
Mbok ijah menatap lekat Cahaya yang sedang duduk dikursi meja makan, ia melihat butiran bening yang jatuh dipipi Cahaya. Mbok ijah menghentikan tangannya yang sedang memotong sayuran ia lebih memilih menghampiri nona mudanya yang sedang bersedih. perlahan mbok ijah berjalan menghampiri Cahaya ia belai pucuk kepalanya dan menarik tubuhnya dalam dekapannya.
" Non, Kenapa non cahaya menangis?" tanya mbok ijah dengan lembut.
" Gak ada apa-apa mbok, cuma lagi teringat sama ayah mbok " Cahaya berbohong.
" Non ayah Non sekarang sudah tenang disana, beliau pasti sangat bahagia kalau non cahaya juga bahagia dan beliau pasti akan sedih kalau non cahaya sedih kaya gini."
" iya mbok, Terima kasih ya mbok" Cahaya memaksakan senyumnya walau itu sangat sulit.
" Ayo mbok lanjutkan masaknya !" Cahaya bangun dari duduknya dan menggandeng tangan mbok ijah lalu melanjutkan kembali memasak untuk sarapan dibantu dengan Cahaya.
Beberapa jam kemudian setelah Cahaya berkutat dalam dapur bersama mbok ijah akhirnya beberapa menu masakan sudah tersaji dimeja makan. Bram dan widia keluar dari kamarnya ia terperanga dengan menu sarapan ya cukup menggugah selera.
" Mbok, Siapa yang memasak ini semua mbok, tidak seperti biasanya mbok masak sebanyak ini?" Tanya Bram yang terlihat sudah sangat tergiur dengan masakan yang tersaji di atas meja makan.
" Non Cahaya tuan !" jawab mbok ijah.
" Benarkah itu Nak?" tanya Bram dengan tersenyum.
" Iya pah, semoga papah suka dengan masakan cahaya" Cahaya lalu menuangkan air kedalam gelas dan meletakkannya diatas meja samping tangan kanan Bram.
Bram sudah tidak sabar menyicipi masakan Cahaya, ia mengambil beberapa masakan yang terhidang dan meletakkannya di atas piringnya dan langsung menyantap sarapannya.
" Masakanmu benar-benar enak sayang, ternyata menantu papah pandai memasak rupanya. Papah sangat menyukai masakanmu ini!" ucap Bram sambil menikmati sarapannya.
" Syukurlah kalau papah menyukainya"! ucap Cahaya sambil menyunggingkan semyumnya.
__ADS_1
Widia menatap sinis kearah Cahaya yang mendapat pujian dari Bram.
Reihan berjalan menuruni anak tangga dengan setelan jas hitam dipadukan dengan kemeja biru langit , Reihan terlihat sangat gagah dan tampan. Cahaya menoleh dan hanya menatapnya sekilas, ia masih belum sanggup untuk menatap wajah Reihan.
" Pah, mah..!" sapa Reihan lalu duduk disamping widia. Walau hatinya sakit teramat sakit Cahaya masih melakukan kewajibannya melayani sang suami. Ia mengambilkan nasi dan lauk pauk diatas piring Reihan tanpa menatap sedikitpun wajah Reihan.
Reihan memandang wajah Cahaya yang terlihat sedikit pucat dan mata yang bengkak mungkin akibat terlalu banyak menangis.
"Selamat pagi semuanya!" Sapa Clara yang sontak mengejutkan Cahaya yang sedang berdiri menuangkan air minum disamping suaminya. Begitupun Reihan yang langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
" Selamat pagi sayang !" Sapa Clara pelan di telinga Reihan tapi masih terdengar oleh Cahaya. lalu duduk disamping Reihan yang sudah jelas itu tempat duduk Cahaya.
" Sayang, bagaimana tidurmu semalam,apa nyenyak?" tanya widia tersenyum
" Sangat nyenyak tante" jawab Clara tersenyum.
Bram yang melihat Clara duduk dikursi Cahaya terlihat geram terlebih melihat perlakuan isterinya yang begitu manis terhadapnya.
" Dan sebagai tamu di rumah ini seharusnya kau sadar diri tidak seenaknya duduk dikursi orang lain!" melanjutkan makannya.
" Pah... biarkan Clara ikut sarapan bersama kita pah, dia kan tamu mamah !" Widia menyentuh lengan tangan Bram.
" Lalu bagaimana dengan Cahaya, dia juga harus sarapan bersama kita" Bram menatap tajam widia.
" Gak apa-apa pah, Cahaya bisa sarapan bareng mbok ijah didapur " ucap Cahaya dengan senyum yang dipaksakan.
Dari balik tembok wanita paruh baya menitikkan air mata menatap lekat Cahaya. " Non, jadi inilah alasannya kenapa non Cahaya semalam menangis. non berbohong bukan karena merindukan ayah non." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
" Papah dengar sendirikan gadis kampung itu bilang apa, memang sudah sepantasnya kamu tuh sarapan didapur dengan ART."
" Cukup mah !" Bentak Bram.
Seketika widia terdiam.
" Pah, yang dikatakan mamah tidaklah salah.
nona Clara adalah tamu dirumah ini sudah seharusnya dijamu dengan baik Pah, !" Ucap Cahaya yang berusaha tegar dan tak lupa memberikan senyumannya walau sebenarnya hatinya meraung-raung .
" Cahaya permisi dulu Pah, silahkan lanjutkan sarapannya!" Dengan senyum yang sangat dipaksakan Cahaya pergi meninggalkan ruang makan dan melangkah menuju dapur.
mbok ijah yang berada dibalik tembok segera pergi kembali ke dapaur
Reihan yang melihat Cahaya pergi melewatinya begitu saja merasa sedikit tersentil hatinya dengan sikap acuh Cahaya terhadapnya.
Bram menyudahi sarapannya setelah Cahaya meninggalkan ruang makan. selera makannya menjadi hilang karena menantu kesayangannya lebih memilih mengalah.
"Rei, hari ini adalah hari pertamamu bekerja diperusahaan papah. jadi papah harap kau datang tepat waktu !". Bram beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja dengan sikap dinginnya.
" Iya pah ". Jawab Reihan
Widia hanya memandang punggung suaminya yang pergi bersama pak tio berangkat ke kantor.
Di meja makan tinggal Widia, Clara dan Reihan.
" Tante, sebenarnya siapa sih gadis itu, siapa tadi namanya Ca.. Cahaya ?" tanya Clara mengingat -ingat.
__ADS_1
" Dia cuma gadis kampung sayang, gak penting." kata widia
" Tapi kenapa om Bram kelihatannya sayang banget dengan gadis itu dan tadi kok dia panggil om dan tante dengan sebutan papah.. mamah..?" tanya Clara penasaran.