RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Tidak Mau Makan


__ADS_3

" Mas Reno, sudahlah mas mungkin aku saja yang terlalu percaya diri menganggap dia benar-benar mencintai aku.!"


"Mas Reno?" ucap Intan pelan namun membuat keduanya menoleh menatap intan sampai ia merasa canggung sendiri.


" Udah deh mas jangan bikin intan penasaran gitu kasih tau intan yang sebenarnya tentang hubungan kita selama ini.!" ucap Cahaya sambil tersenyum.


" Kita kan pacaran sayang!"


" Maaassss..!" Reno tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Cahaya.


" Pacaran?" Ucap pelan Intan saking pelannya hanya dia sendiri yang dapat mendengarnya.


Intan terus memperhatikan Cahaya dan Reno yang terlihat begitu dekat. " Ca ternyata pak Reno bisa sedekat itu ya sama kamu. sampai-sampai kau bisa melupakan kesedihanmu dalam waktu singkat setelah bertemu dengannya. aku turut senang melihatmu bisa kembali tersenyum Ca !" Batin intan tersenyum melihat Reno dan Cahaya yang tertawa lepas.


" Baru kali ini aku melihat pak Reno bisa tertawa selepas itu. Kau memang sangat serasi dengan pak Reno Ca. alangkah baiknya Ca kamu bisa melupakan pak Reihan." guman Intan dalam hati.


" Intan... intan...!" panggil Cahaya mengibaskan tangannya kekanan dan kekiri didepan wajah intan.


" Ahhh.... iya Ca, maaf !" Intan terlihat gerogi.


" Intan maaf ya Mas Reno memang suka asal kalau bicara!" Cahaya menoleh ke Reno dan menatapnya tajam membuat Reno malah kembali tertawa.


" Gak apa-apa Ca, lagipula dia terlihat sangat baik padamu kalian sangat serasi!" ucap Intan dengan seulas senyum diwajahnya.


Mendengar ucapan Intan Reno yang sudah berhenti menahan tawa kini dibuat tawanya kembali lepas begitu saja.


" Intan kamu ini ada-ada saja, tapi apa benar aku dan Cahaya terlihat serasi?" tanya Reno menggoda.


" Mas Reno udah deh ahhh....!" Cahaya memukul bahu Reno.


" Kenapa sih dek, emang pertanyaan mas ada yang salah?" Reno mendengus.


"Ya bagus dong dek, kalau orang lain melihat kita ini sangat serasi berarti kita memang memiliki kemiripan. dan sangat Cocok kalau dibilang kita ini...!" Ucapan Reno menggantung.


" Bilang apa hahhh..?" Cahaya mengerucutkan bibirnya.


" Ca kalian memang serasi dan jika diperhatikan ternyata wajah kalian sangat mirip !" Intan terkejut sendiri dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah mengamati kemiripan keduanya.


Cahaya dan Reno kompak. mereka malah kembali tertawa setelah mendengar ucapan Intan.


" Kenapa kalian tertawa seperti itu, Apa ucapanku ada yang salah?" Intan menautkan kedua alisnya menatap keduanya yang sudah berhenti tertawa.

__ADS_1


" Intan, yang kamu katakan itu memang benar. kalau kamu bilang kami ini mirip!" Cahaya dan Reno mendekatkan wajah mereka satu sama lain. " Jelas saja kalau kamu bilang kami mirip tan, karena sebenarnya kami ini memang saudara kembar!" Terang Cahaya.


" Saudara kembar?" Intan tertegun mendengar pengakuan Cahaya. " kamu jangan bercanda Ca!" Intan merasa tidak percaya.


" Intan, kamu yang bilang kami ini miripkan? dan memang benar dengan apa yang kamu lihat. kami ini mirip karena kami memang saudara kembar yang sudah lama terpisah. Tutur Reno.


" Jadi benar kalau kalian ini memang saudara kembar?" tanya intan ragu-ragu.


" Iya intan. kami ini memang saudara kembar, Aku juga baru tau beberapa hari yang lalu!" Ucap Cahaya menundukan kepalanya.


" Maafin mas ya dek , Mas baru memberi tahu kamu meskipun sebenarnya mas udah tau sejak lama. mas takut kamu gak bisa menerima mas Ca!" Ucap lirih Reno.


Cahaya kembali menangis dalam pelukan sang kakak. Intan yang melihat pemandangan kakak beradik ini merasa terhanyut dengan suasana yang dilihatnya iapun turut menitikkan airmatanya.


" Sudah deh, udah punya suami masih aja cengeng kamu dek!" Reno mengacak-acak rambut Cahaya.


" Mas Reno!" Cahaya mencubit pinggang Reno.


" Aww... sakit dek!" Reno meringis kesakitan.


" Rasain!" Ucap Cahaya mengerucutkan bibirnya.


Intan tersenyum melihat keduanya.


