
Seperti biasa Cahaya selalu pulang larut malam bosnya selalu memintanya untuk bekerja lembur karena begitu banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Setibanya di rumah Cahaya yang merasa sangat lelah malah disambut dengan sikap yang tak menyenangkan oleh sang mertua.
" Dasar isteri tidak tau diri, bukannya mengurus suami dirumah malah selalu pulang larut malam. Sebenarnya apa sih pekerjaanmu setiap hari pulang larut atau jangan-jangan kau menjadi wanita....!" ucapan Widia terhenti saat seseorang berteriak padanya.
" Cukup mah, jangan teruskan. aku yang telah memberi izin isteriku untuk bekerja dan aku tau apa alasan yang membuatnya selalu pulang larut!" Ucap Reihan sambil menuruni anak tangga dan menghampiri cahaya.
" Mas aku...!" belum selesai cahaya bicara Reihan sudah kembali angkat bicara.
" Sebaiknya kau naik sekarang, bersihkan tubuhmu dan istirahat !" ucapan Reihan
" Terima kasih !" Cahaya langsung menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
Setelah Cahaya pergi Reihan pergi ke dapur untuk mengambil air minum sementara Widia telah kembali masuk kedalam kamarnya.
Semenjak kejadian dikamar Reihan yang berduaan dengan Clara. Cahaya tidak mau lagi menginjakkan kaki dikamar terkutuk itu. ia merasa kamar itu menjadi kamar neraka yang membuat hatinya selalu terbakar bila teringat dengan kejadian yang tak pantas itu.
Cahaya dan Reihan tidur terpisah, ia lebih memilih kembali kekamarnya dan mencoba untuk melupakan kejadian itu.
Tokk... tokk... tokkk.....
Reihan mengetuk kamar Cahaya. Mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya Cahaya yang baru selesai mandi dan berganti pakaian segera membuka pintu yang diketuk itu.
Ceklekkkk....
Cahaya membuka pintu kamarnya dan nampaklah seorang pria yang tadi terlihat lembut dan begitu bijaksana kini menjadi pria yang memiliki sorot mata tajam dan bersikap dingin.
__ADS_1
Reihan langsung masuk kedalam kamar tersebut tanpa seizin pemilik kamar, ia lalu duduk di tepi tempat tidur dengan menyilangkan kaki dan melipat tangan diperutnya.
" Sudah berapa lama kau mengenalnya?" Tanya Reihan tanpa basa -basi.
" Mengenalnya, maksudmu siapa?" Cahaya yang merasa bingung dengan pertanyaan Reihan lalu berdiri menyender ke daun pintu yang telah ditutupnya.
" Reno, sudah berapa lama kalian saling mengenal?" Reihan bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Cahaya.
" untuk apa kau bertanya tentang hal itu?"
" tidak ada, Aku hanya ingin tahu sebatas apa hubungan kalian. dan kau juga harus sadar kau ini siapa. jangan lupa kau masih berstatus isteriku." Kata Reihan dengan menyorotkan mata tajamnya.
" Isteri, hahaha.... !" ucap Cahaya sambil tertawa. " jika aku sebagai seorang isteri harus sadar diri lalu kau sebagai suami diperbolehkan untuk lupa diri begitukah?." ucap Cahaya yang sedikit ketus membuat Reihan bungkam.
" Kau bebas bermesraan kapanpun bahkan dimanapun dengan wanita lain sementara aku harus terkurung dan terbelenggu dengan ikatan sebuah pernikahan, apakah itu adil heh?" ucap Cahaya dengan tatapan tajam.
" Yang aku inginkan?" tanya Cahaya ketus dan berjalan perlahan lalu berhenti tepat di hadapan Reihan. " Kita akhiri saja !"
" Tidak akan pernah!" jawab Reihan dengan penuh penekanan dan tangannya yang mencengkram dagu Cahaya lalu menghempasnya dengan kasar.
