
Cahaya bergegas masuk kedalam rumah saat ingin menaiki tangga ia melihat Bram dan Widia sedang duduk di ruang TV langkahnya terhenti dan memutuskan untuk menghampiri mereka terlebih dahulu.
" Pah... Mah...!" sapa Cahaya dengan suara parau.
" Sayang kamu udah pulang? " Bram beranjak dari duduknya dan dengan senyum terukir diwajahnya pria paruh baya itu menghampiri menantu kesayangannya itu. Widia hanya berdecik melihat pemandangan yang menurutnya sangat memuakkan. ia menatap sinis kearah cahaya.
" Kau pulang sendiri , dimana anak kesayanganku?" tanya widia dengan sinis.
" Reihan ada didepan Mah, dia...!" ucap Cahaya terhenti saat ia mendengar suara langkah kaki berjalan menghampiri mereka.
" Pah, mah.. Maaf Cahaya keatas dulu !"
" Pergilah nak, istirahatlah kamu pasti capek !"
ucap Bram dengan lembut membelai pucuk kepala Cahaya.
" Terima kasih pah !" Cahaya melempar senyum.
" Dasar tidak sopan suaminya ditinggal begitu saja, menantu tak tau diri dasar gadis kampung!" ucap Widia dengan kasar.
__ADS_1
" Mah, cukup jaga bicaramu !" bentak Bram.
" Mungkin Cahaya merasa lelah karena perjalanan yang cukup jauh jangan bicara hal yang bodoh lagi mengenai cahaya " Bram hendak melangkah meninggalkan Widia namun suara wanita yang terdengar sangat manja memanggil isterinya membuat langkahnya terhenti. Bram menoleh kesumber suara dan betapa terkejutnya Bram saat melihat Reihan berjalan menghampirinya dengan seorang wanita yang menggandeng tangannya mesra.
" Tante Widia...!" teriak Clara menghampiri widia dan memeluknya.
" Clara, sayang.... kapan kau pulang kok gak kasih kabar dulu ke tante?" Widia memeluk Clara dan terlihat sangat senang dengan kedatangan gadis yang sangat ingin dijadikannya menantu.
" Baru aja tante, sengaja aku gak pulang dulu ke rumah dan langsung kesini karena ingin memberi kejutan untuk Reihan tante" Clara menoleh ke Reihan dengan senyum yang mengembang.
Bram menatap Reihan dengan mata yang mulai merah menandakan kobaran api amarah yang mulai menjalar di tubuh pria paruh baya itu. Reihan mengerti arti tatapan dari papahnya sendiri yang seakan meminta penjelasan Reihan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. beberapa kali ia menghempaskan napasnya dengan kasar.
REIHANđź’™
" Aku tahu diatas sana kau pasti sedang terluka bahkan mungkin saat ini kau sedang menangis. maaf hanya itu yang bisa aku katakan padamu, Entah apa yang aku rasakan aku juga tidak mengerti aku pikir aku sudah melupakannya dan benar-benar bisa menerimamu seutuhnya dihatiku. namun saat melihatnya kembali dan berdiri dihadapanku perasaan itu sedikit masih tersisah untuknya bahkan saat ia menciumku perasaan itu semakin kuat aku rasakan. sampai aku lupa kau masih berada disampingku menyaksikan hal yang pasti telah membuatmu terluka.
sial... aku benci perasaan ini yang bercampur aduk "
Reihan bergumam dalam hati.
__ADS_1
Bram merasa kesal dengan pemandangan yang ada dihadapannya. ia lebih memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Widia dan Clara sedang asik mengobrol di ruang tv Reihan kemudian pamit dengan ibunya untuk pergi kekamarnya.
" Mah, aku tinggal dulu kekamar kalian mengobrolah dulu melepaskan kerinduan kalian." ucap Reihan yang beranjak dari duduknya.
" Sayang tinggalah disini dulu temani Clara !" kata widia yang tidak ingin putranya menemui menantunya.
" Aku mau mandi dulu, badanku terasa lengket karena perjalanan yang cukup jauh" terang Reihan yang setengah berlari menaiki anak tangga.
WIDIAđź’‹
" Pasti menemui gadis kampung itu, awas saja kalau dia sampai mempengaruhi putraku akan aku beri perhitungan gadis tak tau diri itu" Gumam Widia dalam hati.
" Tante... tante... " panggil Clara memecahkan lamunan widia yang menatap Reihan menaiki anak tangga sampai tak terlihat.
" akhh... iya sayang, maafkan tante !" widia tersenyum dan membelai rambut Clara dengan lembut.
" Hari sudah malam sayang, sebaiknya kamu menginap saja di Rumah ini gak baik gadis secantik kamu masih keluyuran ditengah malam seperti ini lagipula tante masih kangen sama kamu !" ucap Widia dengan lembut.
__ADS_1