
Cahaya sedang bersiap-siap dikamarnya.
untuk pertama kalinya setelah sekian lama Cahaya akan pergi menemui ayah dan ibu mertuanya. Ada rasa gugup dan takut dalam hati Cahaya teringat beberapa tahun yang lalu sikap ibu mertuanya yang selalu berusaha untuk memisahkannya dengan suaminya.
Cahaya duduk didepan meja rias memperhatikan wajahnya dicermin dengan raut wajah muram. Reihan yang duduk di sofa dengan leptop dipangkuannya menoleh memperhatikan isterinya yang tampak gelisah. Reihan menutup leptopnya dan meletakkannya diatas meja lalu berdiru dan menghampiri Cahaya merangkulnya dari belakang dan menjatuhkan kepalanya di pundak Cahaya.
" Ada apa, kenapa kau terlihat gelisah sayang?" Reihan menatapa wajah Cahaya dari cermin begitupun Cahaya menatap lekat suaminya dicermin lalu tersenyum tipis.
" Aku tidak apa-apa, hanya sedikit gugup!" Ucap Cahaya tersenyum dan mengelus pipi Reihan lembut.
" Tidak perlu gugup ada aku disisimu, apapun yang mamah katakan nanti aku harap kamu tetap percaya padaku. kita akan selalu bersama-sama apapun yang akan terjadi!"
" Hemmm..!" Jawab singkat Cahaya dengan seulas senyum dan berdiri sehingga kini mereka saling berhadapan.
" Aku mencintaimu sayang!" Reihan menarik tengkuk Cahaya dan mengecupnya Singkat Cahaya tersenyum dan Reihan mengecupnya kembali dan kali ini bukan hanya sekedar kecupan tapi sebuah ******* lembut.
Tok..tokkk...tokkkk.....
Pintu diketuk dari luar dan Reihan melepaskan ciumannya dan merapihkan rambut dan bajunya begitu juga Cahaya yang entah kenapa masih saja merasa canggung setiap kali Reihan menciumnya.
Reihan berjalan mendekati pintu dan membukanya, Raka merentangkan tangannya saat melihat Reihan dan minta digendong. bi susan yang datang membawa Raka menyerahkan Raka pada Reihan setelah dimandikan dan dipakaikan baju setelan jas kecil yang membuat baby Raka terlihat begitu tampan dan menggemaskan.
Reihan masuk dan menutup pintu kamarnya menghampiri Cahaya dengan Raka berada digendongannya dan bi susan kembali kedapur setelah mengantarkan baby Raka pada kedua orangtuanya.
__ADS_1
" Duhhhh.... tampannya jagoan mamah, sini sama mamah!" Reihan memberikan Raka pada Cahaya dan Cahaya mencium buah hatinya berkali kali karena gemas.
Setelah rapih Reihan dan Cahaya yang membawa Raka turun dari lantai 2 dan menghampiri Sekar yang sedang duduk diruang utama bersama Reno dan Intan.
" Hai ganteng, !" Reno mencubit pipi Raka yang gembul dan Cahaya menepisnya.
" Mas Reno ini suka sekali sih mencubit pipi Raka, kalau Raka menangis bagaimana?" Kesal Cahaya.
" Dia tidak akan menangis, Raka itukan anak hebat, iya kan ganteng?" Reno kembali nencubit pipi gembul Raka dan kali ini Raka benar-benar menangis. Cahaya memukul bahu Reno karena sudah membuat Raka menangis. Reihan langsung mengambil Raka dari gendongan Cahaya karena bukannya mendiamkan Raka yang menangis Cahaya malah sibuk memarahi Reno dan tanpa sadar hsl itu membuat Raka semakin menangis.
Reihan hanya menggelengkan kepalanya melihat adik kakak yang tidak hentinya bertengkar.
" Sudah -sudah, Ca kamu ini bukannya mendiamkan anakmu yang menangis malah sibuk dengan memarahi Reno.!" Reno menari narik alisnya mengejek Cahaya dan berhenti mengejak Cahaya setelah mendapat tatapan tajam dari sang mamah.
" Habis gemas mah!" Reno menanggapi ucapan Sekar.
" Makanya cepat bikin biar punya sendiri dan tidak mengganggu milik orang!" Tutur Cahaya yang masih kesal.
" Iya aku akan bikin nanti setelah dapat lampu hijau!" Tegas Reno menanggapi serius ucapan Cahaya dan melirik Intan yang duduk pura-pura sibuk dengan ponselnya.
" Mas Reno mau membuat anak dengan siapa, kucing?" Ledek Cahaya membuat Intan terkejut dengan ucapannya.
" Uhukkk.... uhukkk!" Intan terbatuk batuk dan Cahaya menoleh padanya saat Reno dengan sigap mengambil air minum dan menyodorkannya pada Intan.
__ADS_1
" Terima kasih !" Ucap Intan gugup dan meminum airminum yang diberikan Reno hingga tinggal setengahnya.
" Ya udah ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Sekar pada semuanya. " Reno sebaiknya kamu antarkan Intan pulang baru setelah itu kau bisa menyusul!" Titah Sekar.
"Iya mah!" jawab Reno singkat lalu menatap lekat Intan.
" Tumban langsung mengiyakan!" Celoteh Cahaya membuat Reno mendelik padanya.
" Sudah-sudah kau ini suka sekali meledek kakakmu!" Tegur Sekar dan Cahaya cengengesan.
" Antarkan sahabatku sampai ketujuan jaga dengan baik awas saja kalau sampai lecet!" Ancam Cahaya pada dan Reno mendorong Cahaya agar cepat pergi
" Bawel!" seru Reno membuka pintu mobil dan mendorong paksa Cahaya untuk masuk. Reihan hanya menggeleng melihat tingkah isteri dan kakak iparnya. Reihan masuk kedalam mobil begitu juga Sekar masuk kedalam mobil duduk dibelakang dengan Raka digendongannya.
Cahaya membuka kaca mobilnya " Intan jaga dirimu baik-baik ya, kalau Mas Reno macam-macam pukul saja ya!" Teriak Cahaya dari dalam mobil dan Reno mendorong masuk kepala Cahaya yang keluar kaca.
" Rei, tutup kacanya isterimu bawel sekali!" Titah Reno mendengus kesal dan Reihan langsung menuruti permintaan Kakak iparnya menutup kaca mobil dan menguncinya.
" Dahhhh...!" Reno mengangkat tangannya keudara melambaikan tangan pada Cahaya.
" Rei... ayo berangkat!" Titah Sekar yang duduk di bangku belakang
" Baik mah!" Reihan menghidupkan mesin mobilnya dan melaju keluar dari pekarangan rumahnya Reno memperhatikannya sampai mobil Reihan menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Setelah mobil Reihan sudah tidak nampak lagi Reno masuk kedalam mobilnya dan Intan duduk dibangku sampingnya. Reno pergi mengantarkan Intan pulang dan tidak seperti biasanya suasana didalam mobil kali ini berbeda, tidak ada Reno yang dingin dan cuek melainkan Reno yang hangat dan perhatian.