RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Terlihat biasa


__ADS_3

Dreetttt.... Drett....


Dering ponsel Reihan terdengar membuat ketegangan yang terjadi diruangan itu teralihkan. Reihan mengambil ponselnya dari saku celananya dan melihat nama bi Susan yang tertera dilayar dengan segera Reihan menggeser warna hijau.


" Assalamualaikum bi!". Reihan


"......."


" Apa? Cahaya sudah di rumah sekarang?"


"......."


" Baik bi, terima kasih. Aku akan segera pulang sekarang!"


" Wa'alaikum salam!"


sambungan telpon pun di matikan. Reihan bergegas keluar dari ruangan Reno namun baru hendak melangkah suara berat Reno menghentikan langkahnya.


" Tunggu aku ikut denganmu!" Reno menarik jas yang tersampir dikursinya dan ikut keluar bersama Reihan namun saat mereka baru sampai didepan pintu seorang wanita berdiri dihadapan mereka dengan tatapan penuh tanya ia memperhatikan Reno dan Reihan.


" Ada apa? kalian mau kemana? kenapa kalian terlihat tergesa-gesa?" berentet pertanyaan keluar dari bibir Intan wanita yang kini tengah berdiri dihadapan mereka.


" Em... tidak ada apa-apa, aku hanya...!" Ucapan Reno terpotong.


" Aku pergi!" Reihan tidak ingin berlama lama lagi dengan cepat ia berlari ke arah lif kebetulan pintu lif terbuka Reihan bergegas masuk dan berharap Cahaya tidak akan pergi kemana mana lagi.


Reno dan Intan yang melihat Reihan melesat pergi masih tak bergeming. Intan menatap lekat wajah suaminya yang menampakkan raut kecemasan.


" Ada apa sebenarnya mas?" Intan bertanya dengan nada sepelan mungkin takut ada yang mendengar. bukan menjawab pertanyaan Intan Reno malah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


" Hallo, hentikan pencariaan, dia sudah ada di rumah!" Reno memberitahu Bima. setelah selesai menelpon Reno memasukkan kembali ponselnya kesaku celana dan dengan senyum tanpa dosa Reno mengajak Intan untuk masuk ke ruangannya. Intan yang memang datang untuk meminta izin pulang duluan pun masuk mengekor dibelakang Reno setelah Intan masuk Reno dengan segera mengunci pintu ruangannya.


" Loh kok dikunci?" Intan mengernyitkan alisnya.


" Biar tidak ada yang mengganggu!" Reno langsung mendekati Intan yang tengah berdiri di depan meja kerjanya dan langsung memeluknya dari belakang.


" Kamu apa-apan si mas, ini di kantor loh!" Intan meronta dan berusaha melepaskan pelukan Reno namun sia sia karena Reno semakin mengeratkan pelukannya.


" Oia, hampir lupa. kamu belum jawab pertanyaanku mas. Ada apa sebenarnya tadi itu. dan kamu sama pak Reihan..." pertanyaan Intan terjeda.


" Reihan!" protes Reno.


" Iya Reihan, kalian mau kemana tadi tergesa-gesa begitu?" lanjutnya.


Reno melepaskan pelukannya dan menarik tangan Intan membawanya duduk di sofa.


" Dan tadi kamu telpon siapa mas, hentikan pencarian, siapa mas ?" Intan bertanya penuh kecemasan.


" satu-satu dong sayang nanyanya" Reno gemas dan mencubit hidung Intan.


" Salah mas sendiri dari tadi aku bertanya gak dijawab!" Intan Cemberut.


Reno tergelak melihat wajah Intan yang sedang merajuk. dengan lembut Reno mengusap rambut Intan.

__ADS_1


" Cahaya, dia tadi sempat menghilang!" beritahu Reno. Intan yang mendengar Cahaya sempat menghilang sangat terkejut.


" Hilang? hilang bagaimana maksudnya mas?" Tanya Intan bingung terlihat panik dan cemas.


" kamu tenang dulu sayang, Cahaya sudah pulang ke rumah kok sekarang. tadi bi Susan nelpon Reno dan mengatakan kalau saat ini Cahaya sudah pulang!"


" Apa yang menyebabkan Cahaya menghilang mas? sebenarnya ada apa sih?" tanya Intan menyelidik.


" Kesalah pahaman"


" Maksudnya, kesalah pahaman bagaimana?"


" Rehan tadi bilang kalau Cahaya salah paham padanya. Mas juga tadi sempat emosi tapi bagaimana pun untuk saat ini mas harus membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri dan mas juga harus mencari tahu dulu kebenarannya mas gak mau bertindak gegabah.!" Tutur Reno


" Salah paham apa mas?" Intan semakin penasaran.


" Emmm.... " Reno bingung untuk cerita pada Intan. jika Intan tau pasti dia juga akan marah apalagi sekarang ini Cahaya bukan hanya sahabatnya tapi sudah menjadi keluarganya. adik dari suaminya.


" Mas kok diam sih?" Melihat suaminya yang terlihat bingung Intan lalu meraih tangan Reno membuatnya menatap lekat manik mata Intan yang tengah menatapnya intens.


" Mas Cahaya bukan hanya Sahabatku sekarang, dia juga sudah menjadi adikku keluargaku. aku tidak mau Cahaya terluka lagi mas, aku tau Cahaya tidak akan mungkin pergi jia dia tidak dalam keadaan terluka." Tutur Cahaya


" Aku tau, kau sangat menghkawatirkan adikku. terima kasih ya sayang!" Reno memeluk Intan dan mengecup keningnya.


" Tidak perlu berterima kasih mas!" Intan pun membalas pelukan Reno.


" Jadi...?" Intan kembali bertanya.


" Mas!" panggil Intan memohon.


