RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Makan malam bersama.


__ADS_3

" Intan!" Teriak Cahaya setengah berlari menghampiri Intan lalu memeluknya erat. " Uhuk... uhuk... kau ini rindu padaku apa ingin membunuhku?" Intan batuk karena Cahaya memeluknya terlalu erat dan Intan melepaskan pelukan Cahaya.


" Hiii...hii...., maaf habis aku kangen sama kamu kakak ipar!" Cahaya nyengir dan menyenggol bahu Intan menggodanya.


" Panggil kakak ipar lagi aku pulang!" Ancam Intan dengan wajah cemberut.


" Iya... iya.. gak deh, ayo duduk dulu!" Intan duduk setelah Cahaya menyuruhnya. " Tunggu sebentar ya aku buatkan minum dulu!" Cahaya hendak bangkit dan pergi kedapur untuk membuatkan minuman namun tangan Intan menariknya dan membuatnya kembali duduk.


" Tidak usah, kalau aku haus nanti aku bisa mengambilnya sendiri!" Intan tidak ingin merepotkan cahaya diajak makan bersama keluarganya saja intan sudah merasa senang. setidaknya cahaya tidak pernah melupakan persahabatan mereka meski kini dia sudah menjadi orang yang berada.


Cahaya masih seperti Cahaya yang dulu baik dan selalu setia kawan. Intan merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Cahaya.


" Ya udah kalau begitu nanti kalau kamu haus tinggal kedapur aja ya, kamu sudah tau kan dimana dapurnya kakak ip...?" Intan langsung membungkam mulut Cahaya dengan tangannya karena Cahaya yang akan memanggilnya dengan sebutan kakak ipar lagi


" Emmmm...!" Mulut Cahaya dibekap Intan


"Awas aja kalau manggil itu lagi!" intan melepaskan tangannya dari mulut Cahaya dan memasang wajah cemberut.


" Iya.... heee... gak janji!" Cahaya tertawa kecil dan menggeser duduknya menjauh dari intan.


"Dasar menyebalkan!" Intan menyenderkan tubuhnya kesofa dengan kasar.


" Ha..ha....!" Cahaya tertawa lepas


" Assalamualaikum!" Reno muncul tiba-tiba dan berdiri didepan Intan dan Cahaya.


" Wa'alaikum salam!" jawab Intan dan Cahaya bersamaan. Intan terkejut dengan kemunculan Reno entah mengapa intan merasa menjadi gugup dan salah tingkah terlebih saat Reno menatapnya lekat.


" loh kok mas Reno di rumah, bukannya tadi keluar ya katanya mau bertemu dengan seseorang?" Cahaya menggoda Reno saat Cahaya melihat mata Reno yang menatap intan dengan tatapan berbeda.


" Mas gak jadi pergi!" Jawab Reno tanpa menoleh ke Cahaya dan pandangannya masih tetap fokus menatap Intan.


Intan membuang pandangannya kesegala arah saat matanya bertemu dengan mata Reno yang tidak berhenti menatap dirinya.

__ADS_1


" Loh Reno, bukannya tadi kata kamu mau bertemu dengan seseorang, kok belum berangkat?" Tanya sekar yang datang menghampiri ketiganya diruang utama.


"Iya tuh mah, tadi katanya mau pergi tapi tau-tau udah ada dirumah aja, emm... jangan -jangan orang yang dimaksud itu ada disini!" Selidik Cahaya yang melirik Intan dan Intan yang dilirik mengernyitkan alisnya sementara Reno terlihat salah tingkah melirik Intan sekilas lalu pergi begitu saja ke kamarnya.


" Mas Reno mau kemana. kita makan dulu?" Teriak Cahaya.


" Berisik!" teriak Reno yang terus berjalan naik ke lantai 2 dengan tangan menutup kedua telinganya.


" Dasar mas Reno!" gumam Cahaya.


Reihan keluar dari kamar dengan Raka berada dalam gendongannya. Reno berjalan mendekati Cahaya yang sedang menatap keatas lantai 2. " Kamu sedang apa?" tanya Reihan yang sudah berada disampingnya.


" Ya ampun mas, ngagetin aja sih!" Kesel cahaya memukul bahu Reihan karena ia merasa sangat terkejut dengan kedatangan suaminya itu yang secara tiba-tiba.


" Siapa yang ngagetin sayang, mas sudah manggil dari tadi kamu yang serius banget natap keatas terus, ada apa sih?" Reihan duduk sambil memangku Raka dan Cahaya ikut duduk disampingnya karena setelah menyapu sekeliling ternyata Intan sudah tidak ada diruangan itu.


