
Di kediaman mama Sekar
" Sayang bagaimana keadaan butik mama?" Tanya Reihan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada hanya mengenakan handuk yang melingkar dipinggang dan berjalan menghampiri Cahaya yang sedang duduk ditepi kasur sambil mengutak atik ponselnya.
Cahaya menoleh dan tersenyum lalu meletakkan ponselnya diatas nakas.
" Hanya ada sedikit masalah kemarin!" Ucap Cahaya lembut dan duduk kembali disebelah suaminya yang kini telah duduk ditepi kasur.
" Masalah apa?" Reihan mengusap pucuk kepala Cahaya pelan.
" Emm... itu kemarin ada seorang wanita yang memaksa untuk dibuatkan gaun sama mama, sudah aku bilang berkali - kali mama tidak bisa karena sedang berada di luar negeri tapi wanita itu masih saja memaksa" Cahaya menghela napasnya.
" Wanita itu siapa sayang, kenapa dia begitu memaksa?" Reihan jadi penasaran dengan wanita yang diceritakan Cahaya.
" Kenapa memangnya, apa mas mau kenalan dengannya?" Cahaya menyipitkan matanya
" Ishh.... Isteriku kalau lagi cemburu seperti ini bikin mas gemes aja!" Reihan menggoda isterinya dan menarik tubuh Cahaya dalam pelukannya.
" Apaan sih mas lepasin ah..pakai baju dulu sana!" Cahaya berontak tapi Reihan semakin mengeratkan pelukannya sambil tertawa.
" Mas udah ah lepas!" Cahaya cemberut dan Reihanpun mengalah lalu melepaskan pelukannya.
" Makanya jangan cemburu buta begitu!" Goda Reihan dengan senyum manisnya berdiri dan berjalan ke arah lemari mengambil bajunya.
" Siapa yang cemburu ih!" Kesal Cahaya.
" Itu buktinya!" Reihan menoleh ke Cahaya dan tertawa kecil.
" Habis mas aja pakai nanya siapa!" Cibir Cahaya.
" Ya... Mas kan cuma tanya, Siapa tau aja mas kenal!" Reihan menoleh ke Cahaya karena saat ini Reihan sudah memakai bajunya dan berada didepan cermin sambil menyisir rambutnya.
" Mas kenal sama wanita arogan seperti itu, apa jangan - jangan dia itu salah satu dari mantan mas Reihan ya?" Kesal Cahaya dan melipat kedua tangannya didada
Reihan meletakkan sisirnya diatas meja rias lalu menghampiri Cahaya yang tengah berdiri dengan wajah cemberut. " Mantan? apa semua wanita yang arogan itu mantan mas ?" Reihan mengernyitkan alisnya merasa konyol dengan ucapan isterinya yang sedang terbakar api cemburu yang tidak jelas.
Reihan tersenyum lalu meraih tangan Cahaya dan mencium punggung tangannya. " Kamu ini kalau cemburu itu yang jelas dong sayang. mantan mas kamu pasti tau siapa. kalau wanita itu mana mas tau siapa kan mas juga belum pernah bertemu dengannya!" Reihan mengecup kening Cahaya agar tidak marah lagi dan benar saja perlakuan lembut Reihan bisa meredam kecemburuan Cahaya.
" Maaf ya mas!" Cahaya tersenyum merasa bersalah karena sudah cemburu buta.
" Gak apa-apa sayang, itu tandanya kamu cinta sama mas, dan mas suka kalau kamu cemburuin asal tidak boleh berlebihan ya cemburunya!" Reihan mencubit hidung Cahaya gemas.
" Sakit ih..!" Cahaya cemberut dan Reihan tertawa melihat wajah Cahaya yang menurut Reihan begitu menggemaskan.
" Yaudah aku mau turun dulu ya mas mau menyiapkan makan malam, sebentar lagi mas Reno dan Intan akan datang kesini untuk makan malas bersama kita.!" ucap Cahaya tersenyum gembira.
" Kamu terlihat senang sekali ya kakak dan kakak iparmu mau datang kesini" Reihan menoel dagu Cahaya.
