Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
HP serepan


__ADS_3

"Dek, masih marah ya!?" ustad Zaki sudah duduk di sambung Zahra yang pura-pura sibuk membaca buku pelajarannya, walaupun ia tahu jika istrinya itu tidak sedang membaca.


"Hmmmm!" jawab Zahra tanpa mau menatap suaminya itu.


"Maaf dek, mas kan nggak sengaja. Sebenarnya mas rencananya mau cerita sama dek Zahra tadi siang tapi anak-anak keburu nyariin!"


"Memang nggak niat cerita!" gerutu Zahra dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar oleh ustad Zaki.


"Nggak gitu dek, memang belum sempet aja. Sekarang mau dengar nggak?"


"Nggak!" jawab Zahra dengan tegas sambil meletakkan bukunya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur dan segera menutup tubuhnya dengan selimut, "Ngantuk, mau tidur!"


Ustad Zaki hanya bisa menatap istrinya dengan tatapan pasrah. Ia pun ikut merebahkan tubuhnya, memiringkan tubuhnya agar bisa menatap punggung zahra yang memilih tidur membelakanginya,


"Dek, boleh peluk nggak?" tanyanya dengan lembut.


Zahra yang pura-pura tidur mendengus kesal,


Kalau mau peluk, ya peluk aja kenapa harus nanya sih ....


"Dek," panggil ustad Zaki lagi setelah tidak mendapatkan tanggapan dari Zahra.


"Nggak!" jawab Zahra dengan suara juteknya.


"Baiklah!" ucap ustad Zaki dan dia pun memilih merubah posisinya menjadi telentang dengan kedua tangannya yang ia letakan di atas perut sambil menatap langit-langit kamar.


Yahhh gitu aja kok nyerah sih, harusnya dia kan merayuku ..., benar-benar nggak peka banget sih jadi orang ..., batin Zahra kesal, ia sampai tidak bisa tidur gara-gara rasa kesalnya itu, ia ingin tidur sambil di peluk suaminya tapi saat ini keadaanya beda, ia sedang ngambek. Tidak mungkin jika ia meminta duluan pada sang suami,


Ahhhh, lupakan. Nggak boleh, pokoknya nggak boleh, dia bisa gede kepala kalau aku minta duluan ...


Tapi rupanya, tubuh dan pikirannya tidak sejalan. Ia tiba-tiba berbalik dan menyusupkan tubuhnya di antara tangan dan tubuh sang suami,


"Dek,"


"Jangan GeEr, aku cuma nggak bisa tidur!"


Ustad Zaki tersenyum dan akhirnya memiringkan tubuhnya, menarik tubuh Zahra kedalam dekapannya. Tidak lupa sebuah kecupan ia sematkan juga di kening sang istri sebagai pengantar tidur, walaupun mungkin nanti dirinya yang tidak akan bisa tidur karena ulah istri kecilnya itu.


Tapi ia juga harus konsesten dengan janjinya sendiri, ia akan benar-benar melakukan kewajibannya sebagai sang suami nanti saat sang istri sudah benar-benar lulus SMA, ia takut jika sampai kelepasan akan menjadi beban yang berat bagi sang istri jika sampai mengandung. Pasti menjadi hal yang berat seorang Zahra jika tiba-tiba harus menjadi seorang ibu di usianya yang masih sangat muda.


***


"Dek, kamu lihat hp mas nggak?" ustad Zaki tampak kebingungan mencari benda pipihnya itu, Zahra yang tengah merapikan seragam sekolahnya menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh pada suaminya yang tengah membuka-buka laci, menyingkap di balik bantal dan beberapa benda yang ada di atas meja dan nakas.


Nanti aja deh aku kasih tahu, biarin nggak bawa hp. Aku akan bisa sedikit santai tanpa pengawasannya ....


"Dek," panggil ustad Zaki lagi.


"Ah, iya_, maksudnya aku nggak tahu. Mungkin mas ustad lupa kali!" Zahra berusaha menghindari tatapan sang suami takut jika ketahuan bohong.


"Iya deh dek, ya udah nanti aja di carinya, sudah siang ayo mas antar!"

__ADS_1


"Hmmm!"


Zahra pun dengan cepat keluar dari kamar, ia sengaja menunggu sang suami diluar rumah agar suaminya tidak curiga.


"Sekali-kali di kerjain nggak pa pa kali." gumamnya sambil tersenyum puas.


