
Intan sangat menikmati makanan yang telah dipesan Reno ia merasa sangat lapar sampai tidak sadar makanan yang ada diatas meja telah habis disantapnya.
Reno menyodorkan segelas minuman dan intan langsung meraih minuman tersebut dan meneguknya hingga tersisa setengahnya.
" Kau lapar atau apa, lihat kau bahkan sanggup menghabiskan semua makanannya?" Reno menggelengkan kepala merasa heran dengan intan tubuhnya kurus tapi makannya banyak.
" Maaf pak karena saya sudah menghabiskan makanan pak Reno!" Intan merasa malu karena sudah menghabiskan semua makanan.
" Sudahlah tidak apa-apa kali ini aku maafkan, dan satu lagi jangan panggil aku pak!" Reno berdiri lalu melangkah pergi namun baru selangkah Intan menghentikan langkahnya.
" Maaf pak maksud saya Mas Reno, bagaimana dengan ini semua?" Intan menatap sekilas piring - piring yang sudah kosong diatas meja.
Reno tersenyum tipis sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. " Bukankah tadi kau bilang ingin mengganti semua makananku yang kau jatuhkan? anggap saja semuanya lunas!". Intan terperangah dengan ucapan Reno dan Reno dengan santai pergi begitu saja meninggalkan Intan dan melambaikan tangan tanpa menoleh.
Intan mengepalkan tangannya dan berkali-kali mengumpat. " Sungguh keterlaluan dengan seenaknya memesan makanan sebanyak ini dan menyuruhku yang membayarnya!" Intan menjatuhkan kasar tubuhnya kekursi dan menghela napas panjang. " Akhhhhh....!" Intan kesal dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
" Bodoh... bodoh... dasar bodoh, kenapa bisa-bisanya aku memakan makanan ini!" Intan memukul-mukul kepalanya sendiri menyesali perbuatannya. " Dia benar-benar ingin menguras dompetku!" Intan kesal membuka dompetnya dan melihat isi dompetnya yang hanya ada beberapa lembar uang didalamnya lalu menjatuhkan lesu kepalanya keatas meja.
" Apa kau akan terus berada disini?" Intan sontak kaget lalu mendongak dan melihat pria itu tersenyum tipis membuat Intan membulatkan matanya dan langsung berdiri.
" Bukannya tadi kau.... kau....?" Intan bingung dan berkata sambil menunjuk Reno dan menunjuk pintu keluar bergantian.
" Ayo cepat pergi, jangan sampai aku berubah pikiran dan kau harus membayar semuanya!" Ucap Reno dingin.
__ADS_1
Intan langsung menyambar tasnya yang diletakkan di atas kursi dan berdiri.
" Ikut aku!" Perintah Reno tidak ingin ada penolakkan.
Reno berjalan menghampiri kasir dan mengambil sekantong makanan yang sempat dipesannya. Intan merasa bingung dan dengan ragu-ragu bercampur rasa malu intan mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya. Reno yang melihat Intan hendak mengeluarkan isi dompetnya dengan cepat Reno mendorong pelan tangan Intan agar memasukkan kembali dompetnya kedalam tas.
Intan terkejut dan menatap lekat punggung Reno yang sedang membayar makanannya.
Setelah selesai membayar Reno berjalan meninggalkan Restoran tersebut dan menenteng sekantong makanan yang ia pesan untuk Cahaya dan semuanya yang ada di rumah.
Intan berjalan mengekor di belakang Reno dan pada saat sampai diparkiran mobil Intan pamit untuk pergi dan mengucapkan maaf berkali-kali, " Sekali lagi saya minta Maaf mas Reno dan terima kasih sudah mengajak saya makan dan memakan semua makanan yang sangat lezat!" Intan membungkukan badannya dan seketika Reno menarik tangan intan agar intan masuk kedalam mobilnya.
Intan terkejut saat Reno memaksanya masuk kedalam mobilnya. Reno memutari mobilnya lalu masuk kedalam mobil tersebut. Intan terus memperhatikan Reno sampai Reno duduk dikursi kemudi disampingnya dan menyalakan mesin.
Reno mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Intan bergidik ngeri dan sesekali menengok ke arah Reno yang fokus mengemudi.
" Maaf mas Reno!" Intan menunduk dan dalam hati ia menerka-nerka apa yang akan terjadi padanya.
" Jangan mikir yang aneh-aneh, buang jauh-jauh pikiran negatifmu itu!" Reno seakan tahu isi hati Intan dan bicara tanpa menoleh.
" Lagi-lagi dia tahu apa yang ada dalam pikiranku, dia ini peramal atau apa sih?" Gumam intan dalam hati.
" Maaf mas Reno sebenarnya mas Reno mau mengajak saya kemana?" Tanya intan dengan hati-hati takut kalau Reno marah.
__ADS_1
" Maaf... maaf... tidak ada kata lain yang bisa kau ucapkan selain kata maaf?" Reno memukul setirnya sekali dan membuat intan terkejut dan meremas tangannya merasa sedikit takut.
" Aku akan mengajakmu bertemu dengan seseorang!" Reno menoleh kearah intan dan melihat raut wajah intan yang sedikit ketakutan.
" Bertemu dengan seseorang, sia...pa?" Tanya intan gugup.
Reno tersenyum tipis dan menoleh sekilas lalu kembali fokus menatap jalan yang terlihat sedikit ramai.
"Kenapa dia malah tersenyum seperti itu? tadi marah-marah dan sekarang tersenyum seperti itu!" Gumam Intan.
Intan dan Reno saling diam tidak ada yang berbicara keheningan begitu terasa didalam mobil hanya terdengan suara mesin mobil saja yang masih setia melaju dengan baik.
" Kenapa kau bisa ada dikota ini, apa kau tidak bekerja diperusahaanku?" tanya Reno memecah keheningan.
Intan menoleh ke arah Reno yang masih fokus mengemudi. " Saya Izin cuti mas karena saya diberi kabar kalau ibu saya dan suaminya mengalami kecelakaan makanya saya datang untuk menjenguknya tapi..... !" Intan menunduk dan berusaha menahan kesedihannya." Akan tetapi sebelum saya bertemu dengan ibu saya dan suaminya dokter mengatakan mereka sudah meninggal!" Intan berusaha untuk tidak menangis dihadapan Reno meskipun matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Reno yang mendengar kata demi kata yang diucapkan Intan merasa terenyuh dan iba atas musibah yang intan alami.
" Maaf jika aku membuatmu sedih!" Reno mengambil sapu tangan dari saku bajunya dan menyodorkannya pada Intan.
Intan menatap lekat sapu tangan yang diberikan Reno dan mengambilnya lalu mengusap air matanya.
" Tidak apa-apa, terima kasih mas!" Intan membuang pandangannya ke sisi samping melihat ke arah jalan berusaha menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
Reno merasa bersalah karena sudah mengerjai intan sedari tadi bahkan memarahinya.
Reno sesekali memperhatikan Intan entah mengapa hatinya merasa sakit melihat intan yang berubah murung.