
Reihan memandangi wajah cahaya yang masih terpejam dan ia melihat ada butiran air mata mengalir dipipi cahaya. sesekali ai pun mendengar cahaya mengigau memanggil ayahnya dan terlihat juga kegelisahan dan ketakutan cahaya dalam tidurnya.
herry benar, gadis yang malang.
karena aku dia menjadi seperti ini, kasihan juga.
batin Reihan.
Cahaya perlahan membuka matanya mengedip- ngedipkan bola matanya memperjelas penglihatannya.
"aahhhhkkkk.... " teriak cahaya ketakutan karena keberadaan Reihan disampingnya.
cahaya menggeser tubuhnya menjauh dari reihan.
Reihan menggaruk rambutnya yang tidak gatal lalu mencoba menenangkan cahaya.
" hei... gadis kampung saat ini aku dalam keadaan sadar jadi mana mungkin aku tertarik padamu." kata reihan dengan kalimat sombongnya.
" pergi kamu!" usir cahaya dengan melemparkan bantal kearah Reihan.
" Tenanglah..." Reihan menghampiri cahaya memegang erat kedua bahunya." aku minta maaf atas kejadian semalam. aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu". tutur Reihan mencoba menenangkan.
Cahaya terdiam dan menepis tangan Reihan yang bertengger di bahunya.
__ADS_1
" pikirkanlah bai-baik!" pinta Reihan lalu bangun dari duduknya dan berjalan keluar. sebelum menutup pintu Reihan menoleh ke arahnya.
entah kenapa mutnya hilang untuk pergi ke club. dia memutuskan kembali kekamarnya.
Reihan merebahkan tubuhnya disofa dengan kaki yang menggantung lalu terlintas dibenaknya wajah cahaya.
Heiiii... ada apa denganku, kenapa aku jadi memikirkan gadis itu? sialll....
batin Reihan kesal.
******
Seperti biasa mbok ijah mempersiapkan makan malam.
tuan dan nyonya besar sudah berada dimeja makan begitupun Reihan yang bisa dibilang sangat jarang berada untuk makan malam bersama.
" baik tuan." jawab mbok ijah lalu bergegas kedapur menyiapkan makan malam untuk cahaya.
" Rei... papah akan mengurus pernikahan kalian secepatnya". kata pak bram membuka obrolan dimeja makan.
uhukkk...uhukk...
mamah widia tersedak mendengar ucapan suaminya itu.
__ADS_1
" Terserah papah saja" ucap Reihan datar.
" Ada apa ini? kamu Rei mau menikahi gadis kampung itu? " tanya widia dengan tawa kecil dibibirnya merasa konyol dengan ucapan Reihan.
" kenapa harus Rei yang menikahinya pah? siapa tahu saja gadis itu juga pernah tidur dengan laki-laki lain." kata widia mencibir.
" cukup mah!" bentak pak bram di ikuti gebrakan meja.
" mamah benar-benar keterlaluan, papah sangat mengenal siapa cahaya dan ayahnya, sungguh tidak pantas mamah mengatakan seperti itu tentang cahaya" pak bram sangat murka dengan ucapan istrinya itu lalu melenggang pergi meninggalkannya.
melihat kemarahan suaminya itu widia hanya terdiam sambil mengacak acak makanan dipiringnya.
" sudahlah mah... aku tidak mau mamah dan papah bertengkar lagi, semua memang salahku mah." ucap Reihan sambil mengelus punggung tangan mamahnya.
" Rei... ! ucap mamahnya lirih.
"lalu bagaimana hubunganmu dengan clara?
kasihan clara, dia pasti akan sangat sedih sayang".
" aku akan menceritakan semuanya pada cahaya mah tentang hubunganku dengan clara, meskipun kami menikah hubungan kami hanyalah sebatas ikatan pernikahan saja mah tidak lebih. jika clara kembali aku akan segera menceraikannya mah"
" apa maksudmu menceraikannya?" tanya widia heran.
__ADS_1
" jika dalam waktu 1 tahun dan ternyata dia tidak hamil, mamah tenang saja aku akan segera menceraikannya dan kembali pada clara mah" tutur Reihan meyakinkan mamahnya.
" mamah setuju sayang, mamah percaya padamu"widia merasa sangat senang dan senyum sumringah terlihat menghiasi bibirnya.