Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Selesai magang


__ADS_3

Satu Minggu akhirnya berlalu setelah pertemuan mereka dengan ustad Zein dan Bu chusna. tapi Zahra belum juga berani mengatakan tentang pil KB yang sengaja ia minum pada suaminya


Hari ini hari terakhir magang, Zahra dan teman-teman nya harus kembali ke kedai untuk mengambil sertifikat magangnya begitu juga dengan slip nilai yang harus di serahkan ke sekolah.


Tampak semua karyawan sekaligus anak magang di kumpulkan di aula meeting, biasa ustad Zaki melakukan meeting bersama anak buahnya di tempat ini, di lantai dua kedai lalapan.


Ustad Zaki sengaja menutup kedai sehari ini untuk mengadakan acara kecil-kecilan, syukuran karena telah selesai acara magang, sebagai bentuk penghormatan karena sudah membantu di kedai selama tiga Minggu ini, sekaligus ucapan selama untuk sang istri atas keberhasilannya.


Setalah mengajian, ustad Zaki pun menberi sambutan selaku pemilik kedai.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakhatu, di sini saya hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk kalian semua terutama untuk para anak mangang yang telah berhasil menyelesaikan magangnya, tapi ingat ini baru permulaan jangan patah semangat, terus berjuang, gapai mimpi kalian. Saya yakin kalian bisa, ambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari sini, dan terapkan di tempat lain sesuai dengan kemampuan kalian.


Dan hari ini, kami tidak bisa mengabaikan jerit payah kalian selama tiga Minggu di sini, maka selain slip nilai dan sertifikat magang, ada sedikit semoga cukup untuk mengganti pengorbanan waktu dan tenaga kalian selama ini, semoga sukses.


Sekian saja dari saya, setelahnya akan di lanjutkan oleh pak Abdul, wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakhatu!"


Segera ia mendapat sambutan tepuk tangan oleh para karyawan dan anak magang, dan benar saja setelah pembagian sertifikat, slip nilai juga amplop yang berisi uang, acara di lanjut dengan makan bersama.


Acara selesai tepat pukul satu, setalah sholat dhuhur berjamaah, satu per satu karyawan dan anak magang saling bersalaman, mengucapkan sampai jumpa,


Kini Zahra dan ustad Zaki pun mulai meninggalkan tempat itu, mereka sudah berada di parkiran karyawan,


"Dek, amplopnya jangan di liatin terus, ntar kebakar loh!?" ucap ustad Zaki saat melihat istrinya tidak henti-hentinya memegangi amplop di tangannya.


"Ihhhh, emang mata Zahra keluar api!?" jawab Zahra sambil mengecup berkali-kali amplop itu.


"Memang kenapa gitu banget sih dek? Memang uang yang mas kasih habis?"


"Ini beda mas,"


"Bedanya apa?"


"Ini uang pertama yang Zahra hasilkan sendiri dari jerih payah Zahra, Zahra sampai nggak nyangka bisa punya uang sendiri."


"Mas juga bangga, untuk merayakannya lagi, dek Zahra bebas mau kemana aja, asal sama mas. Mas akan ijin sama Amir, biar dia gantiin mas ngajar hari ini!"


"Zahra mau ke rumah bapak!"

__ADS_1


Ustad Zaki mengeryitkan dahinya mendengar jawaban sang istri, jelas bukan itu yang ia maksud,


"Untuk apa?" tanya ustad Zaki tapi ia segera meralat pertanyaannya, "Maksud mas, ke rumah bapak kan bisa setiap hari."


"Tapi Zahra nggak sabar mas pengen ngasih ini sama ibuk!" ucapnya sambil menunjukan amplop yang masih berada di tangannya itu, "Nggak pa pa kan?"


"Itu buat ibuk?"


"Hmmm, aku pengen uang hasil kerja Zahra yang pertama buat ibuk, nggak pa pa kan mas?"


"Nggak pa pa! Itu hak dek Zahra. Baiklah kita langsung ke sana!"


