
Di Hotel Kejora๐ป
Intan sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memejamkan mata untuk tidur namun lagi-lagi kejadian sore tadi dirumah sakit membuat airmatanya kembali lolos.
" Kenapa jadi seperti ini?" Lirihnya. Intan tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap kali ia memejamkan mata bayangan itu terus bermunculan. " aaahhhh....!" Teriak Intan kesal dan bangun turun dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela kamar hotel melihat kearah luar jendela dan nampak pemandangan malam yang begitu memanjakan mata. gedung-gedung menjulang tinggi, lampu-lampu jalan yang terang benderang dan bintang yang berkelap kelip bertaburan dilangit sungguh membuat suasana hati Intan yang sedang dilanda pilu sedikit terobati.
" Aku harus memulainya dari awal, aku harus bisa menata hatiku kembali. berlarut - larut dalam kesedihan hanya akan membuatku terpuruk sendiri. aku harus sadar, seorang Reno seperti bintang dilangit sana tidak akan mungkin orang sepertiku bisa meraihnya!" Intan tersenyum sendiri dan menghela napas. " Intan kamu pasti bisa. hidup sendiri tanpa orang tua seharusnya sudah bisa membuatmu terbiasa dengan semua ini jangan menangis lagi Intan. anggap saja semua ini tidak pernah terjadi ini hanyalah mimpi yang akan berakhir saat terjaga. ayolah Intan kamu pasti bisa, bangunlah, sadarlah Intan bangun dari mimpimu dan tersenyumlah masih ada hari esok yang harus kau lalui!" Intan berbicara pada dirinya sendiri dan berusaha mengingatkan hati dan pikirannya agar sadar dari semua mimpi mimpinya dan belajar untuk kuat dan ikhlas menghadapi luka hatinya.
Tokkk....tokkkk... tokkkk....
Suara ketukan membuat Intan terkesiap dan terkejut akan suara ketukan pintu tersebut. Intan berjalan menuju pintu " Siapa sih malam-malam begini ketok-ketok pintu?" Gumam Intan.
Intan membuka pintu perlahan dan betapa terkejutnya saat ia melihat sosok pria bertubuh tegap, tinggi dan sangat tampan berdiri didepan pintu kamarnya. matanya membulat dan jantungnya berdetak tak karuan. airmatanya hampir tumpah namun dengan segera ia menahannya. ia tidak mau terlihat lemah.
" Kenapa seperti ini ya Allah, disaat aku sedang menata hatiku kembali kenapa dia harus muncul dihadapanku!" Gumam Intan dalam hati.
" Kau, mau apa datang kemari?" ketus Intan
" Izinkan aku masuk, aku ingin bicara!"
" Tidak, sebaiknya kau pergi sekarang, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!" Intan hendak menutup pintu namun gerakannya kalah cepat dengan kaki pria itu yang sudah menghalanginya.
" Ishhh... kau!" kesal Intan. " Sebaiknya kau pergi dan kembali ke rumah sakit. kau itu belum sembuh masih tidak waras datang malam-malam ke kamar seorang wanita!" sungut Intan.
" Izinkan aku masuk dulu ada hal yang ingin aku katakan padamu!" Reno pria yang kini berada didepan pintu kamar Intan mendorong kuat pintu tersebut hingga terbuka lebar dan dengan santai masuk kedalam kamar dan membuat Intan mendengus kesal.
Flashback on๐
" Rei.... bangun. Reihan!" Reno mengguncang bahu Reihan.
" Ishh... ini orang tidur udah kaya kebo, susah banget sih dibanguninnya!" Kesal Reno.
" Rei... Reihan bangun.!" kali ini Reno mengguncang tubuh Reihan lebih keras tapi tetap saja Reihan masih asik dalam mimpinya.
" emmm.. susah banget sih . tapi coba pake cara yang satu ini, pasti kali ini dia akan segera bangun !" Senyum licik mengembang di wajah Reno
Reno masuk kedalam kamar mandi dan keluar dengan membawa air segayung dan berjalan kearah Reihan yang masih asik dengan mimpinya.
