
Mas....!"
Cekrekkkk....
Ucapan Reihan terhenti ketika mendengar suara pintu terbuka.
Menyembul sosok seorang pria masuk keruangan tersebut dengan mata merah dan otot rahang yang mengeras.
Cahaya dan Reihan spontan menoleh kesumber suara. Betapa terkejutnya Reihan yang secara tiba-tiba mendapatkan bogeman mentah dari pria yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
" Aaaaaaaaa.....!" teriak Cahaya menutup mulut dengan tangannya. Ia merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Reihan terjatuh kelantai karena pukulan Reno yang terlalu keras. Reihan bangkit dan membalas memberi pukulan kencang mengenai perut Reno sampain Reno meringis kesakitan tapi karena masih merasa tidak terima Reno pun menghantam kembali Reihan dan kali ini mengenai perutnya hingga Reihan tersengkur kesakitan.
" Cukup mas, hentikan!" Teriakan Cahaya yang tidak digubris oleh mereka. akhirnya Intan menghampiri keduanya yang masih baku hantam tidak ada yang mau mengalah.
" Sudah Cukup, Hentikan!" Teriakan Intan yang sangat keras membuat keduanya terhenti dan menoleh kearahnya.
" Kalian ini benar-benar keterlaluan, ini rumah sakit bukan ring tinju. kalau kalian ingin saling baku hantam pergi saja ke ring tinju bukan kesini!" Entah keberanian dari mana Intan sampai berani berteriak kepada mereka. Intan dengan hati deg degan menghampiri Cahaya dan memeluknya.
" Kalian tuh jangan bersikap seperti anak kecil. kalian tahu bukan kalau Cahaya sedang hamil jadi jauhkan dia dari stress bukan seperti yang kalian perlihatkan barusan.!" Intan kembali berucap dan keduanya duduk terkulai lemas dilantai dengan wajah yang sudah babak belur.
" Pak Reno apa maksudmu datang-datang menghajarku?" Reihan bertanya heran sambil mengusap darah kental diujung bibirnya.
Reno berdiri dan menatap tajam Reihan
" Itu belum seberapa, kalau bukan karena kau ini ayah dari bayi yang Cahaya kandung sudah ku habisi kau!" ucap Reno penuh emosi.
"Apa hakmu, atau jangan - jangan selama ini kau diam-diam menaruh hati dengan isteriku, iya?"Reihan bangun dan berdiri dihadapan Reno dengan mata yang tak bersahabat.
" Terserah kau mau bilang apa, tapi yang harus kau tau kau buat Cahaya menangis aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu!"
__ADS_1
Ancam Reno dengan tegas.
"Mas, sudahlah hentikan.!" teriak Cahaya menghentikan pertengkaran mereka.
" Intan bisa tolong aku untuk meminta obat untuk mereka!" Intan langsung mengangguki ucapan Cahaya dan pergi keluar ruangan.
Reno dan Reihan saling menatap sinis. dan tidak berapa lama Intan kembali dengan obat luka ditangannya.
Intan menghampiri Cahaya dan memberi obat luka yang dipegangnya.
" Intan tolong ya kamu obati luka pak Reno?" ucap Cahaya
" Ca.... maaf aku tidak memiliki keberanian untuk itu!" bisik intan pada Cahaya.
Cahaya sadar selama ini Reno hanya bersikap biasa kalau bersamanya saja selebihnya dia tetap seperti dulu CEO yang dingin dan arogan. Cahaya menghela napas panjang dan menatap sendu keduanya.
" Mas kemarilah!" Panggil Cahaya dengan obat luka ditangannya.
" Mas Reno, kemarikah!" Reihan mendelik kesal karena Cahaya lebih memilih Reno daripada dirinya. dia terlihat geram tapi berusaha menahan emosinya.
Reno dengan sengaja bersikap manja dengan Cahaya ia meringis seolah benar-benar merasa kesakitan. dengan tekun Cahaya mengobati Reno " Mas, lain kali jangan bersikap seperti ini, kalau mamah tahu bisa heboh nanti!" Ucap Cahaya pelan.
Reno hanya tersenyum lalu memegang tangan Cahaya. Reihan semakin emosi melihat isterinya disentuh oleh laki-laki lain.
" Kau ini mau balas dendam padaku. bermesraan dihadapanku. aku ini masih suamimu cahaya!" Reihan mengepalkan tangan dengan kuat.
Reno yang menyadari Reihan sedang dilanda api cemburu dengan sengaja Reno semakin menyulut api cemburu Reihan yang sudah berkobar-kobar.
" Ca, bagaimana keadaan kamu? maaf tadi mas gak tau kalau kamu pingsan!" Reno menghentikan tangan Cahaya yang sedang mengolesi obat merah pada wajahnya.
" aku baik-baik saja mas!" jawab Cahaya lalu kembali mengobati luka Reno.
__ADS_1
" Terus bagaimana kondisi kandunganmu, hai sayang apa kamu baik-baik saja didalam sana?" Reno mengelus perut Cahaya dan mengajaknya bicara.
Reihan yang melihat aksi Reno tersebut seketika langsung berteriak " Hei..Singkirkan tanganmu!" Sontak hal itu membuat Reno dan Cahaya menoleh kearahnya.
" Memang kenapa jika aku memegangnya, apa pedulimu. sebaiknya kau pergi sana urusi tunanganmu itu!"Ucap Reno menyindir.
" Tunangan?" Tanya Cahaya menghentikan tanganya yang sedang menobati luka Reno.
"Maksud mas Reno apa, tunangan?" Cahaya menatap tajam kearah Reihan.
Dengan Cepat Reihan menghampiri Cahaya dan menggeser Reno dengan kasar. sampai membuat Reno berdecak kesal.
" Bukan seperti yang kamu pikirkan sayang. Itu ulah mamah sayang, percaya sama mas dalam hidup mas cuma ada kamu sayang!" Reihan berusaha mayakini Cahaya.
Reno memilih mundur dan menghampiri Intan yang tertunduk diam sambil memegang keningnya.
" Kamu kenapa?" Tanya Reno yang membuat Intan terperanjat kaget.
" Ahhh tidak apa-apa pak!" Intan berbohong.
" Wajahmu sedikit pucat, kamu sakit?" Reno duduk disebelah Intan
" Cuma pusing sedikit pak, nanti juga hilang!" Intan membetulkan posisi duduknya. saat itu ia merasa sangat gugup, entah kenapa setiap kali berdekatan dengan Reno debaran jantungnya seakan tidak bisa ia kuasai.
" Ikut aku!" Reno bangkit dari duduknya dan menarik tangan Intan.
Reno dan Intan berjalan keluar dengan rangan Reno yang menggandeng tangan Intan. Cahaya tersenyum senang melihat adegan didepan matanya sementara Reihan memincing menatap aneh ke arah Reno.
Ada apa dengannya tadi dia begitu marah aku mendekati Cahaya tapi coba lihat sekarang jelas-jelas menggandeng tangan intan didepan Cahaya..
" Sayang, mereka!" tanya Reihan yang merasa aneh dengan apa yang dilihatnya." Apa kamu gak marah melihat mereka seperti itu?" Reihan menunjuk dengan dagunya kearah Reno dan intan yang sudah pergi keluar ruangan.
__ADS_1
" Marah?.untuk apa aku harus marah." Cahaya lalu mengobati luka Reihan hingga membuat Reihan tersenyum bahagia.