
Cahaya pun keluar dari ruangan CEO dan kembali ke ruang kerjanya lalu membereskan barang-barangnya.
" Ca, kamu mau kemana ?" Tanya intan yang bangun dari duduknya lalu menghampiri meja kerja Cahaya.
" Aku ada urusan diluar sebentar!" ucap cahaya sambil tersenyum.
Tiba-tiba derap langkah sepatu berhenti dibelakang Intan yang sedang berdiri dihadapan Cahaya.
" Suttttt...!" Cahaya memberi tahu Intan dengan mata yang mengarah ke seseorang yang berdiri dibelakang intan.
" Apa?" tanya intan yang perlahan memutar badan dan pandangannya mengikuti arah mata cahaya. Glekk.. Intan terasa sulit menelan salivanya saat melihat bosnya berdiri dibelakangnya dengan wajah dingin.
" Ma...maaf pak!" ucap intan membungkukan badan lalu bergegas kembali ke meja kerjanya. Cahaya tersenyum kecil melihat wajah Intan yang sedikit gugup.
" Kamu!" Ucap Reno menatap intan sampai yang ditatap tambah gugup dan takut.
" Iy...iya pak!" Ucap intan
" Handle semua pekerjaan Cahaya hari ini , karena dia ada tugas diluar kantor!" Ucap Reno dingin.
" Baik pak!" Jawab Intan lalu melirik ke arah Cahaya seakan penuh tanya.
Reno kembali ke ruangannya dan Cahaya bergegas pergi keluar kantor untuk menemui Bima yang pasti sudah menunggunya disana.
Cahaya pergi ke rumah sakit bersama Bima, Sesampainya disana Cahaya langsung bergegas menemui Sekar mamah Reno yang tidak lain adalah ibu kandungnya.
Sementara Bima setelah mengantar Cahaya ia kembali lagi ke kantor untuk mempersiapkan rapat dengan PT. Alexander.
Dengan perlahan dan detak jantung yang tak karuan Cahaya membuka pintu ruangan dimana Mamahnya dirawat. setelah pintu terbuka dengan perlahan cahaya masuk dan dilihatnya bi susan duduk disamping tempat tidur mamahnya dan sedang membujuknya untuk makan, usahanya sia-sia karena Sekar tetap tidak mau makan dan membelakangi bi susan.
Cahaya yang melihat mamahnya tidak mau makan dengan perlahan menghampiri Bi susan yang terlihat sudah menyerah.
" Bi biar saya saja yang menyuapi!" Sontak suara Cahaya membuat Sekar membalikkan badannya dan menatap lekat Cahaya.
Bi susan menyerahkan tempat makan yang di tangannya kepada Cahaya. Setelah itu dia pamit untuk pulang mengambil beberapa keperluan yang dibutuhkan Sekar.
Cahaya duduk dibangku samping tempat tidur Sekar dengan makanan yang sudah pindah ke tangannya.
" Makanlah dulu, biar cepat sembuh!" ucap cahaya tanpa menatap wajah Sekar.
" Aku tidak lapar!" Ucap Sekar datar
" Meskipun tidak lapar sebaiknya anda makan dulu sedikit, Kasihan pak Reno jika anda tidak mau makan seperti ini, dia pasti akan sedih!" tutur Cahaya.
" Apa kamu kesini karena perintahnya?" tanya sekar
" Tidak!" jujur Cahaya.
" Lalu untuk apa kamu kesini? sebaiknya kamu pergi saja!" ucap Sekar
" Aku kesini karena hari ini pak Reno tidak bisa datang. beliau ada rapat penting yang harus dihadiri. !"
" Lalu untuk apa kau kesini?" Ucap Sekar yang semakin sedih.
" Aku akan menggantikan pak Reno untuk menemani anda nyonya!"
" Cukup. Anda... Nyonya. mau sampai kapan kau menolak kehadiranku. aku ibumu ibu yang melahirkanmu. apa sebegitu besarkah kebencianmu padaku? "tanya sekar yang tanpa sadar sudah menitikkan air mata.
Sebenarnya dalam hati Cahaya sangat merindukan mamahnya dan ingin sekali memeluk tubuh wanita yang ada dihadapannya namun setiap kali mengingat hal pahit dalam hidupnya membuat Cahaya sedikit menelan kekecewaan.
