Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Suaranya merdu


__ADS_3

Zahra masih terus saja berbicara sendiri dalam hati karena kini mulutnya bahkan begitu sulit untuk di gerakkan.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah masjid, dan ustad Zaki pun segera memarkirkan mobilnya.


"Kita sholat di ashar sekalian sholat magrib di sini, kamu jangan keluar-keluar masjid sebelum selesai sholat magrib!" ucap ustad Zaki masih dengan mode dinginnya,


"Tapi aku_!"


"Hubungi mas jika mau ke mana-mana!" ucap ustad Zaki sambil menunjukkan ponselnya.


Zahra hanya bisa menghela nafas dan menundukkan kepalanya, "Iya!"


"Masuklah, mas akan memastikan kamu masuk dulu!" ucap ustad Zaki, meskipun marah tetap saja ia tidak bisa mengabaikan istrinya di tempat asing seperti ini.


"Memang aku mau kabur ke mana!?" gumam Zahra lirih tapi masih bisa di dengar oleh ustad Zaki, walaupun menggerutu tapi tidak ada yang bisa di lakukan selain menuruti permintaan suaminya.


Zahra pun berjalan lebih dulu masuk ke dalam masjid, sedangkan ustad Zaki menunggu hingga Zahra benar-benar masuk barulah ia masuk ke masjid melalui pintu yang lainnya, pintu untuk jamaah laki-laki.


Tepat setelah mengambil wudhu, Iqamah pun berkumandang dan jamaah sudah mulai memenuhi masjid. Sang imam memulai memimpin sholat jama'ah.


Setelah sholat selesai, satu per satu jama'ah meninggalkan masjid tapi tidak dengan ustad Zaki. ia bahkan bergeming di tempatnya, tangannya tampak masih sibuk memutar butiran tasbih dengan bibir yang terus memuji keagungan sang pemilik kehidupan.


Hingga akhirnya ia menutup zikirnya nya dengan doa, menengadahkan kedua tangannya di depan dada.


"Ya Allah, ya Rabb, Engkaulah maha pemberi kehidupan. Aku pasrahkan hidupku pada-Mu, sebagaimana aku memasrahkan kehidupan rumah tangga hamba. Engkau yang mempersatukan kali, maka aku memohon jagalah ikatan ini sebagaimana Engkau menjaga dia untuk hamba, amin!" kedua telapak tangannya segera mengusap wajahnya dengan begitu hikmat.

__ADS_1


Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu sholat magrib, ustad Zaki pun mengambil sebuah mushaf Al Qur'an dan mulai membacanya, tidak lupa ia meletakkan ponselnya tepat di samping ia duduk agar ia tahu jika ada pesan yang masuk.


Di sisi lain masjid itu, Zahra yang tengah duduk tanpa berniat melepas mukenanya itu tengah memainkan ponselnya tapi segera perhatiannya teralihkan pada suara merdu yang tengah melantunkan ayat-ayat Allah. Suara itu berhasil membuat hatinya yang tengah galau menjadi tenang.


"Siapa yang mengaji? Merdu sekali!" gumamnya pelan, ia segara menggeser duduknya mendekati tirai penyekat antara jama'ah perempuan dan laki-laki, ia begitu penasaran dengan pemilik suara merdu itu.


"Mas ustad!?" gumamnya begitu tahu siapa pemilik suara merdu itu.


"Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya, apa mas ustad tidak pernah membaca Al Qur'an di rumah atau aku yang masa bodo?" Zahra malah sibuk mencari jawaban atas pertanyaan nya sendiri.


"Ini aku yang beruntung atau ustad Zaki yang rugi karena menikah denganku? Aku kan nggak punya kelebihan apa-apa, jangankan suara merdu, jus tiga puluh aja cuma hafal beberapa ayat itupun cuma yang pendek-pendek banget!" rasa minder tiba-tiba hadir dalam benaknya. Suaminya terlalu sempurna untuknya yang memiliki banyak kekurangan.


"Ya Allah, selama ini aku terlalu congkak, aku merasa aku yang paling baik untuk diriku sendiri. Tapi nyatanya aku begitu kecil, ya Allah!"


Hingga akhirnya lantunan ayat suci Alquran yang di baca oleh ustad Zaki terhenti saat sholat magrib akan segera di mulai.


Sholat jama'ah selesai, seperti yang di minta ustad Zaki. Zahra segera keluar dari masjid tapi ia tidak berani berjalan terlalu jauh. Ia memilih duduk di teras untuk menunggu sang suami, ia tahu kebiasaan suaminya yang zikirnya lama.


"Sudah?"


Tapi ternyata ia salah, ustad Zaki sudah berdiri di belakangnya. Ustad Zaki sengaja memperpendek doanya karena rasa khawatir terhadap Zahra.


"Kok sudah selesai?" tanya Zahra penasaran.


"Sengaja, ayo!" ustad Zaki segera berjalan mendahului Zahra dan memakai kembali sendalnya.

__ADS_1


Dia ternyata masih marah ....


Zahra tidak berani banyak bertanya, ia hanya mengikuti langkah suaminya.


"Mas, suara mas ustad tadi_!" ucapan Zahra menggantung saat tiba-tiba ustad Zaki menghentikan langkahnya dan menoleh padanya.


"Merdu!" ucapnya lagi saat ustad Zaki tidak juga mengatakan apapun.


"Kita ke hotel!" ucap ustad Zaki seketika berhasil membuat Zahra terkejut.


Hotel? batin Zahra, ia sudah membayangkan hal-hal yang tidak masuk akal di sana.


"Ke hotel? Ngapain?" tanya Zahra yang begitu terkejut.


"Kita menginap di hotel dan pulang besok pagi!"


"Tapi kita tidak ngapa-ngapain kan di sana?" tanya Zahra lagi dan ustad Zaki menggelengkan kepalanya, tangannya mulai meraih handle pintu mobil dan membukakan untuk Zahra.


"Masuklah!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2