
" apa yang terjadi nak?" mamah widia menghampiri putra kesayangannya dan menyentuh pipihnya yang merah terlihat ada bekas telapak tangan yang mendarat disana.
" apa yang kau lakukan pah pada putraku?" tanya mamah widia penasaran.
" tanyakan sendiri pada putra kesayanganmu itu, apa yang sudah dilakukannya pada cahaya?" kata pak bram menunjuk kearah Reihan dengan tatapan yang tajam.
Reihan menundukan wajahnya dan tangan kanannya memegang tengkuk lehernya dengan pandangan sesekali menatap ke arah cahaya.
"sial kenapa aku sampai semabuk itu semalan.. dan ahhhhh... gadis itu bagaimana bisa aku berjalan masuk kekamar ini dan melakukan itu padanya?"
keluh Rei kesal dalam hati .
" Sudahlah pah.. semua itu pasti karena Rei sedang mabuk semalam jadi membuat dia salah masuk kamar" kata mamah widia membela dan menghampiri suaminya merangkul tangannya berharap suaminya meredam emosinya.
" apa katamu sudahlah... jadi aku harus membiarkan begitu saja perbuatan anakku yang sudah menghancurkan hidup putri sahabatku" kata pak bram dengan emosi dan menepis tangan istrinya yang sudah melingkar dilengannya.
" aku tidak akan memaafkannya, aku sudah berjanji pada darmawan untuk menjaga cahaya dan menggapnya seperti putriku sendiri" jelas pak bram.
" meskipun dia adalah putraku sendiri aku akan memberi perhitungan padanya."
" apa maksud papah?" tanya mamah widia
__ADS_1
" Reihan harus bertanggung jawab atas perbuatannya" jawab pak bram
" bertanggung jawab apa maksud papah?"
tanya Rei yang sedari tadi terdiam.
"Kau harus menikahinya" jawab papahnya
Rei terkejut dengan ucapan ayahnya.
" menikah..? itu tidak mungkin pah, aku tidak mungkin menikah dengan gadis kampung itu". ucap Rei sambil mengacak acak rambutnya merasa konyol dengan ucapan papahnya.
" ya..." jawaban pak bram tanpa ingin dibantah.
" jangan-jangan gadis kampung itu memang sengaja menjebak Rei supaya papah menikahkan dia dengan putra kita. lalu berencana menguasai harta kita. dasar licik". ucap sinis mamah widia dengan nada tinggi menatap kearah cahaya.
sementara yang ditatap masih menangis sesenggukan.
" Tutup mulutmu.. !" bentak pak bram
" pah... semalam aku mabuk dan kamar ini tidak terkunci yang aku tau kamar ini kosong jadi ini bukan salahku sepenuhnya pah" kata Rei penuh pembelaan diri.
__ADS_1
" mabuk? dasar anak tidak berguna setiap hari bisanya cuma menghambur hamburkan uang, mabuk-mabukan" keluh pak bram geram dengan kebiasaan buruk putranya
" jika kamu tidak mau menikahinya papah anggap, papah tidak punya anak laki-laki sepertimu"
pak bram mendekati cahaya berjongkok agar mereka sejajar " cahaya , om benar-benar minta maaf , om telah mengecewakan ayahmu.." kata- katanya lirih penuh rasa bersalah.
cahaya tetap diam tak bicara sepatah katapun. tatapannya kosong pikirannya entah menerawang kemana.
"Darmawan maafkan aku..!" dengan kepalan tangan yang ia hantamkan kelantai suaranya begitu lerih air matanya pun mengalir tanpa kendali. Perasaan bersalah kepada sahabatnya begitu besar .
Tubuh cahaya gemetar, tangannya terasa kebas pandangannya gelap dan suara pak bram yang memanggil namannyapun sayup-sayup menghilang.
BRuuukkkk...
Tubuh cahaya terhempas kelantai tak sadarkan diri.
" Tuan non cahaya pingsan!" ucap mbok ijah penuh kekhawatiran.
pak bram langsung mengangkat tubuh cahaya dan membaringkannya di atas tempat tidur.
" panggilkan dokter hery cepat!" teriak pak bram pada Rei yang tertegun melihat raut kecemasan diwajah papahnya.
__ADS_1