Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Kekhawatiran ustad Zaki


__ADS_3

Entah kenapa rasanya sejuk mendengar cerita dari umi, Zahra mengiyakan dengan isyarat kepala yang sedari tadi ia anggukkan, bukan karena ia tidak bisa membalas ucapan umi tapi ia sedang ingin menikmati apa yang baru saja ia dengar, entah kenapa ia merasa apa yang di ceritakan oleh umi seolah-olah begitu mengena dalam hidupnya.


"Serius sekali, sedang membicarakan apa nih?" pertanyaan dari ustad Zaki yang datang tiba-tiba membuat perhatian kedua wanita beda generasi itu teralih padanya.


Umi menghela nafas dan menatap tidak percaya pada putranya itu,


"Assalamualaikum!" mau bagaimanapun ustad tetaplah manusia, ia juga punya lupa. Tapi ia segera sadar melihat ekspresi wajah dari uminya.


"Waalaikum salam! Sudah selesai?"


"Sudah umi," ustad Zaki pun segera duduk di samping Zahra, ia duduk begitu dekat hingga tidak ada sela di antara mereka, tangannya pun tak luput. Ia menggenggam tangan Zahra yang kini berada di pangkuannya, sedikit rasa khawatir menderanya mana kala Zahra hanya diam mendengarkan umi bercerita, itu jelas terlihat dari kejauhan.


"Kamu tidak pa pa?" tanyanya lembut dan Zahra hanya menggelengkan kepalanya.


"Hehhhhh!" sekali lagi umi menghela nafas dan berdiri dari duduknya, "Memang umi apakan istri kamu ini hingga sebegitu khawatirnya kamu!?"


"Bukan begitu umi, Zaki hanya tidak nyaman saja meninggalkan Zahra terlalu lama!"


"Itu Abi kamu!" umi menunjuk ke arah Abi yang tengah berjalan mendekati mereka. "Umi sudah sangat lapar!"


Setelah Abi menghampiri mereka, akhirnya mereka pun melanjutkan rencananya untuk mencari makan di kedai dekat alon-alon.


Hingga jam sembilan malam barulah mereka pulang setelah puas jalan-jalan dan membeli beberapa camilan juga oleh-oleh.


***


Kini Zahra sudah duduk di atas tempat tidur dengan punggung yang sengaja ia sanggah dengan bantal sambil menscroll layar ponselnya yang sedari siang belum ia lihat.


"Nggak belajar dulu?" pertanyaan ustad Zaki berhasil mengalihkan perhatian Zahra, ustad Zaki baru saja dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar, sepertinya ia baru saja mandi. Apalagi aroma sabun yang menyeruak dari tubuhnya membuat Zahra terpaku di buatnya.


Zahra, nikmat mana lagi yang kamu dustakan, kenapa setiap hari aku harus di suguhi yang begituan. Nggak janji nggak akan khilaf ...


"Dek!?"


Zahra begitu terkejut karena tanpa sadar kini ustad Zaki sudah duduk di depannya dengan hanya memakai kaos buntung dan celana pendeknya.


"Hahhh, mas ustad ngapain dekat-dekat?" tanyanya sambil menjauhkan tubuhnya tapi ustad Zaki sepertinya sengaja dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Zahra.


"Nggak pa pa, cuma mau memastikan saja apakah istrinya mas nih masih sadar!"

__ADS_1


"Hahhh?"


"Abis mas panggil dari tadi nggak nyahut!"


"Zahra kan sedang fokus sama hp Zahra, lagi pula kan zahra_!" Zahra hanya bisa menghentikan ucapannya saat wajah ustad Zaki begitu dekat padanya saat ini,


Dia mau nyium aku ya?


Dengan reflek Zahra menutup matanya.


Sebenarnya memang itu yang ingin ustad Zaki lakukan, tapi mencium Zahra tanpa seijinnya membuat ustad Zaki mengurungkan niatnya.


Aku akan menunggu hingga dek Zahra benar-benar siap ...


"Hufff!" tiba-tiba ustad Zaki meniup wajahnya membuat Zahra membuka lagi matanya, "Ada bulu mata di bawah mata kamu!"


Yahhhh padahal aku kan ..., batin Zahra sedikit kecewa. Ia padahal sudah mengharapkan hal lain.


"Apaan sih, menakuti Zahra aja!"


Ustad Zaki pun segera menjauh dari Zahra, ia duduk di tepi tempat tidur.


"Besok kan libur, ribet banget pakek belajar!"


"Kan kalau belajar nggak perlu nunggu ulangan."


"Tau ahhh!" Zahra memilih kembali fokus dengan layar ponselnya.


"Tadi umi membicarakan apa?" pertanyaan itu berhasil mengalihkan perhatian Zahra, ia menoleh pada ustad Zaki.


"Kenapa?" tanya Zahra balik.


"Nggak pa pa, mas cuma pengen tahu aja!"


"Bukan apa-apa!"


"Kalau dek Zahra tidak nyaman, dek Zahra bisa cerita sama mas."


Zahra tersenyum dan meletakkan ponselnya, ia seperti punya senjata untuk menggoda suaminya itu, ia mencondongkan tubuhnya pada ustad Zaki, "Sekarang Zahra tahu, rahasia besar mas ustad!" bisiknya di depan wajah sang suami.

__ADS_1


"Hahh?"


"Jadi jangan macam-macam ya sama Zahra!"


Zahra hendak menarik tubuhnya menjauh dari ustad Zaki, tapi sepertinya terlambat karena ustad Zaki sudah lebih dulu menahan tangannya hingga ia tidak bisa berpindah,


"Lepasin!"


Ustad Zaki membalas apa yang di lakukan oleh Zahra,


"Benarkah seperti itu? Aku menantangmu, bagaimana?" bisik ustad Zaki tepat di leher Zahra membuat Zahra bergidik dibuatnya.


Kenapa dengan tubuhku? Zahra merasakan tubuhnya seperti teraliri listrik dengan tegangan besar hingga ia merasakan tubuhnya meremang.


Bahkan saat ustad Zaki hendak mendekatkan bibirnya ke pipi Zahra, ia begitu pasrah.


Tok tok tok


Ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka, hampir saja ustad Zaki menciumnya,


"Zaki, ini umi. Bisa bantu umi bentar nggak?"


Rasanya enggan untuk melepaskan Zahra tapi uminya tengah butuh bantuan,


"Hehhhh!" ustad Zaki menghela nafas dan melepaskan tubuh Zahra, "Tunggu ya!"


Zahra hanya mengangukkan kepalanya,


"Iya umi!"


Ustad Zaki pun turun dari tempat tidur dan menhempiri pintu,


"Ada apa umi?" tanyanya saat berhasil membuka pintu.


"Ikut umi bentar!"


Akhirnya ustad Zaki pun keluar dari kamar meninggalkan Zahra yang terdiam sendiri di atas tempat tidur.


"Ihhhhh, kenapa dengan tubuhku!?" Zahra mengusap wajahnya tidak percaya, mereka hampir saja berciuman.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2