" Dimana Intan ?" gumam Cahaya yang tidak melihat intan.


" Intan dan mamah, tadi mereka disini tapi sekarang kemana mereka perginya?" kata Cahaya yang sudah mengambil alih Raka dari gendongan Reihan dan memberinya asi karena Raka sudah menangis merasa haus setelah bangun tidur.


"Aku disini Ca " Kata Intan yang berjalan dari arah dapur menghampir Cahaya.


" Kamu dari mana ?"


" Aku tadi ke toilet sebentar terus bantu mamahmu dan bi susan menyiapkan makan malam. Tuh sudah selesai!" Intan mendekat duduk disamping Cahaya menatap gemas pada baby Raka yang berada digendongan cahaya.


" Gantengnya baby Raka, gemesin deh uuuuuu....!" kata Intan merasa gemas dengan baby Raka dan menjembil pipi gembulnya


" Makanya cepat nikah dan bikin biar bisa punya sendiri!" Ledek Cahaya yang melihat Intan begitu gemas dan senang dengan baby Raka.


" Emangnya semudah itu?" kata Intan tanpa menoleh pada cahaya dan masih sibuk bermain dengan jari-jari Raka yang imut dan mungil.


" Mudah saja kau tinggal menikah dengan kakakku, masalah selesai!" Cahaya tersenyum tipis, Intan mendengus kesal dan menyandarkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


" Intan tuh pangeranmu sudah turun. ayo sayang kita ke meja makan!" Reihan mengajak Cahaya pergi dari ruangan itu dari anak tangga Reno memperhatikan adik dan adik iparnya yang pergi meninggalkan Intan.


" Hei, tunggu..aku ikut!" Intan bangkit dari duduknya dan menyusul Cahaya dan Reihan.


" Di mana Intan?" Tanya Sekar pada Reihan dan Cahaya yang berjalan menghampirinya lalu duduk dikursi meja makan. bi susan menghampiri Cahaya dan mengambil alih Raka dari gendongan Cahaya.


" Sini non biar baby Raka bibi yang gendong non makan dulu saja!" Bi susan menggendong Raka dan pamit keruang utama.


" Terima kasih ya bi!" Cahaya tersenyum tipis dan merasa bersyukur karena bi susan begitu pengertian.


" Itu dia mah!" Mata Cahaya menunjuk kearah Intan yang baru saja datang.


" Hei sayang sini duduk!" Sekar menyuruh Intan duduk disampingnya dan menghadap Cahaya.


" Iya tante terima kasih!" ucap Intan sedikit gugup.


" Kok tante sih panggil aja mamah!" Sekar tersenyum tipis dan menganggap Intan sudah seperti anaknya sendiri.


" Iy...iya tan eh mamah!" Intan ragu-ragu dan gugup.


Reno datang dan langsung duduk dikursi kosong samping Intan dan menghadap Reihan.


" Mamah merasa senang sekali bisa makan malam bersama seperti ini, terima kasih ya sayang sudah menyempatkan waktu untuk makan malam bersama kami!" Sekar menggenggam punggung tangan Intan dan menatapnya lekat.


" Aku yang harusnya berterima kasih tan..ehh.. maaf mah.. aku sangat berterima kasih karena mamah sudah mau mengundangku makan malam. aku... aku benar-benar berterima kasih mah, mamah begitu baik dan hangat membuatku merasa punya keluarga dan rindu akan sosok ibuku!" Intan menunduk suaranya begitu bergetar airmata pun tanpa terasa meluncur begitu saja di pipinya.


Sekar bangkit dari duduknya dan menarik kepala lintang dalam dekapannya dan mengusap pucuk kepala intan dengan lembut.


" Kamu jangan sedih dong sayang disini ada kami keluargamu, ada mamah, cahaya Reihan dan juga Reno kami semua keluargamu sayang!" Sekar berusaha menghibur hati Intan. Reno terus memperhatikan Intan yang sedang menangis hatinya terasa pilu dan sakit melihat intan menangis dan sesedih itu. ingin rasanya ia menarik intan ke dalam pelukannya dan mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya tapi dia tidak bisa melakukannya.


" Sudah ya sayang kamu jangan sedih lagi. ayo sekarang kita makan dulu. nanti keburu dingin!" ucap Sekar lalu kembali duduk di kursinya.


Mereka sekeluarga makan malam bersama dengan penuh kehangatan sesekali mereka bersenda gurau terlebih dengan cahaya yang senang memggoda Intan.

__ADS_1


__ADS_2