
Langkah Reno semakin dekat namun tiba-tiba senyum diwajahnya menghilang seketika. Reno menatap lekat mata wanita yang sangat ia cintai dihadapannya itu sudah menganak sungai.
" Kau menangis!" Reno menjulurkan tangannya ingin menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Intan namun tangan kekar itu ditepis kasar.
" Jangan sentuh aku!" Intan menjauh dari Reno namun baru dua langkah tangannya ditarik oleh Reno hingga membentur dadanya.
Reno dan Intan saling berhadapan dan netra keduanya saling menatap lekat. tidak ada yang berbicara hanya ada kesunyian. 10 menit berlalu Reno maupun Intan tidak ada yang berbicara keduanya masih saling bertatapan sampai akhirnya...
dreettt.... dreetttt...
suara dering ponsel Reno mengejutkan keduanya. " Maaf!" Reno mengambil ponselnya dari saku celananya dan melihat layar ternyata Amira yang tengah menghubunginya. Reno memasukkan ponselnya kembali kesaku celananya setelah mengganti mode senyap dan Intan sudah berada dibibir pintu.
" Sebaiknya kau pergi !" intan dengan suara datar.
" aku tidak mau!" ucap Reno dengan santai dan mendaratkan bokongnya di sofa.
" cihh...!" Intan mendengus kesal dan menghampiri Reno dengan tatapan sinis.
" Sekarang cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan?" ketus Intan
" Sebelum aku mengatakan semuanya apa tidak ada makan atau minum untukku!" Reno membuat Intan memincingkan alisnya. sikap Reno membuat Intan semakin kesal saja.
" Tidak ada, kau mau mengatakannya atau mau aku panggilkan petugas keamanan hotel ini?" Ancam Intan.
" hemmmm...!" Reno menghela napasnya.
" Tidak bisakah kau duduk dulu!" Ucap Reno lembut. Reno tersenyum tipis saat Intan sudah duduk disampingnya. Reno menatapnya lekat dan jantungnya berdegup sangat kencang. spontan Reno memegang dadanya yang terasa akan meledak. Intan memperhatikan Reno entah mengapa raut kekhawatiran tersirat diwajah Intan. Reno memperhatikan Intan yang nampak mencemaskan keadaannya tanpa membuang kesempatan Reno langsung berpura-pura kesakitan.
" Aaaa....!" Reno memegang dadanya
" Jangan bercanda, sudah cepat bicara. kau tidak bisa menipuku!" Intan pura-pura acuh padahal sangat jelas ia begitu cemas.
" Terserah kau mau bilang apa, beri waktu untukku istirahat sebentar saja!" Ucap Reno yang sengaja di buat terbata-bata.
Intan diam sambil bermain ponselnya tapi sesekali ia melirik Reno yang duduk bersandar disofa dengan tangan masih berada didadanya dan mata yang terpejam.
" Kau tidak apa-apa?" Akhirnya Intan tak kuasa juga menahan kecemasannya dan menyodorkannya air minum yang sempat diambilnya dari lemari pendingin.
Reno membuka matanya dan mengambil minum yang disodorkan Intan. " Terima kasih. aku tidak apa-apa!"
" Apa kau kabur dari rumah sakit?" Selidik Intan
" Menurutmu?" Reno balik bertanya.
" Cihh... !" Intan kesal. " Kalau kau merasa sakit seperti itu sebaiknya kau kembali ke rumah sakit. kau itu benar-benar menyebalkan ya, belum sembuh tapi malah kabur!" Gerutu Intan.
" Aku tidak mau kembali ke rumah sakit!" ucap Reno pelan seolah menahan sakit.
__ADS_1
"Tapi kau kesakitan seperti itu, kalau kenapa-kenapa bagaimana?" Intan benar-benar cemas tingkat dewa.
" Aku tidak apa-apa, rasa sakit yang aku rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku lakukan padamu. Maafkan aku!" Reno menatap lekat Intan, meraih satu tangannya dan menggenggamnya.
Nyessssss....
Hati Intan rasanya meleleh. Intan menarik tangannya yang digenggam Reno namun Reno semakin mengeratkan genggamannya.
" Biarkan seperti ini!"
" Ak...aku...!" Intan merasa sangat gugup.
" Aku minta maaf!"
" Sudahlah lupakan saja!" Intan berdiri tapi Reno malah menariknya sampai ia terjatuh dipangkuan Reno.
" lepaskan aku!" teriak Intan saat Reno melingkarkan tangannya dipinggangnya.
" Diam dan dengarkan aku sebentar saja!" Ucap Reno dengan sangat lembut. Intan yang berontakpun akhirnya diam duduk dipangkuan Reno.
" Aku minta maaf jika aku sudah melukai hatimu, terserah kau akan memaafkanku atau akan semakin membenci setelah ini tapi kau harus tau satu hal aku dan Amira tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya kau yang ada dihatiku Intan. soal kejadian itu...... dia yang memaksaku aku tidak pernah membalasnya. Amira adalah teman kuliahku dulu di Amerika, dari dulu dia sudah berapa kali menyatakan perasaannya kepadaku. tapi aku tidak pernah menerimanya. waktu kuliah aku ingin segera lulus. aku hanya sekali pacaran dan itupun bukan dengan Amira tapi dengan Alisa sepupu Amira. setelah tau aku dan Alisa pacaran Amira sangat marah dan menjebak Alisa dengan seorang pria di hotel untung pria itu baik dan mau bertanggung jawab. sejak itulah aku dan Alisa berpisah. Amira terus mengejarku meskipun sudah aku tolak berkali kali Amira tidak mau menyerah. dan kau tau siapa penyebab perusahan ku dalam masalah beberapa hari ini." Intan menggeleng. " Amira. Dialah penyebabnya"
" Amira?"
