Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pengajian 1


__ADS_3

Sebenarnya begitu malah menghadiri pengajian, tapi karena ini permintaan umi, Zahra pun tidak bisa menolak. Apalagi di rumah juga tidak ada siapapun, Abi pun juga ikut ke masjid.


Tok tok tok


Pintu kamar di ketuk dari luar saat Zahra tengah duduk di depan meja riasnya, ia begitu malas beranjak dari saja.


"Zahra, ini umi!"


"Masuk umi! Nggak Zahra kunci!" Zahra segara pura-pura menyisir rambutnya.


Ceklek


Pintu pun di buka dari luar, tampak umi sudah siap dengan baju gamis dan kerudung panjangnya.


"Umi masuk ya?" ijin umi lagi, mungkin berkat didikan dari umi ya lah ustad Zaki tumbuh jadi pria yang sopan.


"Iya umi!"


Umi pun akhirnya berjalan mendekati Zahra, kini Zahra sudah memakai kaos lengan panjang dan rok panjang juga. Rok satu-satunya yang panjang yang ia miliki.


"Umi tahu, kamu pasti belum siap, makanya umi datang bawain ini!" umi menunjukkan sesuatu di tangannya, sebuah jilbab segi empat yang masih di lipat rapi, warna abu-abu sehingga cocok dengan rok plisket yang di kenakan Zahra saat ini, dengan kaos panjang zebra warna hitam putih.


Zahra hanya tersenyum, memang ia tidak punya jilbab selain mukena miliknya.


"Di pakai ya!" ucap umi sambil menyerahkan jilbab itu di tangannya.


Tapi Zahra malah terlihat bingung dengan jilbab di tangannya itu, beruntung umi segera menyadari,


"Ohhh iya! Umi bantu pakaikan!"


Umi pun mengambil lagi kain berbentuk segi empat itu dan melipatnya menjadi berbentuk segi tiga.

__ADS_1


"Permisi ya, umi pakaikan!" umi pun segera menutupkan ke kepala Zahra, "Ya Allah, anak umi cantik sekali!"


Padahal umi belum mengaitkan bagian bawahnya, tapi Zahra sudah terlihat cantik dengan jilbab itu,


"Ahhh umi, Zahra kan jadi malu!"


"Umi serius sayang, coba lihat. Kamu ngajak kalah sama ukhti-ukhti itu!"


Setelah umi mengaitkan jilbab bagian bawah dagu Zahra dengan peniti, Zahra pun menatap pantulan dirinya di cermin.


Benar, senyum sumringah tiba-tiba muncul di bibir Zahra. Ini beneran aku? Zahra?


Bahkan ia sampai tidak menyangka jika itu dirinya, saat pernikahan memang ia juga memakai jilbab tapi sepertinya ia lupa. Ia juga tidak berniat memajang foto pernikahan mereka di rumah, sehingga ustad Zaki memajangnya di ruang kerja.pribadi miliknya demi menghormati Zahra.


"Ya udah, karena sudah siap. Kita berangkat sekarang? Takutnya nanti telat!"


"Iya umi!"


Zahra pun mengangukkan kepalanya. Ustad Zaki dan Abi sudah pergi ke masjid sedari sebelum magrib sedangkan pengajian biasanya di mulai ba'dha isya', kebetulan Zahra sudah selesai menstruasi nya hingga ia bisa ikut ke masjid. Lebih tepatnya ia tidak punya alasan untuk menolak ajakan umi pergi ke pengajian.


"Ayo, umi!" ajak Zahra setelah selesai mengunci pintu rumah.


"Kita jalan kaki saja ya, sekalian olah raga!" ucap umi.


"Iya umi!" Zahra pun kembali menyakukan kontak motornya, beruntung motor di parkir di samping rumah sehingga tidak mencolok keberadaannya tidak akan memancing pencuri masuk.


Mereka pun berjalan menuju ke masjid, tidak jarang mereka berpapasan dengan ibu-ibu yang juga berjalan ke masjid sehingga mereka terjebak obrolan ringan sambil menuju ke masjid.


Semakin dekat masjid, semakin ramai, mereka saling bersalam dan mengucapkan salam setiap bertemu dengan ibu lainnya. Beginilah suasana jika yang menjadi pemateri ustad Zaki, jamaah ibu-ibu akan lebih banyak dari pada pematerinya ustad yang lain.


Tidak jarang obrolan ibu-ibu itu menyindir Zahra, tapi bukan Zahra namanya jika mudah untuk tersinggung, ia malah terlihat begitu santai berbeda dengan umi yang sesekali menggengam erat tangan menantu ya itu.

__ADS_1


"Iya loh Bu nyai, Zahra ini anaknya gesit. Bapaknya sampai kuwalahan menasehati. Iya kan Zahra?" ucapan ibu-ibu itu memang terdengar halus tapi sebenarnya nylekit.


"Memang sesekali anak muda harus begitu ibu-ibu. Asal selalu tahu batasannya! Insyaallah Zahra juga tahu batasannya!" bela umi.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan masjid, tampak jamaah pengajian sudah banyak berkumpul. Beberapa pria juga masih duduk di teras masjid walaupun ini acara pengajian ibu-ibu, mereka kerap ikut mendengarkan ceramah.


"Kita masuk ya!* ajak umi dan Zahra pun menganggukkan kepalanya.


Tampak ustad Zaki sudah duduk di depan tempat imam menunggu jamaah pengajian benar-benar berkumpul. Ia duduk tepat di belakang dampar (Meja kecil yang biasa di gunakan untuk mengaji).


Satu per satu jama'ah masuk dan beberapa di antara mereka mengucapkan salam, dengan sabar ustad Zaki menjawab salam mereka satu per satu hingga tatapan ustad Zaki tiba-tiba terpaku pada sosok yang berjalan di belakang uminya dengan sedikit merunduk mengikuti uminya.


Masyaallah, maha sempurna engkau hingga menciptakan bidadari secantik istri hamba ..., begitu terpesonanya hingga ustad Zaki terus mengikuti kemana arah Zahra hingga duduk di salah satu sisi yang ada di masjid itu.


Sepertinya Zahra menyadari jika dirinya tengah di perhatikan, ia pun segera menatap ke depan tepat berada di garis lurus tempatnya duduk, ustad Zaki tampak tersenyum manis padanya.


Kenapa dia senyum-senyum? Zahra segera memeriksa sekeliling dan mencari subjek senyuman suaminya.


Masak nenek Warti sih?, kayaknya nggak deh, umi? tapi umi nggak lihat ke sana. Atau budhe Ambar? nggak, budhe Ambar kan lagi mainan hp. akhirnya ia menyadari hanya tersisa dirinya.


Jadi apa mungkin aku? iya deh kayaknya. Ahhh jangan deh, aku kayaknya yang GeEr.


Zahra pun memilih mengalihkan tatapan ke tempat lain dari pada di buat baper dengan senyuman ustad Zaki.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2