" Sayang,..."


" Baiklah. kalau begitu aku izin pulang duluan ya, mas masih lama kan?" Intan berdiri hendak pergi dan saat melangkah Reno menarik tangannya.


" Apa lagi mas?" Intan menoleh karena tangannya ditarik.


" Jangan terlalu dipikirkan, Cahaya pasti akan baik-baik saja" Reno berbicara selembut mungkin.


" Hemmm..!" Intan mengangguk lalu ia membuka pintu yang terkuncin dan keluar dari ruangan Reno namun lagi - lagi Reno menarik tangannya.


" Kita pulang bareng saja!" Reno menarik pinggang Intan dan berjalan berdampingan.


" Mas lepas ih... nanti ada yang lihat aja!"


" Memang kenapa jika ada yang lihat? toh aku jalan bersama isteriku sendiri" Dengan santai Reno terus melingkatkan tangannya di pinggang Intan.


" Mas..!" Intan mendelik tajam.


" Iya...!" Reno menjauhkan tangannya dari pinggang Intan dan memasang wajah cemberut.


Intan yang melihat wajah Reno cemberut tergelak tawa. pasalnya Reno dikantor terkenal dingin dan tegas tapi bila sudah berhadapan dengan sang isteri sudah lain lagi ceritanya.


Suasana kantor yang sepi karena memang jam pulang sudah terlewat hanya beberapa orang saja yang masih ada disana karena mereka harus bekerja lembur. membuat Intan tidak begitu khawatir jika berjalan bersama Reno sang big bos.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Reihan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. pikirannya hanya satu yaitu cepat-cepat bertemu dengan Cahaya. perasaan khawatir, takut dan bingung kini bercampur aduk jadi satu. Reihan khawatir Cahaya akan meninggalkannya lagi juga takut Cahaya akan membencinya dan enggan mendengarkan penjelasannya. bingung itulah yang ia rasakan entah bagaimana nanti memberi penjelasan pada Cahaya mengenai kemunculan kembali Clara yang dia sendiri juga merasa terkejut.


Reihan berkali-kali memukul setir mobilnya terlebih ketika jalannya harus terhenti akibat lampu merah.


" Sayang, aku mohon jangan biarkan kesalah pahaman itu berlarut larut. semoga kau mau mendengarkan penjelasanku nanti" Gumam Reihan.


Lampu merah kini sudah beralih hijau dengan cepat Reihan menancap gas mobilnya menuju kediamannya.


Mobil Reihan kini sudah terparkir didepan rumah setelah satpam yang menjaga pintu gerbang membukakan gerbangnya.


" Assalamualaikum!" ucap Reihan yang sudah masuk kedalam rumah.


" Wa'alaikum salam!" Sahut bi Susan yang datang dari arah dapur setelah mendengar suara Reihan datang.


" Bi, Cahaya mana?" Reihan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Cahaya.


" Non Cahaya ada di dapur den!" Bi Susan menunjuk kearah dapur dimana Cahaya sedang sibuk memasak.


Reihan bernapas lega, perlahan Reihan menghampiri Cahaya yang sedang sibuk berkutat didapur. saat melangkahkan kaki jantungnya tiba-tiba berdegup begitu kencang berkali kali Reihan menghela napasnya berat.


" Ya tuhan, semoga saja isteriku mau memaafkanku!" Reihan terus berdoa dalam hatinya.


" Assalamualaikum!" ucap Reihan memberi salam saat berada dibelakang Cahaya.


Mendengar suara yang begitu tidak asing ditelinganya Cahaya langsung menoleh.


" Wa'alaikum salam!" Sahut Cahaya lembut dengan seulas senyum tipis dibibirnya.


Degggg...


Reihan terkejut dengan ekspresi yang Cahaya tunjukan saat ini. bukankah Cahaya sedang marah tapi kenapa ia tersenyum apakah secepat itu Cahaya sudah memaafkan Reihan. berbagai pertanyaan menari nari dipikiran Reihan..


" Cahaya tersenyum? apa dia sudah memaafkanku!" Gumam Reihan dalam hati.


" Mas sudah pulang?" Cahaya menyapa dengan sangat lembut.


" I..iya" Reihan tergagap. bingung dengan sikap Cahaya. Reihan pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Mas sebaiknya mandi dulu, nanti aku akan siapkan airnya.!" Cahaya menghentikan aktifitasnya memanggil bi Susan menggantikannya. Cahaya lalu mengajak Reihan untuk ke kamar dan disepanjang menaiki anak tangga Reihan terus melirik Cahaya yang berjalan didepannya. setelah berada didalam kamar Cahaya masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat sementara Reihan duduk di tepi kasur dengan berbagai macam pikirannya. Reihan menatap pintu kamar mandi sambil membuka kancing kemejanya.


Setelah beberapa menit Cahaya keluar dari kamar mandi dengan senyum yang masih mengembang menghampiri Reihan.


Saat Cahaya sudah berada dihadapannya Reihan langsung berdiri dan memeluk Cahaya namun seketika Cahaya bergeser.


" Sebaiknya mas mandi sekarang, nanti airnya keburu dingin!" Cahaya lalu berjalan menuju lemari dan mengambil baju salin untuk Reihan.


Pandangan Reihan tidak beralih dari gerakan Cahaya. dia masih merasa bingung dengan sikap Cahaya yang terlihat biasa namun seperti tidak baik-baik saja. terlebih saat Reihan ingin bicara Cahaya selalu mengalihkan pembicaraannya.


" Sayang aku...!" Ucapan Reihan terpotong.


" Sudah cepat sana mandi. aku keluar dulu ingin melihat Raka sebentar!" Cahaya lalu pergi meninggalkan Reihan dengan pikiran yang bercampur aduk.

__ADS_1


__ADS_2