" Hemmm... Dia akan melakukan segala cara. aku pikir dengan kepergianku kembali ke Indonesia dia akan menyerah tapi ternyata aku salah. dan yang aku khawatirkan dia juga tahu tentang dirimu. karena itu aku sangat takut, aku benar -benar takut dia melakukan hal buruk padamu!" Ucap Reno lirih dan membenamkan wajahnya pada punggung Intan. " Kejadian yang kau lihat di mall maupun di rumah sakit itu semua karena dia yang memaksaku bahkan mengancamku." Reno melepaskan pelukannya dan Intan bergeser duduk disampingnya menatap
" Aku tahu aku egois jika memaksamu untuk tetap bertahan disisiku. tapi aku sungguh sungguh ingin hidup bersamamu. hanya kau yang aku cintai dan aku ingin memiliki keluarga kecil bersamamu hingga menua bersama anak-anak kita kelak, apa kau juga mencintaiku?" Reno menatap lekat mata Intan yang sudah basah dengan air mata. Reno mengusap airmata Intan dengan ibu jarinya.
" Mas Reno....!" Lirih Intan.
" Aku tidak akan memaksamu. maaf jika aku bicara seperti ini padamu. setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. jaga dirimu dengan baik. memang sebaiknya kau menjauh dariku dengan begitu Amira tidak akan menyakitimu. jika kau bertemu dengannya menghindarlah dan katakan padanya kau tidak mengenalku!" Reno tersenyum tipis lalu bangkit dari duduknya berjalan keluar dengan gontai.
" Mas Reno!" Panggil Intan disela tangisnya.
Hati Intan terasa sesak, jika benar-benar harus berpisah dengan Reno hatinya seakan tidak rela. setelah berpikir matang Intan bangun dan berdiri menatap punggung Reno yang berada dibibir pintu. Reno memegang hendle pintu dan membukanya namun belum sempat pintu itu terbuka Intan sudah berhambur memeluk tubuh kekar dan tinggi Reno dari belakang.
" Aku mencintaimu... aku juga mencintaimu mas, aku ingin kita hidup bersama, menua bersama dengan anak-anak kita kelak. jangan pergi. aku percaya padamu mas!" Intan menangis sejadi jadinya dipunggung Reno hingga baju yang Reno pakai basah dengan airmata Intan.
" Terima kasih!" Reno melepaskan pelukan Intan dan memutar badannya hingga saling berhadapan. Reno dan Intan saling menatap lekat dan keduanya lalu tertawa bersama.
Reno menarik tubuh Intan kedalam pelukannya dan Intan membalas pelukannya. Intan tiba-tiba mendorong badan Reno dan mendongak menatap lekat wajahnya.
" Tunggu dulu, sakitmu bagaimana rasa sakit didadamu tadi?" Intan meraba raba dada Reno yang tadi dipegang Reno.
" Aku sudah tidak apa-apa. semuanya sudah hilang disembuhkan oleh dokter cinta!" Reno mencubit hidung mancung Intan.
" Ihh.. mas Reno sakit tau!" Kesal Intan dan cemberut.
__ADS_1
" Jangan cemberut jika cemberut kamu itu bikin gemes sayang!" Goda Reno.
" Mas Reno!" Intan memukul dada Reno pelan.
" Haa...ha ... wajahmu kenapa merah seperti itu?" Reno membuat Intan salah tingkah dan tersipu malu.
" Bagaimana aku bisa melupakan kekasihku yang menggemaskan ini.. hem?" Reno kembalu memeluk Intan dengan erat dan mengecup keningnya.
" Aku ingin lusa kita segera menikah!" Tegas Reno.
" Apa menikah, lusa?" Intan terkejut " Jangan bercanda mas?" Intan melepaskan pelukan Reno namun Reno semakin mengeratkan pelukannya.
" Aku tidak bercanda sayang, aku serius!" Reno bicara meyakinkan.
" Tapi mas, itu terlalu terburu buru" Intan merasa semua terlalu cepat .
" Apa kamu belum yakin dengan ku?"
" Bukan begitu mas, menikah itu butuh persiapan!"
" Apa kamu belum siap menjadi isteriku?"
" Mas bukan itu maksudku, bagaimana dengan keluargamu apa mereka semua setuju dan mamah?" Intan terdiam.
" Tenang saja , mamah pasti setuju aja jika kau menjadi menantunya. untuk semua persiapan pernikahan kamu tidak usah khawatir Reihan dan Bima mereka pasti bisa membantu kita, kau tenang saja!"
" Yaudah terserah mas aja!" Intan pasrah.
" Gitu dong sayang!" Reno membelai rambut indah Intan dengan lembut.
" Mas sudah hampir pagi, tuh lihat sudah jam 3 pagi. udah sana kembali kekamar mas Reno. istirahat mas kan belum sembuh benar!" Intan mengingatkan.
" Mas tidur disini saja, mas males disana gak ada kamu!" Gombal Reno.
" Mas apaan sih, garing tau!" Intan cemberut.
" Iya..iya.. mas pergi, kamu juga istirahat ya sayang.!" Ucap Reno dengan lembut.
" iya mas!" Intan mendorong tubuh Reno keluar namun Reno terus saja berbalik terasa berat berpisah dengan Intan walaupun sebenarnya kamar mereka terletak saling berhadapan.
" Sudah sana mas pergi!" Usir Intan saat keduanya berada didepan pintu.
" Iya mas akan pergi kekamar mas!"
Intan terkejut karena bukannya pergi Reno malah berjalan mundur hingga mentok didepan pintu kamar yang berhadapan dengan kamar Intan.
Reno membuka pintu dan Intan tertawa lepas. "jadi kamar mas Reno itu., dekat sekali!"
__ADS_1