Di rumah sakit Reihan menemani Clara yang berbaring di tempat tidur pasien dengan selang infus ditangannya. Clara diam-diam memberi tahu Widia tentang keadaannya yang dirawat di rumah sakit dan tidak waktu lama Widiapun datang menjenguk Clara.


Reihan terkejut ketika mamahnya datang. ia pun menoleh ke arah Clara. " Maaf Rei tadi aku yang menelpon mamah widia !"


" Ya ampun sayang, kamu ini kenapa kok bisa sampai dirawat kaya gini sih?" tanya widia mencari jawaban.


" Maaf mah, aku membuat mamah khawatir. aku baik-baik aja kok mah, dan aku mohon mamah tidak memberi tau keadaan aku ya mah kepada orang tuaku!" Clara menautkan kedua tangannya.


" Iya kamu tenang aja? mamah tidak akan memberi tahu orangtua kamu. mamah yang akan menemanimu bersama Reihan!" ucap Widia melirik putranya.


" Terima kasih ya mah!" Ucap Clara berbinar.


Reihan menghempas napasnya dengan kasar. " Maaf mah Rei harus pergi sekarang. Rei masih ada urusan tolong ya mamah jaga Clara!" Ucap Reihan lalu melangkah keluar.


"Rei.... kamu gak bisa gitu dong. kamu harus menemani Clara sekarang. lupakan saja urusanmu itu!" Langkah Reihan seketika terhenti saat mendengar ucapan mamahnya.


" Rei kamu temani Clara ya. mamah mau beli sesuatu dulu dikantin.!" Reihan kembali duduk disamping Clara dan mamahnya melenggang keluar dengan santai.

__ADS_1


" Maaf ya Rei aku jadi merepotkanmu? " ucap intan.


" Tidak apa-apa, Sebaiknya sekarang kamu istirahat!" Ucap Reihan datar dan bangun dari duduknya pindah ke sofa yang ada diruangan tersebut.


Reihan mengambil benda pipih di saku celanya. dia lalu membuat panggilan kepada nomor ponsel Cahaya namun ternyata tidak ada jawaban, Reihan sudah mencoba berkali kali menelponnya tapi tetap tidak ada jawaban. Reihan mendengus kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Clara tersenyum penuh kemenangan melihat raut wajah prustasi Reihan.


" Akhhh....!" Clara meringis kesakitan memegang perutnya.


Mendengar teriakan Clara Reihan langsung terperanjat menghampiri. " Kamu kenapa, apa perutmu sakit lagi?" Tanya Reihan sedikit khawatir.


Clara menganggukan kepalanya sambil meringis. " Aku akan panggilkan dokter kamu tunggu sebentar ya!" Reihan melangkahkan kakinya hendak memanggil dokter namun ia merasakan tangannya ditarik lalu menghentikan langkahnya dan menoleh.


" Tidak usah Rei, sudah agak mendingan !" Ucap Clara dengan tangan masih memegang pergelangan tangan Reihan.


" Tapi kamu harus tetap diperiksa dokter, untuk mengetahui kenapa perutmu sakit lagi!" tutur Reihan.


" Mungkin karena perutku laper Rei, makanya terasa sakit!" Ucap Clara manja.


" Apa kamu mau makan?" Tanya Reihan.


" Hemmmm...!" Clara tersenyum


Reihan lalu mengambil makanan yang ada di atas corner samping tempat tidur pasien. dia duduk dan menyodorkan makanan tersebut pada Clara. Bukan menerimanya Clara malah menggelengkan kepala.


" Kenapa? bukankah tadi kau bilang ingin makan. apa kau ingin makan makanan yang lain?" tanya Reihan yang sedikit bingung.


" Tidak"


" Lalu?"


" Aku ingin kau yang menyuapiku!"


"Clara tanganmu tidak sakit, kamu bisa makan sendiri!"


" Ya sudah kalau kamu gak mau menyuapiku, aku tidak mau makan. biarkan saja perutku sakit, kau sudah tidak peduli lagi Rei..!" Ancam Clara dan berpura-pura menangis.


Reihan menghela napas panjang dan memilih mengalah. " Baiklah, aku akan menyuapimu!"


Clara tersenyum senang dan membuka mulutnya menerima satu suapan yang disodorkan tangan Reihan.

__ADS_1


Melihat Reihan sedang menyuapi Clara seseorang yang melihatnya pun langsung mengabadikannya dengan ponselnya. Ia tersenyum menyeringai lalu mengirim foto hasil jepretannya ke nomor Cahaya.


" Dia lebih pantas bersama putraku dibanding denganmu orang miskin yang bermimpi hidup kaya dengan menikahi putraku!" Widia tersenyum gembira setelah mengabadikan apa yang dilihatnya diruangan Clara terlebih saat ia mengirim pesan kepada Cahaya. berharap Cahaya akan sadar dan mau meninggalkan Reihan.


__ADS_2