***


Siang ini seperti biasa, Zahra seharusnya merasa lega karena mungkin sang suami tidak akan menemukannya jika ia menyelinap untuk pergi jalan-jalan sebentar dan pulang sore harinya.


"Seneng banget?" tanya Nur yang menyusulnya setelah selesai mengemasi barang-barangnya.


"Iya dong, hari ini aku mau jalan-jalan."


"Sama ustad Zaki?"


"Nggak dong!"


Nur mengerutkan keningnya begitu mendengar jawaban Zahra,


"Yang bener?"


"Iya dong, asal kamu jangan buka mulut ya. Nanti kalau ketemu mas ustad jangan bilang apa-apa, bilang aja kamu nggak tahu."


"Yakin begitu?"


"Iya dong!"


Tiba-tiba ponsel Zahra berdering, membuat percakapan mereka terhenti.


"Nggak mungkin lah, hp nya mas ustad udah aku sembunyikan!"


"Tega bener sih sama ustad Zaki!"


"Sekali-kali Nur!" ucap Zahra sambil memperhatikan layar ponselnya, ada nomor baru yang tertera di sana tengah melakukan panggilan terhadapnya.


"Siapa?" tanya Nur yang ikut penasaran melihat ekspresi wajah Zahra.


"Nggak tahu, nomor nggak di kenal!"


"Angkat aja, Zah. Siapa tahu penting!"


Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya Zahra pun memutuskan untuk menjawab panggilan telpon itu,


"Hallo!"


"Assalamualaikum dek, mas tunggu di depan ya!"


Zahra benar-benar terkejut sampai tidak bisa menjawabnya, ia menelan Salivanya dengan susah payah,


"Dek," panggil pemilik suara di seberang sana.

__ADS_1


"Waalaikum salam, iya!" jawabnya singkat dan segera menutup sambungan telponnya.


"Siapa?" tanya Nur lagi yang semakin penasaran melihat bagaimana Zahra yang begitu terkejut.


"Mas ustad!" ucap Zahra masih tidak percaya, tapi Nur segera tertawa.


"Malah ketawa sih!?" gerutu Zahra kesal.


"Ya kamu salah jika mengira bisa melawan ustad Zaki, kayaknya ilmu kibulmu nggak sebanding dengan ilmu makrifad yang dimiliki ustad Zaki!"


"Apaan sih, udah ahhh aku duluan!" ucap Zahra dan ia pun segera berlalu meninggalkan Nur.


"Assalamualaikum!" teriak Nur dan Zahra hanya melambaikan tangannya sambil menjawab salam dari Nur tanpa berniat membalik tubuhnya.


Hingga akhirnya Zahra sampai juga di depan sekolah dan benar saja ustad Zaki sudah tersenyum menyambutnya.


Zahra segera meraih tangan sang suami dan mengucapkan salam,


"Bukankah hp nya belum ketemu?"


"Ahhh ini!" ustad Zaki menunjukan benda pipih yang ada di tangannya, "Ada hp satunya, untung mas sempat menyimpan nomor dek Zahra di hp yang ini!"


Benar kan, dia punya hp dua. Mencurigakan sekali, buat apa coba. Siapa yang selalu ia hubungi dengan ponsel itu? Jangan-jangan ...


"Dek, apa ada masalah?" tanya ustad Zaki saat melihat Zahra malah terdiam sambil menatap benda pipih di tangannya.


"Ahhh, enggak! Ya udah ayo pulang!" Zahra segera meraih helm yang berada di atas jok motor ustad Zaki dan memakainya.


"Baiklah ayo!"


***


Sesampai di rumah, ustad Zaki langsung berpamitan untuk pergi lagi. Hari ini acara pernikahan Imah dan Anwar dan ustad Zaki diminta untuk menjadi saksi pernikahan yang di gelar sederhana itu.


"Nggak pa pa kan kalau mas tinggal sendiri? Kalau dek Zahra keberatan, mas akan minta mas Imron buat jemput dek Zahra!"


"Nggak pa pa, pergi saja!"


"Baiklah, kalah ada apa-apa hubungi mas ya, pakek nomor tadi."


"Hmmm!"


Setelah mengucapkan salam, ustad Zaki berlalu dengan motornya dan Zahra dengan cepat masuk ke dalam rumah, ia begitu penasaran dengan ponsel sang suami yang ia sembunyikan di dalam laci meja makan.


"Masih ada!" gumamnya lirih saat menemukan benda pipih milik suaminya itu, "Jadi benar, mas ustad punya hp serepan. Mencurigakan!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2