
"Sebenarnya kita mau ke mana sih, mas? Jadi penasaran!?" tanya Zahra, yang sudah duduk di sebelah ustad Zaki yang duduk di balik kemudi, ustad Zaki tersenyum dan mengusap pipi Zahra lembut.
"Nanti juga tahu dek!"
"Ihhhh, nggak sabar!"
Sekali lagi ustad Zaki tersenyum sendiri,
"Kamu cantik sekali dek, rasanya tidak ingin pergi ke mana-mana hari ini, pengen acara ini segera selesai dan kita kembali ke rumah!" ucap ustad Zaki, benar saja seandainya ia tidak terlanjur membuat kejutan untuk istrinya, ingin sekali malam ini menghabiskan waktunya berdua saja di dalam kamar bersama sang istri.
"Acaranya aja belum di mulai, sudah mau pulang aja!"
Akhirnya mobil mereka sampai juga di depan kafe tempat biasa Zahra nongkrong dengan teman-temannya, tempat biasa ustad Zaki bertemu dengan Ali.
"Kenapa ke sini?" tanya Zahra sambil mendongakkan kepalanya melalui jendela mobil yang kacanya sudah di turunkan.
Ustad Zaki tidak langsung menjawab, ia segera turun dan berlari mengitari mobil, ia berdiri di samping pintu tempat Zahra duduk membuat Zahra memundurkan kepalanya.
Ustad Zaki pun segara membukakan pintu mobil untuk Zahra dan mengulurkan tangannya membantu Zahra turun,
"Ayo sayang!"
"Manis banget panggilnya, tapi maaf ya mas, kayaknya terlalu lebay, Zahra sukanya kalau mas panggil Zahra dek aja!" dua kata yang keluar dari bibir ustad Zaki segera mendapat komentar panjang kali lebar dari sang istri dan seperti biasa ustad Zaki hanya tersenyum dengan lesung pipinya, dengan cepat Zahra mencubit pipi sang suami.
"Aduuhh, kenapa di cubit dek, pipinya mas?" tanya ustad Zaki sambil memegangi pipinya pura-pura sakit.
"Kalau di luar rumah senyumnya di kondisikan ya, awas aja kalau suka tebar-tebar senyuman!?"
"Memang kenapa dek? Senyum kan ibadah!?"
"Tapi masalahnya, senyum mas ustad itu bikin mleyot hati para emak-emak se-Indonesia raya!"
"Ya ampun, rupanya istri mas ini sekarang sudah mulai posesif ya!"
"Nggak posesif mas, cuma menjaga yang sudah ada!"
"Baiklah, baiklah, mas nggak akan senyum lagi selain sama dek Zahra, gimana?"
"Itu lebih baik!"
"Baiklah, ayo masuk!" ustad Zaki mengulurkan lengannya siap untuk menerima tangan Zahra.
Dan seperti yang di harapkan, Zahra pun segera melingkarkan lengannya di lengan ustad Zaki, mereka pun berjalan masuk ke dalam kafe,
Di depan pintu sudah ada yang menyambutnya dengan membukakan pintu.
"Kok sepi sih mas, kafenya belum tutup kan?" tanya Zahra heran melihat kafe yang sudah terlihat sepi meskipun masih jam delapan, padahal biasanya buka sampai jam dua belas malam.
__ADS_1
"Mas sengaja menyewa kafe ini khusus untuk makan malam kita, hanya berdua!"
Berdua???, trus berapa duit yang harus di keluarin ..., kan sayang banget uangnya, pasti mahal ...
Zahra pun kemudian berjinjit, meskipun sudah memakai sepatu hak tinggi tetap saja tingginya tidak bisa menyamai ustad Zaki,
"Mas sini?" bisik Zahra meminta sang suami mendekatkan telinganya.
"Ada apa?"
"Sini!"
Ustad Zaki pun melakukan seperti yang di minta oleh Zahra, ia memiringkan kepalanya hingga Zahra mampu menggapai daun telinga ustad Zaki,
"Mas nggak salah, sewa kafe itu mahal loh. Mas nggak ngutang kan?"
Mendengar pertanyaan seperti itu dari sang istri, ustad Zaki pun tersenyum,
"Dek, mas ini pemilik kedai lalapan paling terkenal di Blitar loh, mas meragukan mas soal itu?"
Ahhh iya ya, lagi pula kalau mas ustad kurang uang , dia kan bisa jual kedainya dari pada ngutang ....
"Gimana? Sudah percaya sekarang sama mas?" tanya ustad Zaki yang melihat Zahra diam.