" Iya dong mas, aku senang karena akhirnya Intan benar-benar jadi kakak iparku, gak nyangka aja, tapi sayangnya waktu mereka nikah kita gak bisa hadir ya mas" Cahaya berubah sedih.
" Ya kamu jangan sedih gitu dong sayang, kita kan gak bisa hadir karena salah kakakmu itu yang menikah dadakan gitu. bilangnya minggu depan taunya hari itu juga nikahnya!" Cahaya manggut mengiyakan ucapan suaminya.
" Iya sih mas"
__ADS_1
" Ya sudah cepat sana kedapur nanti keburu mereka datang!" Reihan mendorong bahu Cahaya pelan.
" Iya!" Cahaya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
" Mas Rei mau kemana?" tanya Cahaya pada Reihan yang berjalan mengekor dibelakangnya.
" Mas mau main sama jagoan kita, dia dimana ya sayang?" Reihan merangkul pinggang Cahaya saat menuruni anak tangga.
" Raka sama mba Yati paling juga ada ditaman belakang mas!"
" Ya udah mas kesana dulu ya!" Reihan lalu pergi ketaman belakang mencari keberadaan jagoannya sementara Cahaya menuju dapur untuk membantu bi Susan menyiapkan makan malam.
🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Di taman
" Hallo jagoan papa!" Reihan menghampiri Raka yang sedang asik main bola bersama mbak Yati. Usia Raka yang baru 11 bulan tapi sudah bisa berjalan dan senang sekali bermain bola membuat hampir setiap hari mbak Yati selalu menemani Raka bermain bola ditaman. dan seperti biasa setiap kali Reihan menghampiri Raka mbak Yati selalu pamit undur diri karena itulah yang diinginkan Reihan jika dia sedang bersama putra kesayangannya mbak Yati boleh pergi.
" Ayo sini main sama papa!"
" Pa..pa..!" Raka berjalan menghampiri papanya lalu langsung digendong oleh papanya saat Raka sudah berada didekatnya dan mbak Yati sudah pergi meninggalkan keduanya ditaman.
Reihan dan Raka sedang asik bermain bersama canda dan tawa keduanya begitu menyenangkan. Cahaya yang melihat keduanya dari jauh tersenyum bahagia lalu perlahan berjalan menghampirinya.
" Duh asik benar yang lagi main !" Suara Cahaya membuat keduanya menoleh.
" Mama"
" Sayang" Ucap keduanya saat melihat sosok wanita cantik sedang berdiri dengan seulas senyum yang menghias wajahnya.
Reihan tersenyum dan berjalan menghamiri keduanya isteri dan buah hati mereka. meski awal dari pernikahan mereka begitu banyak konflik dan menelan pil pahit kehidupan namun pada akhirnya Tuhan memberikan mereka manisnya buah dari kesabaran dan perjuangan.
Reihan merasa sangat bersyukur karena Cahaya masih mau memberinya kesempatan untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka dan tentu saja semua juga berkat dari kelapangan dan kebesaran hati keluarga Cahaya Mama Sekar dan juga Reno yang tidak mendendam kepadanya. mau menerima dan merestui mereka.
" Ayo kita masuk dan kamu harus segera membersihkan diri ya sayang sebentar lagi paman sama aunti mau kesini!" ucap Cahaya menyuruh Raka bersih-bersih alias mandi.
" acik..!" Raka terlihat gembira karena mendengar paman kesayangannya mau datang.
Reihan yang sudah mengambil alih Raka dari gendongan Cahaya berjalan sambil merangkul pinggang Cahaya dengan tangan sebelahnya menggendong Raka.
mereka masuk kedalam rumah lalu menyuruh mbak Yati untuk memandikan Raka.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Reno dan Intan baru saja tiba di rumah orangtuanya, namun sayang karena saat ini Sekar sang mama sedang berada diluar negeri belum bisa menemui kedua pasang pengantin baru ini.