" Aku memang memberimu kebebasan tapi bukan berarti kau bisa bebas dengan laki-laki lain. kau ingin kita pisah karena kau ingin bersamanya bukan?" Tuduhan Reihan membuat Cahaya semakin geram.
" Kalaupun iya lalu kenapa, bukankah pernikahan ini sama sekali tidak kau inginkan lalu untuk apalagi kita memaksakan hubungan yang sama sekali tidak ada cinta didalamnya?" intonasi suara Cahaya mulai meninggi. "Jika kita akhiri semua ini kau bisa kembali dengan kekasihmu, kalian bisa menikah tanpa ada aku lagi yang menjadi penghalang hubungan kalian." Ucap Cahaya dengan sedikit melemah.
" Heh.... hubungan tanpa Cinta? Kau benar untuk apalagi mempertahankan hubungan yang tidak ada cinta didalamnya. aku berpikir selama ini kau mencintaiku tapi ternyata aku salah.. heh.heh...!" tutur Reihan dengan tawa yang dipaksakan.
__ADS_1
" Dulu saat kau memintaku untuk mencintaimu. aku memang pernah mencintaimu bahkan sangat mencintaimu namun rasa cinta itu akhirnya kau sendiri yang telah menghancurkannya sampai menjadi serpihan." Cahaya berjalan lalu duduk ditepi tempat tidur dengan airmata yang berlinang.
Reihan terdiam mematung dengan airmata yang mengembang.
Tutttt.....tutttt.... tuttt......
Dering Hp. Reihan berbunyi memecah kebisuan isi kamar. Reihan mengambil benda pipih yang berdering dari saku celananya dan saat ia melihat nama Clara yang tertera dilayar ia lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. berkali-kali ponsel itu berdering namun Reihan tetap mengabaikan panggilan telponnya.
" Angkat saja, mungkin saat ini dia sedang merindukanmu. Cukup aku saja yang kau campakan.!" ucap Cahaya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Cahaya keluar dari kamar sambil menyeka airmata dipipinya dengan kasar.
Setelah Cahaya keluar dari kamarnya Reihan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar lalu menghantamkan pukulan kedinding kamar.
Reihan termangku sendiri didalam kamar Cahaya entah apa yang ada dalam pikirannya tiba-tiba ia keluar dari kamar dan turun kelantai bawah mencari keberadaan Cahaya.
Saat mendapati Cahaya yang tengah berada didapur sedang menuang air minum dengan kasar Reihan mengambil teko yang berada ditangan cahaya lalu meletakkannya dimeja kemudian ia menarik tangan Cahaya membawanya pergi. Cahaya yang terkejut dengan kemunculan Reihan terlebih lagi menarik tangannya berusaha melepaskan genggaman tangan Reihan namun sayang semakin Cahaya berontak semaki kuat Reihan menggenggam tangan cahaya sampai ia memekik kesakitan.
" lepaskan aku mas, lepasin tangan aku sakit!" teriak Cahaya sambil mengikuti langkah kaki Reihan.
Reihan hanya terdiam dan tetap melangkahkan kakinya membawa cahaya keluar dari rumah. setelah sampai didepan mobil Reihan menghentikan langkahnya sesaat dan menatap tajam ke Cahaya. sikap Reihan begitu dingin bahkan dia tidak memperdulikan erangan cahaya yang merasa kesakitan karena tangannya yang merah akibat cengkraman tangan Reihan yang begitu kuat. Cahaya merasa takut menatap Reihan yang terlihat sangat marah.
"Kenapa dia terlihat begitu marah, apa tadi ada ucapanku yang salah. sikapnya membuatku merasa takut saja"! Gumam cahaya dalam hati.
Tanpa bicara sekata patahpun Reihan menarik cahaya lalu membuka pintu mobil dan memaksa cahaya untuk masuk kedalamnya.lalu Reihan memutari mobilnya membuka pintu dan masuk kedalamnya.
Reihan menghidupkan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Cahaya tidak berani menatap Reihan sikap dingin dan diamnya sudah membuat Cahaya mematung.