RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Pintu Doraemon


__ADS_3

Di rumah Cahaya dan Reihan sedang beristirahat di dalam kamar mereka duduk bersandar di atas tempat tidur sementara Baby Raka dengan lelapnya tidur diboks bayi.


"Mas!" Cahaya bersandar dibahu Reihan


" Hemm!" Reihan menoleh dan tangan kanannya membelai lembut kepala Cahaya.


" Aku benar-benar tidak menyangka bayi kita kini sudah lahir dan mas ada berada disisiku!" Cahaya memejamkan mata dan Reihan tersenyum manis.


" Apa sebenarnya yang membuat mas datang kesini, kok tiba-tiba mas bisa hadir dihadapanku? terlebih disaat aku benar-benar berharap mas ada dihadapanku dan benar saja mas datang!" Cahaya tertawa kecil dan menusuk nusuk dada bidang suaminya dengan jarinya.


" Mas juga tidak tau kenapa, hari itu mas berangkat ke kantor lalu tiba-tiba saja mas teringat kamu sayang!" Reihan mencubit gemas pipi Cahaya.


" Ihh... mas sakit!" Cahaya memukul dada Reihan sambil cemberut dan Reihan memeluknya.


" Hari itu mas benar-benar sangat ingin bertemu denganmu, entah kenapa rasanya sulit sekali mas menahan rasa rindu pada istri mas ini!" Reihan semakin mengeratkan pelukannya. Cahaya tersenyum tipis mendengarkan cerita suaminya.


" Rasanya saat itu mas ingin sekali meminjam pintu doraemon agar mas bisa segera bertemu denganmu!" Cahaya tertawa mendengarnya. " Mas ada-ada saja!" Reihan tersenyum tipis. " Allah memang maha mengetahui sayang, disaat hati mas dilanda rasa rindu Allah memberi mas kesempatan untuk bertemu denganmu. teman mas yang diperintahkan untuk mengurus perusahaan cabang dikota ini ternyata sedang sakit dan mas yang di tunjuk untuk menggantikannya. hari itu mas sangat senang sekali dan malam harinya mas langsung berangkat kesini karena mas sudah tidak sabar menunggu untuk bertemu denganmu!" Cahaya merasa terharu menitikkan airmata dan buru-buru ia menghapusnya.


" kok waktu itu mas bisa berada di taman?" tanya Cahaya mendongak menatap wajah Reihan.


" Hati mas yang menuntun mas untuk pergi ke taman itu!" Reihan tersenyum tipis


" Bohong!" Ucap cahaya singkat.


Reihan melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua tangannya dibahu cahaya.


" Bohong, kok bohong si sayang?" Reihan menatap lekat manik mata cahaya dan yang ditatap malah menunduk malu.


" Mas juga gak tau kenapa pagi itu mas ingin sekali pergi ketaman padahal mas belum istirahat dan baru sampai dihotel jam 5 pagi!" Terang Reihan dan membuat Cahaya merasa bersalah karena mengatakan Reihan bohong.


" Maaf ya mas!" Cahaya menunduk dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Reihan!"

__ADS_1


"Maaf? maaf untuk apa sayang?" Reihan mengangkat dagu Cahaya sampai keduanya saling menatap.


" Maaf karena aku sudah bilang mas bohong!" Ucap Cahaya lirih. Reihan tertawa lebar setelah Cahaya berbicara seperti itu. ia tidak menyangka Cahaya begitu sensitif.


" Tidak apa-apa sayang, gak usah minta maaf seperti itu, tapi......!" Reihan tersenyum menggoda.


" Tapi apa?" Tanya Cahaya dengan polosnya. Reihan tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Cahaya lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Cahaya.


Cahaya melotot dengan apa yang dilakukan suaminya dan tiba-tiba Bany Raka Menangis membuat Reihan menghentikan aksinya dan mengusap rambutnya kasar. Cahaya tertawa melihat raut muka suaminya yang memelas


lalu turun menghampiri Raka yang menangis didalam boks bayi.


" Cup....cup.. cup.... anak mamah kok nangis, haus ya?" Cahaya memeriksa terlebih dahulu popok baby Raka setelah itu baru menggendongnya dengan hati-hati.