" Pergilah!" ucap Sekar pelan dengan airmata yang terus merembes dari matanya.
" Aku tau kau pasti sangat membenciku. aku bukanlah ibu yang baik untukmu aku sudah membuatmu hidup menderita. Alangkah baiknya kalau saja kecelakaan itu membuatku mati dan menemui ayahmu!" Sekar menundukkan wajahnya terlihat penyesalan yang besar dalam dirinya.
"Maaf.. hanya itu yang bisa aku katakan. aku tak bisa memaksamu untuk memaafkanku. Pergilah... aku tidak mau menjadi bebanmu. !" ucap sekar sambil menyeka air mata yang terus saja mengalir dari kedua matanya.
Hati Cahaya seakan bergejolak rasa benci dan rindu pada ibunya berkecamuk terlebih saat ia melihat ibunya yang terus saja menangis dan dengan wajah yang terlihat tampak sangat pucat. ia pun tak kuasa untuk membendung airmata yang meluncur begitu saja dipipinya padahal sudah ia tahan agar tidak menangis.
" Makanlah dulu mah...!" Ucap Cahaya pelan sambil menyodorkan sesendok nasi dengan lauk pauknya.
Mendengar ucapan Cahaya membuat Sekar langsung menoleh dan menatapnya lekat. matanya berbinar merasa tidak percaya.
" Mah...!" panggil Cahaya. Sekar pun langsung membuka mulutnya dan Cahaya menyuapi makanan yang ada ditangannya dengan telaten. tanpa ada pembicaraan diantara keduanya.
" Sudah!" Sekar menolak suapan Cahaya karena merasa sudah kenyang. Cahaya lalu memberikannya segelas air minum dan sekar meminumnya sampai setengahnya.
" Terima kasih Sayang, Mamah benar-benar minta maaf!" ucap Sekar penuh penyesalan.
Cahaya hanya tertunduk tanpa menjawab apa-apa.
__ADS_1
" Mamah tau ini berat untuk kamu memaafkan mamah, tapi mamah harap kamu tidak membenci kakakmu Reno, karena awalnya pun dia juga tidak tau kalau dia itu punya saudara kembar!" tutur Sekar yang kembali menangis.
" Ma..maafkan Cahaya mah, jujur semua terasa sangat tiba-tiba. bertahun - tahun Cahaya hidup tanpa kasih sayang mamah tanpa kehadiran mamah. lalu seketika mamah dan mas Reno muncul bilang kalau Cahaya adalah putri mamah dan mas Reno adalah kakak kandung Cahaya. Ini terasa mimpi buat Cahaya mah. Disaat Cahaya kehilangan ayah dan harus tinggal bersama Om Bram sampai akhirnya Cahaya......" seketika Cahaya menghentikan ceritanya yang terasa sangat menyakitkan. ia pun terisak tatkala teringat semua kejadian yang menimpanya dimasa lalu.
Sekar langsung memeluk tubuh Cahaya tang bergetar karena isak tangisnya yang pecah. Sekar pun menangis turut merasakan kesedihan yang dirasakan putrinya.
" Maafkan mamah sayang... maaf kan mamah...!" Sekar memeluk dan menciumi wajah Cahaya.
" Hidup kamu menderita semua karena mamah, maafin mamah sayang!" Sekar terus menangis sambil memeluk erat Cahaya.
" Mulai sekarang, kita akan hidup bersama sayang, mamah tidak akan membiarkan kamu terluka lagi!" ucap Sekar.
Cahaya melepaskan pelukan mamahnya dan menatapnya lekat. " Mah, Cahaya kangen mamah!" Keduanya kembali berpelukan dan tangis tangis keduanya pun pecah melepaskan kerinduan satu sama lain.
Seseorang yang baru saja datang sedang memandangnya penuh haru dan tanpa disadari iapun turut menangis melihat kedua wanita yang sangat ia sayangi sedang melepas rindu.
" Apa aku boleh minta dipeluk juga?" Ucap Reno yang mengejutkan keduanya.
" Mas Reno!" Ucap Cahaya yang sedikit masih merasa Canggung.
" Bolehkan aku juga minta dipeluk dengan kalian?" Ucap Reno yang langsung ditanggapu sang mamah dengan membentangkan tangannya.
Mereka bertiga akhirnya berpelukan dan rasa haru dan bahagia terasa memenuhi isi ruangan tersebut.
