
Reihan dan cahaya masuk kedalam rumah ditemani pak tejo yang berjalan didepannya.
" Silahkan masuk tuan !" kata pak tejo dengan sopan.
" Terima kasih pak" ucap Reihan
Cahaya jalan perlahan memasuki rumah tersebut, matanya memandang keseluruh sudut ruangan. dadanya terasa sesak saat semua kenangan bersama ayahnya muncul dalam ingatannya. langkahnya terhenti didepan sebuah kamar, tangannya ia julurkan memegang knop pintu dan dengan perlahan ia membuka pintu kamar tersebut. air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya tak mampu ia bendung lagi saat langkahnya menapakkan jejak didalam kamar ayahnya. isak tangisnya pecah menggetarkan tubuh mungilnya.
Reihan yang tak melihat keberadaan cahaya disisinya langsung melangkahkan kaki menuju sebuah kamar yang terbuka. matanya menatap pilu ketika melihat sosok yang ia cari sedang duduk menangis sesenggukan ditepi tempat tidur dengan sebuah bingkai foto ditangannya. perlahan ia melangkah mendekati cahaya memegang pucuk kepalanya lalu ia sandarkan dipinggang dan membelainya lembut. Reihan sedikit membungkukkan tubuh tegapnya mensejajarkan wajahnya dengan cahaya. kedua tangannya ia letakkan dipipi sang istri dengan lembut ia mengecup keningnya.
Cahaya merasa sangat bahagia merasakan ketulusan cinta yang diberikan suaminya. ia lalu menghapus sisa air mata dipipinya. menatap lekat suaminya yang berada dihadapannya dan melemparkan senyuman kecil mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.
Cahaya bangun dari duduk menggandeng tangan suaminya melangkah keluar dari kamar ayahnya dan masuk kembali kekamar yang berada disampingnya.
kamar yang berukuran tidak begitu besar itu adalah kamar tempat cahaya melepaskan lelah ketika seharian membantu ayahnya ditoko bunga. ia lemparkan pandangan pada setiap sudut, lalu ia jatuhkan tubuh diatas tempat tidur yang sudah lama ia tinggalkan.
__ADS_1
air mata lagi-lagi cara ia menumpahkan semua kerinduan yang bergemuruh dihatinya.
Reihan membiarkan sang istri berada dengan kenangan masa lalunya. ia turut merasakan kesedihan yang begitu dalam dimata cahaya.
" jika kau terus menangis seperti ini lebih baik kita mencari sebuah hotel, aku gak mau mata istriku bengkak karena terlalu banyak menangis disini". kata Reihan dengan tangan menghapus airmata dipipi cahaya.
" aku ingin bermalam disini saja bolehkan?" pinta cahaya dengan tatapan sendu.
" aku tidak mau bermalam disini jika kamu selalu menangis. wajahmu nanti akan terlihat jelek " Reihan tersenyum dan mencubit hidung cahaya.
" jadi kalau aku berubah jelek kau akan meninggalkan aku?" ucapnya lirih dengan mata berkaca - kaca.
Reihan menarik napas panjang mendengar ucapan cahaya, ia mengusap tengkuk lehernya dengan pelan dan melemparkan tawa kecil.
" akhhhh... sudahlah rasanya aku sudah tidak sanggup lagi berada ditempat ini" Reihan menarik tangan cahaya sampai bangun dari duduknya.
__ADS_1
" aku benar-benar tidak sanggup melihatmu menangis rasanya hatiku terasa sakit. dadaku terasa sesak setiap kali air mata menetes dari mata ini" ucapnya Reihan lirih dengan memberi kecupan lembut dikedua mata cahaya.
mendapat perlakuan lembut dari Reihan jantung cahaya berdegup kencang, matanya berbinar memandangnya lekat.
Reihan mendekatkan wajahnya pada cahaya sampai tidak ada jarak dikeduanya. gemuruh napas cahaya terasa hangat menerpa wajah. Reihan memegang dagu cahaya lalu dengan lembut ia memberikan kecupan dibibir. cahaya membalas kecupan itu dan Reihan yang mendapat balasan kecupan dengan cepat ******* bibir cahaya dengan lembut.
Tokkk...tokkk....tokkk...
aksi keduanya terhenti saat ada suara ketukan pintu dari luar.
Reihan berjalan membuka pintu kamar.
"iya ada apa pak?" tanya Reihan yang sudah membuka pintu mendapati pak tejo yang berdiri dihadapannya.
" maaf tuan, apa anda akan bermalam disini?" tanya pak tejo sopan.
__ADS_1
Reihan menoleh ke cahaya yang sedang duduk ditepi ditempat tidur.