
Seminggu sudah setelah kepulangan Intan dari rumah sakit, semasa pemulihan Intan dan Reno memilih tinggal di apartemen itu pun dilaksanakan agar mamanya tidak terlalu mencemaskan keadaan Intan apalagi bila tahu Intan mengalami penculikan.
Selama Intan sakit dan masa pemulihan Reno selalu menemani Intan dan menyerahkan semua pekerjaan kantornya kepada Bima dan hanya sesekali Reno berangkat kekantor itupun sebentar bila keadaan mendesak dan Bima tidak bisa menghandlenya.
Hari ini Reno akan berangkat ke kantor begitu juga dengan Intan, awalnya Reno melarang Intan tapi Intan terus memaksa dan merengek agar Reno mengizinkannya. Intan mengatakan bosan dan jenuh bila terus berada di apartemen ia ingin bertemu dengan teman-temannya di kantor. mau tidak mau karena Intan terus merengek akhirnya Reno pun mengizinkannya dengan syarat Intan tidak boleh terlalu capek dan bila merasa lelah Intan harus datang ke ruangannya.
Reno dan Intan kini berada di dalam mobil, Reno fokus dengan kemudinya sementara Intan nampak terlihat sedikit gelisah, Reno menengok ke arah Intan yang terlihat murung.
" kamu kenapa sayang kok ditekuk gitu mukanya?" tanya Reno tangannya sudah menjulur mengusap lembut kepala Intan.
Intan menoleh kearah Reno dan tersenyum tipis " Aku gak kenapa-napa cuma...!" intan terdiam dan menghela napas panjang.
" cuma apa?" Reno menoleh sekilas karena sedang menyetir.
" Mas, apa selain Murni yang lain juga sudah tahu tentang hubungan kita?" tanya Intan yang sudah bergeser duduknya menghadap ke arah Reno.
" Aku rasa teman-temanmu sudah mengetahuinya dan itu bukan masalah kan sayang?" Reno kembali menatap jalanan.
" mas, bagaimana keadaan Murni aku hampir lupa. aku rasa waktu itu dia juga terluka karena menolongku!" ucap Intan.
" Aku memberinya hukuman!" ucap Reno datar
" apa?" Intan terkejut
" Kenapa mas menghukumnya, dia sudah menolongku mas jika tidak ada dia aku tidak tahu bagaimana nasibku waktu itu mas!" Intan tertunduk sedih bila mengingat kejadian itu.
" Sayang!" Reno menepikan mobilnya melihat raut wajah Intan yang sedih dan masih sedikit syok.
" Jangan di ingat lagi, semua sudah berlalu sayang. aku janji tidak akan membiarkan semua itu terjadi lagi. aku akan slalu berusaha menjaga dan melindungimu sayang!" Reno mengusap lembut pucuk kepala Intan.
" Mas hukuman apa yang kamu berikan kepada Murni?" tanya Intan seraya mengangkat kepalanya dan menatap wajah Reno
" Aku sudah memecatnya" jawab Reno santai
" Memecatnya?" Intan terkejut" Kenapa mas memecatnya, dia sudah menolongku mas!" ucap Intan merasa bersalah kepada Murni.
" Karena dia ikut terlibat dalam penculikan itu!" jawab Reno dengan nada sedikit meninggi karena teringat kejadian itu membuatnya meradang.
__ADS_1
" Aku yakin mas Murni pasti tidak bermaksud seperti itu. kalau tidak bagaimana mungkin dia menolongku dan membahayakan dirinya sendiri dan dia juga sempat bertengkar dengan Amira!" tutur Intan menjelaskan.
" Mungkin Amira yang sudah memanfaatkannya mas, aku tahu Murni memang tidak menyukaiku tapi waktu itu setelah dia tahu aku sedang hamil Murni berusaha menyelamatkanku dan kami hampir berhasil kabur tapi karena kondisiku yang lemah kami tertangkap lagi, jadi aku mohon mas jangan pecat Murni, panggil dia kembali mas!" Intan meraih tangan Reno memohon kepada Reno untuk mempekerjakan Murni kembali.
" Baiklah jika itu keinginanmu aku akan menyuruh Bima untuk mempekerjakan Murni kembali!" Reno menarik tubuh Intan kedalam pelukannya.
" Terima kasih ya mas!" ucap Intan dengan sedikit senyuman dan Reno mengangguk pelan.
" Yaudah sekarang kita lanjut berangkat ke kantor!" Reno melerai pelukannya dan kembali menyalakan mesin mobilnya melanjutkan perjalanannya.
sekitar 30 menit perjalanan mereka kini keduanya sudah sampai di kantor, Reno keluar dari mobilnya dan memutarinya membukakan pintu mobil untuk Intan.
