RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Sundel


__ADS_3

"Pak Bima!" Panggil seorang wanita dengan has suara lembutnya. seketika semua orang yang berada diruangan itu menoleh kesumber suara termasuk Bima dan Murni.


" Laporan yang pak Reno inginkan ada pada ku, ini aku akan mengantarkannya ke ruangan pak Reno!" ucap Intan berdiri dengan tangan yang memegang file berisi laporan yang Bima pinta pada Murni.


Bima langsung berjalan menghampiri Intan. " Mengapa laporan ini bukan dia yang mengerjakan?" tanya Bima yang menjadi sedikit canggung berhadapan dengan isteri bosnya.


" Oh.. pantas ku cari dari tadi tidak ada, ternyata ada padamu. apa kau sengaja mengambilnya dariku supaya bisa menjadi alesan untuk bertemu dengan pak bos. picik sekali!" Murni dengan nada sinis dan berjalan menghampiri Intan lalu merebut paksa file yang berada ditangannya.


Bima yang melihat sikap Murni yang kasar pada Intan menatap tajam dan ingin memberinya pelajaran namun saat melihat tatapan mata Intan dengan gelengan kepala pelan seperti memerintah jangan pada Bima.


Murni menyeringai dan tersenyum sinis pada Intan. " Aku yang akan mengantarkan ini pada pak Reno karena kau dengar sendirikan tadi pak Reno ingin laporan ini aku yang mengantarkan keruangannya!" Dengan sombongnya Murni berjalan meninggalkan Intan yang masih berdiri menatapnya.


" Tunggu!" Suara Bima menghentikan langkah kaki Murni dan murni menoleh.


Bima berjalan kearah Murni berdiri. " Apa kau yang mengerjakan laporan itu?" Tanya Bima menunjuk file yang Murni pegang.


" Tentu saja kau pikir siapa yang mengerjakannya, DIA?" Murni menunjuk Intan dan menekankan kata Dia nya dengan tawa meremehkan. " Dia mana bisa mengerjakannya karena dia cuma bisa bersantai-santai dengan cutinya dan melepaskan tanggung jawabnya sebagai pegawai di sini.!" tambahnya.


Intan kembali duduk dan tidak menghiraukan ucapan Murni yang dilontarkan untuknya. dia kembali fokus mengerjakan tumpukkan berkas yang diberikan Murni padanya.


Bima menoleh kearah Intan, setelah melihat sikap Intan yang cuek Bima lalu berjalan pergi meninggalkan Murni begitu saja tidak menghiraukan jawaban yang Murni berikan karena Bima tau Murni sedang membual. Bima sangat mengenal siapa Intan dan tuduhan yang Murni berikan pada Intan sebenarnya membuatnya sangat geram tapi setelah melihat sikap Intan yang cuek dalam menghadapi Murni Bima pun tidak mau ambil pusing apalagi Intan sendiri yang memintanya untuk tidak usah menanggapi sikap Murni.


Bima bukannya tidak menghiraukan Intan, tapi selama Intan terlihat baik-baik saja dan Murni tidak berbuat jauh Bima tidak akan bertindak tapi jika Murni sampai mengusik dan membuat Intan tidak nyaman barulah Bima bertindak menjaga dan melindungi isteri dai bosnya.


Murni kembali melangkahkan kakinya dengan percaya dirinya yang besar pergi ke ruangan Reno.


Tokkk.... tokk..tokkkk...


Murni mengetuk pintu ruangan CEO.


" Masuk!" Teriak Reno dari dalam


Murni yang mendengar suara tegas Reno langsung membuka pintu dan masuk. Murni tersenyum melihat Reno yang sedang sibuk berkutat dengan leptopnya.


" Tampan sekali, bagai mana ya caranya untuk meluluhkannya. ahhh... dia harus menjadi milikku!" gumam Murni dengan menatap intens wajah tampan Reno membuat Murni terpesona dia masih berdiri menatap lekat wajah tampan dari CEO nya, sampai suara Reno yang memanggilnya pun tidak diharaukannya. ketampanan dan karisma yang terpancar dari Reno membuat Murni terhipnotis hingga akhirnya bentakkan dari Reno yang meninggi membuat Murni terkesiap sadar dari lamunannya.


" Ma...ma..maaf pak!" Murni tergagap dan tubuhnya gemetar melihat Reno yang menatapnya tajam. Murni hanya bisa menunduk dan tidak berani melihat Reno yang sudah berdiri dengan tangan yang dilipat didada.


" Ada apa kau masuk ke ruanganku?" Tanya Reno dengan nada tinggi.


Murni semakin gemetar. " Gi*a ni CEO tampan si iya tapi bikin nyali gue ciut aja!" Guman Murni dalam hati.


" I..ini pak, sa..saya mau menyerahkan laporan tentang PT Moonlight yang bapak pinta!" Murni meletakan file yang dipegangnya diatas meja Reno.


" Apa kau sendiri yang mengerjakannya?"

__ADS_1


" I..iya pak!" Murni benar-benar dibuat ciut dengan sikap dingin dan suara tegas Reno.


" Sekarang kau boleh pergi, keluar dari ruanganku!" Tegas Reno dan kembali duduk dikursi kebesarannya lalu mengambil berkas laporan yang Murni bawa dan memeriksanya.