Ustad Zaki pun membantu Zahra memakai helmnya seperti biasa, mengusap pipi Zahra sebelum berbalik dan memakai helmnya sendiri.


Mereka pun menyusuri jalanan kota Blitar di tengah hari, meskipun matahari masih cukup tinggi tapi udara di Blitar tidak sepanas di Jakarta atau Surabaya, masih cukup nyaman untuk pemotor


Setelah lima belas menit akhrinya mereka sampai juga di depan rumah orang tua Zahra, saking tidak sabarnya Zahra sampai tidak melepas dulu helmnya. Ia langsung berlari ke rumah.


"Assalamualaikum, buk, pak, Iki Zahra!"


Sudah menjadi kebiasaan orang kampung, meskipun orangnya di belakang, tapi pintu rumah dibiarkan terbuka, mendengar teriakan Zahra terlihat Bu Narsih berjalan tergopoh menghampiri Zahra,


Zahra pun tersadar, ia memegangi helmnya tapi tidak berniat untuk melepasnya,


"Bapak mana buk?"


"Masih di ladang, ada apa?" tanya Bu Narsih lagi,


"Iki ngge ibuk Karo bapak!" ucap Zahra sambil menyerahkan amplop yang sedari tadi ia pegang,


"Iki opo?" tampak Bu Narsih bingung, ia pun menatap ustad Zaki yang baru saja masuk rumah,


"Assalamualaikum, buk!" sapa ustad Zaki, ia pun berdiri di belakang sang istri.


"Waalaikum salam!"


"Pripun buk kabare?" tanya ustad Zaki yang sudah mulai fasih berbahasa Jawa halus.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, nak. Tapi tunggu dulu, Ini apa?" tanya Bu Narsih lagi terlihat masih bingung dengan amplop yang di kasihan oleh Zahra.


"Terima saja buk, itu rezeki dari putri ibuk!" ucap ustad Zaki menerangkan dan Bu Narsih pun beralih menatap Zahra.


"Terima buk, memang nggak akeh buk, tapi kwi mau hasil jerih payah Zahra, buk. Itu uang yang Zahra hasilkan dari jerih payah Zahra sendiri!" ucap Zahra dengan begitu percaya diri, "Itu bayaran magang Zahra buk!" sekali lagi Zahra menjelaskan.


Tampak mata bu Narsih mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka putri yang selama ini selalu membuat masalah ternyata bisa membuatnya bangga,


"Alhamdulillah!" ucap syukur Bu Narsih sambil mencium amplop itu dan memeluknya di dada sama persis seperti yang di lakukan Zahra tadi saat menerimanya, "Terimakasih nak Zaki!"


"Kok terimakasih nya sama mas ustad sih!?" ucapan Bu Narsih langsung kena protes oleh Zahra. "Kan yang ngasih Zahra, bukan mas ustad!"


Bu Narsih pun langsung memeluk putrinya, air matanya pun benar-benar terjatuh dan Zahra hanya bisa diam dalam pelukan ibunya, ia melirik pada sang suami dan suaminya tersenyum memberi semangat.


Zahra pun membalas pelukan ibunya,


Rasanya begitu nyaman, sudah lama sekali aku tidak merasakan pelukan sehangat ini dari ibuk ...., akhirnya Zahra pun tidak mampu menyembunyikan air matanya yang coba ia simpan di balik ketegarannya selama ini.


...Ada saat dimana kita perlu menunjukan kalau kita rapuh karena dengan itu orang lain akan bisa memahami kita...


"Ibuk bangga sama kamu, Zahra!?" bisik Bu Narsih.


"Zahra juga bangga jadi anak ibuk, tetaplah menjadi ibuk Zahra yang cerewet, galak, yang suka marahin Zahra!"


"Sekarang sudah bukan tugas ibuk lagi marahin kamu, sekarang sudah menjadi tugas suami kamu, jadi jangan bandel-bandel ya!"



...Mungkin dia tidak sempurna, mungkin dia juga bukan idaman semua orang, tapi buat dia idaman di hati ku, karena aku mencintainya, aku ingin menjaganya seperti Engkau menjaganya...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2