Intan masih tak bergeming dari duduknya saat Reno sudah membukakan pintunya. " Ayo sayang!" ajak Reno mengulurkan tangannya.
" Mas, kenapa tidak menurunkan aku didepan aja sih, bagaimana kalau karyawan yang lain melihat kita?" Intan menatap lekat wajah Reno dan menggenggam tangannya.
" Memangnya kenapa kalau mereka melihat kita, biarkan saja sayang mereka tahu kalau kamu itu isteri dari pemilik perusahaan ini!" jawab Reno santai.
" Tapi mas bagaimana kalau mereka berpikir yang tidak-tidak tentang aku?" Intan sedikit cemas
" Siapa yang berani macam-macam dengan isteriku dan berkata yang tidak-tidak akan ku pecat mereka semua, kamu jangan khawatirkan soal itu sayang!" Reno mengusap lembut pipi Intan.
" Terserah mas bagaimana baiknya saja!" jawab Intan.
" Yaudah sekarang kita masuk, aku ada rapat satu jam lagi!" Reno melihat jam tangan yang melingkar ditangannya.
" Iya mas!" Intan turun dari mobil dan mereka berjalan masuk kedalam kantor. sebelum pergi ke ruangannya Reno terlebih dahulu mengantarkan Intan ke ruangannya. Intan sudah menolak Reno yang ingin mengantarkannya ke ruangannya tapi Reno tidak ingin dibantah dengan terpaksa Intan menurutinya.
Intan sudah sampai di depan pintu ruangannya teman-temannya yang sudah datang melihat Intan yang diantar oleh Reno.
" Mas aku masuk dulu!"
" Iya, jika merasa capek datang ke ruangan ku jangan memaksakan diri untuk bekerja, ingat kamu sedang hamil aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu dan juga anak kita!" pesan Reno.
" Iya mas!"
"ya sudah aku pergi,!" ucap Reno
__ADS_1
intan masuk ke ruangannya setelah Reno beranjak pergi dari ruangan Intan. saat masuk semua pandangan mata mengarah kepadanya.
Intan berjalan menuju meja kerjanya ada perasaan tidak enak saat mata Lintang terus mengarah kepadanya.
Awalnya Lintang sedikit tidak percaya tentang hubungan intan dengan Reno namun setelah Bayu menceritakan semuanya barulah Lintang mengerti mengapa Intan menyembunyikan tentang pernikahannya.
Lintang menghampiri Intan dan duduk di hadapannya.
" Intan bagaimana keadaanmu dan juga kandunganmu?" tanya Lintang kepada Intan
" Alhamdulillah baik!"
"Syukurlah, kami sempat panik saat pak Reno mengatakan bahwa kamu diculik." Intan diam bingung bagaimana menanggapi ucapan Lintang.
" Kamu tidak usah merasa tidak enak dengan ku, Bayu sudah menceritakan semuanya dan aku maklum jika kamu ingin menyembunyikan statusmu yang sebenarnya. !" ucap Lintang
" Maafin aku ya Lin!" Intan merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Lintang sahabatnya.
" Gak apa-apa yang terpenting sekarang kamu dalam keadaan baik-baik saja itu sudah cukup buat aku!"
" Lin..." panggil Intan lirih.
" Oia, apa benar Murni terlibat dengan penculikan itu?" tanya Lintang penasaran.
" Murni hanya dimanfaatkan oleh saudara sepupunya sendiri, yaitu Amira. Jika tidak ada Murni aku juga tidak tahu bagaimana nasibku Lin!" ucap Intan sedih
" Maksud kamu?" Lintang bingung
" Murni yang menolongku saat itu, dan dia pun hampir menjadi korban pelecehan karena berusaha menolongku, dia tidak tahu jika Amira hanya memanfaatkannya dan bertindak kriminal!" terang Intan menjelaskan kejadian yang menimpanya kepada Lintang.
" Tapi pak Reno sudah memecatnya dari sini!" ucap Lintang
" Iya, aku juga baru tahu tadi, tapi aku sudah memintanya untuk memanggil Murni kembali bekerja di perusahaan ini!" ucap Intan seraya tangannya menyalahkan laptop yang ada diatas meja kerjanya.
" Syukurlah kalau begitu!" ucap Lintang menepuk bahu Intan Pelan.
" Yasudah selamat bekerja kembali, jika ada yang kamu butuhkan tinggal bilang padaku atau kepada dua pria jomblo disana!" ucap Lintang kepada Intan sambil menunjuk ke arah Edo dan Andra.
__ADS_1
" Iya, terima kasih banyak Lin!" ucap Intan dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya.
Lintang berjalan ke meja kerjanya dan mereka pun menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing dengan serius .