Murni keluar dari ruangan Reno dengan jantung seperti pacuan kuda. Murni memegang dadanya dan menarik napas setelah sudah berada diluar ruangan Reno. Bima yang duduk di meja kerjanya yang letaknya tidak jauh dari ruangan Reno tertawa kecil melihat Murni dengan wajah pucat pasih.


Murni berjalan dengan gontai menuju ruangannya dan setelah sampai ia menghempaskan dirinya duduk dikursi kerjanya dan membuang napas berat.


" Kenapa tuh anak?" Tanya Andra menyenggol bahu Edo. dan hanya dijawab dengan bahu yang diangkat oleh Edo.


Lintang melirik kearah Murni dan menahan tawanya. Lintang yakin Murni pasti habis kena amukan dari Pak CEO tampan yang terkenal sangat dingin itu.


Lintang berdiri lalu menghampiri meja Intan.


" Tan, liat tuh si sundel!" Lintang menunjuk Murni dengan ekor matanya. sementara Intan mengernyitkan alisnya mendengar ucapan yang dilontarkan Lintang.


" Sundel?"


" Iya itu tuh si sundel, aku rasa ya dia tuh habis kena amukan si bos, liat aja tuh tanpangnya!" Lintang masih memperhatikan Murni yang terlihat kesal dan Murni pun menoleh ke Lintang dan Intan yang masih memperhatikannya.


" Apa loe liatin gue kaya gitu, iri loe sama gue?"Solot Murni pada Lintang.


" Iri sama loe? Hellooooo... sadar buu...!" Ejek Lintang.


" Iri sama loe yang paling juga abis kena amukan bos, keliatan dari muka loe!" Sargah Lintang.


" Muka gue, emang kenapa sama muka gue, emm.. keliatan ya rona bahagianya, haaa...?" Murni tertawa paksa.


" Sial, tau aja lagi tuh si Lintang, awas aja kalau gue udah bisa naklukin tuh manusia es jadi milik gue. siap-siap ja gue tendang mereka semua" Gumam Murni dalam hati.


" Ngapa loe bengong? lagi halu? sadar woi mimpi ketinggian kalau jatuh sakit bu!" ucap Lintang meledek


" Tunggu aja loe semua, sebentar lagi pak bos bakal jadi milik gue!"


Degg..


Intan menoleh ke Murni dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Kenapa loe natap gue kaya gitu, iri loe ?" Tanya Murni yang merasa aneh dengan tatapan Intan padanya.


" Jangan halu loe..!" Kesal Lintang.


" Ha.. ha... tunggu aja tanggal mainnya. dan bila udah pada waktunya loe semua bakal gue suruh pak Reno pecat loe-loe pada!" ucap Murni dengan sombongnya.


" Loe...!" Kesal Lintang

__ADS_1


" Udah-udah, biarin aja Lin gak usah diladenin. orang kaya dia kalau diladenin bisa sama gilanya!" bisik Intan dan mengusap bahu Lintang .


" Iya juga ya, perempuan stres kaya dia kalau diladenin cuma bikin stres doank ya!" Lintang menarik napas dan mengabaikan omongan Murni yang masih ngoceh-ngoceh tidak jelas.


Tidak terasa jam pulang sudah tiba. semua karyawan sudah siap-siap pulang.


TRINGGGGGG...


pesan masuk ke ponsel Intan.


MY HUBBY💞


" Sayang, tunggu aku di lobi ya!"


INTAN


" Di cafe depan aja mas, kalau di lobi takut ada yang lihat"


MY HUBBY💞


" Yaudah kalau begitu. oke!"


Intan bergegas keluar dari area kantor dan menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor tersebut. dan saat berada di lobi kantor Intan bertemu dengan Lintang yang masih berdiri menunggu pacarnya yang belum juga datang menjemputnya.


" Loh Lin , kamu kok masih disini?" Intan menghampiri Lintang.


" Ehh.. Tan, Iya ni gak tau tuh si Dodit kenapa belum juga dateng, tadi bilangnya udah deket tapi belum juga sampai!" Gerutu Lintang kesal.


" Sabar!" Intan tersenyum tipis dan mengusap bahu Lintang. " Nah itu pacar kamu udah jemput!" Ucap Intan saat melihat mobil hitam yang mengarah pada mereka berdua.


" Iya!" Lintang tersenyum kearah Intan. " kamu mau bareng gak tan, kita juga kan searah?" Tawar Lintang.


" Gak deh, terima kasih. aku mau mampir ke cafe dulu!" Tolak Intan sopan.


" Oh yaudah kalau gitu. aku duluan ya!" Lintang lalu masuk ke dalam mobil Dodit yang sudah berada didepannya.


" Iya hati-hati ya!"Intan melambaikan tangan pada Lintang dan membalas senyum Dodit yang tersenyum padanya.


Mobil Lintang dan Doditpun sudah menghilang meninggalkan area kantor dan Intanpun sudah berada didepan cafe lalu masuk kedalam mobil Reno yang sudah menunggunya.


" Udah lama nunggunya ya mas, maaf ya mas tadi nemenin Lintang dulu nunggu pacarnya yang telat jemput.!" Intan merasa tidak enak karena sudah membuat Reno menunggunya.


" Gak apa-apa kok yang, aku juga baru sampe!" Reno tersenyum dan mengusap kepala Intan lembut.


Mobil Reno dan Intanpun melaju dan meninggalkan area cafe menuju kediaman mama Sekar.

__ADS_1


__ADS_2