Reihan tersenyum dan menghampiri Cahaya dan baby Raka lalu Cahaya duduk di sofa untuk memberinya asi Reihan duduk disampingnya mengelus rambut baby Raka dengan lembut.


Cahaya menoleh menatap lekat sang suami lalu tersenyum tipis.


Di Restoran Intan merasa sangat bersalah, Reno tidak membiarkan Intan pergi begitu saja.


" Kau harus ganti rugi karena sudah menjatuhkan makananku!" Reno bicara dengan sikap dinginnya dan melipat kedua tangannya didada.


Intan bergidik ngeri melihat sorot mata Reno yang menatapnya tajam. " Maafkan saya pak, saya akan mengganti semua makanan pak Reno!" Intan menunduk dan dengan tangan sedikit gemetar.


Reno memperhatikan Intan yang terlihat gugup dan gemetar. senyum licik pun tersungging dari bibirnya, Reno menarik kasar tangan Intan dan membawanya masuk kedalam Restoran lalu memaksanya untuk duduk.


Intan tidak berani menatap Reno, jantungnya berdegup dengan kencang dan dibawa meja ia meremas - remas jemarinya.


Reno memanggil seorang pelayan dan memesan beberapa menu makanan, tidak butuh waktu lama makanan yang dipesanpun terhidang diatas meja.


Intan terbelalak melihat berbagai macam makanan terhidang diatas meja dan seketika cacing-cacing diperutnya meronta -ronta menjerit ingin menyantap semua makanan yang terlihat sangat menggiurkan.

__ADS_1


Kedatangannya ke restoran memang ingin makan siang karena merasa sangat lapar Intan berjalan terburu-buru dan sialnya ia malah menubruk Reno sampai makanannya terjatuh ke lantai.


Reno melihat Intan yang sedang menatap semua hidangan diatas meja. tanpa menawari Intan Reno dengan lahapnya memakan satu persatu makanan yang terhidang. Intan sesekali menelan salivanya menatap Reno yang sedang asik makan sendiri.


" Sial, gara-gara bertemu dengannya aku malah duduk disini melihatnya makan serakus itu. perutku yang lapar ohh... kasihan sekali kamu!" Lirih intan dalam hati.


Reno tersenyum tipis tapi Intan tidak memperhatikannya, spontan Intan memegang perutnya yang tiba-tiba saja berbunyi.


Reno ingin tertawa tapi ditahannya. ia pura-pura tidak mendengarnya dan masih menikmati makanannya.


" Makan yang banyak, makan terus sampai tidak ada yang tersisa biar tubuhmu gendut seperti ikan buntal.!" gumam Intan kesal.


" Apa katamu, kau mengataiku?" Reno berhenti makan dan menatap Intan tajam


" Akhhh... tidak, saya tidak mengatakan apa-apa, mungkin pak Reno salah dengar!" Intan sangat gugup


" pendengarannya sungguh tajam, dia bisa mendengar apa yang aku katakan dalam hati!" Intan menghela napas panjang.


" Sudah jangan di liatin terus nanti air liurmu bisa membuat Restoran ini tenggelam jika kau hanya memperhatikan makanku!" Reno berbicara tanpa melihat Intan.


" Tidak pak, terima kasih saya tidak lapar!" Intan berbohong


kukukkk.... kriuuuuukkkk....


" Mulutmu bisa saja bicara tidak lapar tapi perutmu tidak bisa kau ajak berbohong!" Reno meneguk minumannya dan mengusap mulutnya dengan tisu.


" Maaf pak saya harus pergi sekarang, jadi tolong beritahu saya makanan apa yang harus saya beli untuk mengganti semua makanan yang tadi saya jatuhkan!" Intan berdiri berharap Reno secepatnya memberitahu makanan apa yang harus ia beli.


Reno tertawa kecil dan menyilangkan kakinya dengan kedua tangan dilipat didada. "Makanlah dulu baru nanti ku beritahu!"


karena sudah sangat lapar intan pun memakan makanannya dengan lahap.

__ADS_1


Reno tersenyum melihat Intan makan begitu lahap ia terus memperhatikan intan dan tiba-tiba ponselnya berdering.


__ADS_2