Reno keluar dari mobilnya yang sudah terparkir dihalaman rumah bersama Intan. bi Susan yang sudah mendengar suara mobil Reno datang langsung keluar dan menyambut kedatangan Reno dan Intan yang baru pertama kali datang setelah menjadi sepasang suami isteri.
" Aihhh... den Reno apa kabar, bibi kangen den Reno udah lama gak pulang?" Sambut bi Susan yang melihat Reno sudah berada di ambang pintu.
" Alhamdulillah baik bi!" jawab Reno sambil tersenyum.
" Non Intan apa kabar?" Kali ini bi Susan menyapa Intan yang sudah tersenyum tipis sedari tadi melihat antusiasnya bi Susan menyambut kedatangan Reno.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik juga bi, bibi sendiri apa kabar?" Intan balik menyapa bi Susan.
" Alhamdulilah kabar bibi juga baik non, mari den, non masuk!" Bi Susan mengajak Reno dan Intan segera masuk.
" Non Cahaya sudah menunggu dari tadi dan saat ini non Cahaya sedang didapur!" beritahu Bi Susan.
" Oh.. kalau gitu aku langsung ke dapur aja ya mas" Izin Intan pada Reno.
"Iya, tapi mas langsung ke kamar aja ya mau bersih-bersih gak enak badan mas rasanya lengket!"
" Yaudah sana!"
" Kamu juga kalau mau bersih-bersih langsung aja ya ke atas ke kamar mas, udah tau kan kamar mas yang mana, jangan salah masuk kamar ya?" goda Reno sambil mengedipkan mata.
" ihhh... apaan sih mas, Iya aku tahu kamar mas yang mana karena kamar Cahaya ada disebelah kanan berarti kamar mas yang sebelah kiri, iyakan?"
" Pinter!" Reno mengacungkan jempolnya lalu bergegas naik keatas menuju kamarnya sementara Intan sudah berjalan menuju dapur bersama bi Susan.
" Assalamualaikum, yang lagi masak serius bener sih!" Goda Intan pada Cahaya yang sedang sibuk memasak.
" Aaaa... Intan!" Teriak Cahaya saat menoleh dan melihat Intan sudah berdiri dibelakangnya.
" Kalau orang memberi salam itu dijawab dulu dong!" Tegur Intan dengan seulas senyum manisnya.
" Ah iya, Wa'alaikum salam!" Jawab Cahaya
dan langsung memeluk Intan.
" Aku kangen banget tau!" Cahaya mengurai pelukannya dan mengajak Intan duduk di kursi meja makan lalu meminta bi Susan untuk melanjutkan memasaknya.
"Iya sama aku juga kangen" ucap Intan sambil mendudukan dirinya. "Ngomong-ngomong bagaimana kabar kamu dan pak Reihan?"
" Alhamdulillah baik, kamu jangan panggil suamiku pak dong Tan, kesannya tua banget!" Cahaya tertawa sendiri " Dia kan sekarang udah jadi adik ipar kamu Tan!" Protes Cahaya.
" Iya, tapi kan dia itu atasan aku Ca dikantor!"
" Itukan dikantor sekarang kan lagi dirumah"
" Iya.. iya.., Bawel!"
"Biarin!" Cahaya tertawa dan dia merasa sangat bahagia karena sahabatnya kini sudah menjadi kakak iparnya.
" Oia Tan gimana pernikahan kalian baik-baik aja kan?" Tanya Cahaya cemas.
"Alhamdulillah baik Ca, kamu kok waktu itu gak hadir sih Ca?" Tanya Intan pasang tampang sedih.
"Maaf Tan, waktu itu aku harus pulang karena Raka kurang sehat udah gitu butik mama juga ada sedikit masalah" Cahaya merasa tidak enak hati pada Intan.
" Kalian juga nikah dadakan gitu, bilangnya mau minta restu bibi tapi malah nikah hari itu juga!" ledek Cahaya.
" Mas mu tuh ulahnya, jangan salahin aku ya!" Intan tertawa
" Mas Reno sudah gak tahan rupanya sama kamu ya!" Cahaya tertawa
__ADS_1
" Iya" Mereka akhirnya tertawa bersama.