"Ya udah percaya deh!"
Mereka pun kembali berjalan, dan di tengah semua meja dan kursi, hanya ada satu meja yang di rias dengan indah, lilin di atas ya, bunga yang bertebaran di mana-mana,
"Silahkan duduk!" ucap ustad Zaki sambil menatikkan kursi untuk Zahra.
"Terimakasih mas!"
Setelah memastikan Zahra duduk dengan benar, ustad Zaki pun juga duduk di kursi yang berhadapan dengan zahra, hanya ada dua kursi yang mengitari meja itu.
Prok prok prok
Seperti adegand alam film romantis, ustad Zaki menepuk tangannya tiga kali dan beberapa pelayan datang menghidangkan makanan untuk mereka.
"Bagaimana, kamu suka?" tanya ustad Zaki lagi saat semua pelayan itu sudah menghilang kembali, di ruang yang lebar itu hanya menyisakan mereka berdua, tapi Zahra yakin meskipun tidak kelihatan, mereka bersembunyi di balik sesuatu.
Mungkin di balik kursi atau tirai, atau meja ...., batin Zahra.
"Bagaimana dek? Dek Zahra suka?" tanya ustad Zaki lagi mengulang pertanyaan yang sama karena Zahra tidak segera menyahutinya.
"Suka, iya suka!"
"Sukanya kok gitu?" tanya ustad Zaki lagi yang mendengar nada suka Zahra tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Suka mas, hanya saja_!" Zahra berdiri dan mencondongkan tubuhnya hingga cukup dekat dengan ustad Zaki, terpaksa ustad Zaki pun melakukan hal yang sama agar sang istri tidak kesusahan, "Bisa begini dapat ide dari mana?" bisik Zahra.
Hehhhhh ....
Dengan cepat ustad Zaki kembali ke tempat duduknya dan menghela nafas,
"Kenapa? Ada yang salah ya? Maaf!?" Zahra segera merasa bersalah melihat ekspresi sang suami.
"Nggak pa pa, hanya saja mas itu sudah berusaha seromantis mungkin loh, ini tangan mas sampai keringat dingin buat menyusun kata-kata romantis, tapi dek Zahra sudah ngomong gitu duluan, kan jadi blank. Mas sudah pelajari hal-hal romantis ini dari drama-drama Korea yang biasa dek Zahra lihat loh, kelihatan?" tanya ustad Zaki saat merasa kejutannya tidak semulus ekspetasinya.
He ....
Zahra pun nyengir kuda, "Iya!?"
Hehhhh ....
Sekali lagi ustad Zaki menghela nafas,
"Sudah mas duga!?"
"Maaf!" ucap Zahra sambil mengatupkan kedua tangannya, "Zahra terlalu jujur ya mas?"
"Nggak pa pa!"
"Tapi sungguh, Zahra suka mas yang biasanya,nggak perlu seperti ini. Tahu nggak mas, setiap kata yang ams ucapkan di setiap kesempatan selalu bisa bikin hati Zahra mleyot, itu sih menurut Zahra saat-saat romantis bersama mas ustad." Zahra cukup merasa bersalah dengan sikapnya yang kadang terlalu jujur ini,
Ustad Zaki pun kembali tersenyum, ia mengusap punggung tangan Zahra yang berada di atas meja, "Tidak pa pa, aku senang kamu mau jujur sama mas. Mas hanya takut saja, karena aktifitas mas yang banyak, sikap mas yang terlalu dewasa bisa membuat kamu merasa bosan! Terimakasih karena sudah mau menerima mas apa adanya!"
"Seharusnya Zahra yang bilang gitu!?" gumam Zahra lirih tapi masih bisa di dengar oleh sang suami.
"Kamu sempurna dek, buat mas. Kamu adalah yang terbaik yang Allah kasih buat mas, terimakasih ya dek, enam bulan yang telah kita lewati bersama adalah saat-saat paling indah dalam hidup mas, kamu sangatlah berarti buat mas, jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan mas, mengerti!?"
Zahra mengusap matanya yang mulai berair dan mengangukkan kepalanya,
"Sudah, sudah, haru-harunya selesai sekarang mas sudah lapar, kita makan ya!"
"Hmmm!" Zahra mengangukkan kepalanya dengan semangat dan mulai memakan makanannya setelah ustad Zaki memimpin doa.
...Seandainya tidak ada badai, pelangi tidak akan muncul. Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan, dan apa pun yang mungkin menyakitiku hanya akan membuatku lebih kuat pada akhirnya...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...