___________________________________
Reihan melihat jam sudah menunjukan waktunya jam makan siang. Dengan perasaan senang ia mengambil benda pipih di atas meja kerjanya. Ia berencana menghubungi Cahaya dan mengajaknya makan siang bersama.
CAHAYA📞" Assalamu'alaikum!"
REIHAN📞" Wa'alaikum salam, Sayang kamu sudah makan siang belum?"
CAHAYA📞" Belum mas,!"
REIHAN📞" Ya sudah, kita makan siang bareng mas akan menjemput sekarang!"
CAHAYA📞" Tidak usah mas, maaf saat ini aku sedang tidak di kantor!"
REIHAN📞" Tidak di kantor, lalu sekarang kamu dimana?"
CAHAYA📞" Maaf mas, aku...aku sedang di Rumah sakit."
CAHAYA📞" Mas, aku gak apa-apa, bukan aku yang sakit"
REIHAN📞" Lalu siapa yang sakit?"
CAHAYA📞" Emmm... yang sakit.... !" Ucap Cahaya terhenti ketika melihat sang mamah hendak turun dari tempat tidur. " Maaf mas nanti aku telpon lagi ya!"
Tuuutttttt.....tuuuutttttt.... tuuuttttt.
Sambungan telpon pun terputus.
" Kenapa dimatikan siapa sebenarnya yang sakit, ?" Reihan merasa kesal dan mengusap wajahnya kasar.
Tokkk... tokk... tokkk....
" Masuk!"
" Maaf pak di depan ada nona Clara yang memaksa untuk masuk!" Ucap asisten Tio yang masuk ke ruangan Reihan.
" Mau apalagi dia datang kemari?" gumam Reihan kesal.
" Ya sudah biarkan dia masuk!" ucap Reihan lalu kembali duduk di kursi CEO nya.
Asisten Tio keluar dan mempersilahkan Clara untuk masuk.Clara memandang sinis kepada asisten tio karena sudah mencegahnya untuk masuk. setelah itu ia masuk ke ruangan Reihan dengan wajah senang.
" Hai sayang!" sapa Clara yang langsung mendekati meja Reihan dan bersikap manja dengan merangkul tangannya serta berusaha mencium Reihan.
Sontak hal itu membuat Reihan merasa risih dan berusaha untuk menjauh dari Clara.
" Kamu kenapa si sayang?" tanya Clara pada saat Reihan bangun dari duduknya dan berjalan menuju sofa.
" Tolong Clara jaga sikapmu, jangan bersikap seperti itu di ruanganku!" ucap Reihan sedikit dingin.
" Memangnya kenapa sayang, apa kamu takut karyawanmu melihat kita?" ucap Clara yang sudah duduk mendekati Reihan.
" Kalaupun mereka tau memangnya kenapa? bilang saja pada mereka kalau aku ini calon isterimu!" Ucap Clara yang semakin bersikap manja dan menggoda.
" Hentikan Clara!" ucap Reihan menepis tangan Clara yang mengelus dada bidangnya lalu bangkit dan berdiri.
__ADS_1
" Kamu ini kenapa si sayang, kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?" ucap Clara kesal.
" Maafkan aku Clara, aku... aku tidak bisa bersamamu lagi!" ucap Reihan hati-hati.
" Apa maksudmu Rei?" ucap Clara kesal dan ikut berdiri.
" Aku, aku sudah menikah!" Reihan berusaha menjelaskan.
" Menikah? hwaaa...haaa...haa..!" Clara malah tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Reihan. " Sayang, kamu ini bisa saja bercandanya. hahaaa..haaa... kalau kamu memang kita cepat-cepat menikah ya udah nanti aku akan membicarakannya pada orang tuaku. agar kita segera menikah. kamu gak perlu membuatku cemburu seperti itu sayang kalau ingin mengajakku menikah. kali ini aku tidak akan menolak lagi. aku bersedia kok menikah denganmu sayang!" ucap Clara gembira dan memeluk tubuh Reihan dengan mesra.
Reihan melepaskan pelukan Clara dan mendorong pelan tubuh Clara hingga sedikit membuat jarak antara keduanya. Reihan menggenggam erat bahu Clara menatap lekat matanya berusaha untuk menjelaskan.
" Clara dengarkan aku, aku minta maaf karena aku tidak akan mungkin menikah denganmu!" terang Reihan.
