tapi mas_!"


"Mau ya dek, nanti yang periksa dokter cewek kok!"


"Jadi temennya mas ustad dokter cewek?"


"Bukan_!" ucap ustad Zaki segera menyahut ucapan Zahra takut terjadi salah faham, "Temen mas yang dokter cowok, tapi istrinya cewek. Istrinya itu yang akan memeriksa dek zahra!"


"Hebat ya, suami istri dokter semua!"


"Mas juga hebat!" ucap ustad Zaki sambil terlihat membanggakan diri.


"Tahu," ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tahu nggak apa yang membuat mas hebat?"


"Tahu,"


"Apa?"


"Mas lulusan pesantren, sarjana juga, jadi ustad lagi, trus pebisnis muda, ganteng. Jadi tukang motifator!"


"Bukan itu, kalau itu banyak sekali orang yang punya, bukan hanya mas aja!"


"Trus apa dong?"


"Punya istri Sholehah seperti dek Zahra yang menurut apa kata suami! Jadi gimana, besok ke klinik sama mas ya!?"


"Ihhhh, sengaja nih memeras perasaan Zahra!"


"Memang kenyataannya gitu dek, mas itu hebat karena dek Zahra."


"Iya iya Zahra mau!"


"Alhamdulillah!" ucap ustad Zaki sambil mengetuk kedua telapak tangannya di wajahnya.


"Seneng banget!!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2