" Apa maksud ucapanmu?" Clara menepis kedua tangan Reihan yang bertengger dibahunya.
" Aku sudah menikah!" Reihan memperlihatkan cincin yang melingkar dijari tangannya.
" Aku tau kau sedang bercanda Rei... sudahlah hentikan. aku tidak akan terpancing dengan sandiwaramu!" Ucap Clara yang merasa itu hanya lelucon Reihan.
" Lihat mata aku, apa kamu pikir aku sedang bercanda!" Reihan menakupkan kedua tangannya diwajah Clara hingga keduanya bersitatap.
" Aku tidak sedang bercanda, aku.....aku benar-benar sudah menikah. sudah lama aku ingin memberi tahumu tapi waktu itu aku masih merasa ragu dengan perasaanku tapi sekarang aku benar-benar sudah yakin dan sebaiknya kau lupakan saja aku Clara!"
" Kamu pasti bercandakan Rei, jangan perlakukan aku seperti ini Rei..kamu jahat Rei... jahat.!" Clara histeris dan mendaratkan tamparan keras di wajah Reihan.
" Maafkan aku !" Ucap Reihan sambil memegangi pipinya yang terasa sedikit panas .
" Aku benci kamu Rei.... !" Clara kesal lalu pergi meninggalkan ruangan Reihan sambil menangis.
Reihan mengacak-acak rambutnya dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas sofa.
Seketika Reihan teringat dengan Cahaya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor cahaya.
Sudah berkali - kali Reihan menghubungi Cahaya namun tidak juga ada jawaban hingga membuat Reihan semakin geram.
" Kenapa kamu tidak mengangkat telponku Cahaya?" kesal Reihan.
________________________
Di rumah sakit Cahaya sedang meledek sang kakak yang masih menjomblo.
" Mas Reno itukan ganteng ya tajir pula tapi masih aja demen banget ngejomblo, gak bosen emang mas ngejomblo terus ?" ledek Cahaya yang membuat Reno menghela napas panjang.
" Aduhhh... adikku yang satu ini rupanya sudah berani ya!" Ucap Reno sambil mengacsk-acak rambut Cahaya gemes.
" Ihhh... mas Reno rambutku jadi berantakan!" Cahaya mengerucutkan bibirnya.
" Ha..ha..haaaa...!" Reno tertawa terbahak-bahak melihat wajah Cahaya yang menurutnya sangat menggemaskan.
" Kalian ini!" Sekar menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya. ia pun tersenyum bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan putra dan putrinya tapi lama-lama senyum itu berubah menjadi tangisan.
" ihikk.... ihikķ....!" Sekar tak mampu menahan airmata bahagianya. tak henti ia mengucap rasa syukurnya karena bisa berkumpul dengan anak-anaknya.
Mendengar isak tangis sang mamah keduanya bersamaan menoleh dan menggenggam erat tangannya.
" Mamah kenapa, kok nangis?" tanya Reno khawatir.
" Mamah gak apa-apa sayang, mamah hanya merasa sangat bahagia akhirnya keluarga kita bisa berkumpul lagi!" Ucap Sekar lirih.
" Mah, sudah ya mah jangan menangis lagi, sebaiknya sekarang mamah istirahat. jika kondisi mamah sudah membaik besok dokter sudah membolehkan mamah pulang!" ucap cahaya sambil menghapus air mata dipipi sang mamah.
" Iya sayang, terima kasih!" ucap Sekar tersenyum.
" oia, mah Cahaya pamit pulang dulu ya, besok Cahaya akan kemari lagi tapi...!" Cahaya menghentikan ucapannya.
" Tapi apa sayang?" Tanya Sekar penasaran.
"tapi....itupun kalau atasan Cahaya mengizinkan mah!" Ucap Cahaya terkekeh dan melirik kearah Reno.
" Kamu ini dek, bikin gemes aja tau gak!" Reno menjembil pipi Cahaya.
" Iiihh.. mas Reno sakit tau!" Cahaya memegang pipinya
" Habis kamu itu ada-ada aja dek, kirain apa gitu!" Reno menggelengkan kepalanya.
" Ya iya kan sebagai pegawai yang baik aku itu harus dapat izin dulu dari pak bos. kalau gak bisa-bisa gajiku dipotong nanti!" ucap Cahaya.
" Hwaaaa...haaaa...!" Reno tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Cahaya yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1