" kali ini pasti berhasil!" Reno menahan tawa dan berjalan mendekat kearah Reihan lalu menyiramnya dengan air yang ia bawa tepat diwajahnya.
" Banjir.... kebanjiran....banjir..!" Teriak Reno ditelinga Reihan. sontak air yang mengenai wajah Reihab dan juga teriakan Reno benar-benar berhasil membuat Reihan langsung terperanjat bangun dari tidurnya sampai ia terjatuh dari sofa.
" Banjir... banjir... dimana banjirnya... banjir Reno banjir!" Teriak Reihan kelimpungan belum sadar kalau dia dikerjai oleh sang kakak ipar.
" Ha...ha...ha...!" Reihan bingung melihat Reno tertawa terbahak bahak.
" Kau mengerjaiku!" kesal Reihan masih dengan posisi duduk dilantai setelah sadar Reno mengerjainya.
" Aku baru saja istirahat kau ini benar-benar keterlaluan. kalau kau bukan kakak iparku sudah ku lempar kau ke kandang buaya!" dengus Reihan merasa kesal baru saja ia beristirahat karena seharian mengurus pekerjaan kantor yang Reno tinggalkan lalu masih juga harus mengurus Reno yang mengalami kecelakaan sedang asiknya tidur malah dikerjain.
" Jangan salahkan aku, siapa suruh tidur sudah seperti kebo. di banguninnya susah!" Reno duduk di sofa dan memangku satu kakinya.
Reihan menghela napas kasar dan bangun dari duduknya. Reihan berdiri melipat kedua tangannya didada. diperhatikannya Reno yang sudah berganti baju dengan pakaian biasa tidak lagi memakai pakaian rumah sakit.
" Ada apa sih pake bangunin orang tidur segala, dan apa-apaan ini !" Reihan menarik baju yang di gunakan Reno.
" Cih...!" Reno kesal dan menepis tangan Reihan.
" Aku harus bertemu dengan Intan malam ini juga!" ucap Reno santai.
__ADS_1
" Apa? kau gila ya, kau itu pasien dan belum sembuh betul. dokter juga belum memperbolehkanmu pulang!" Reihan mengusap rambutnya kebelakang.
" Ahhhh... aku tidak peduli, jika aku harus menunggunya sampai besok yang ada dia bakalan kabur lagi. Amira bilang besok dia juga akan kesini menjengukku, aku tidak mau melihat wanita itu lagi dan membuat Intan kembali bersedih.!" Reno menatap lekat Reihan yang berdiri dihadapannya dengan niat terselubung dibalik tatapannya.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" Reihan mengerutkan dahi mengerti pasti ada maksud tertentu dibalik tatapan Reno padanya.
" Ayolah adik iparku yang baik hati tolonglah kakak iparmu ini untuk bertemu dengan pujaan hatinya!" Reno merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen.
" Tidak, aku tidak mau!"Reihan menolak lalu duduk di sofa dan kembali merebahkan tubuhnya disana.
" Rei... ayolah Rei, apa kau tidak kasihan pada kakak iparmu ini ganteng-ganteng masih juga belum menikah?" Reno menggoyangkan bahu Reihan yang berada disampingnya.
" Menikah? apa kau yakin akan menikah dengannya?" Reihan bangun dan bergeser dengan posisi duduk ia menoleh ke arah Reno.
" Aku yakin, aku akan berusaha untuk meyakinkan Intan. oleh karena itu aku sudah tidak sabar. aku sangat ingin bertemu dengannya Rei ayolah...!" Rengek Reno meyakinkan Reihan.
" Baiklah!" Reihan akhirnya menyerah. " aku akan menyuruh Tio mengurus tentang kepulanganmu. tapi apa kau yakin tidak apa-apa? bagaimana dengan lukamu?" Reihan masih kurang setuju sebenarnya dengan ke inginan Reno yang ingin keluar dari rumah sakit tapi apa boleh buat Reno bersih keras ingin menemui Intan sang pujaan hati dan meyakini Reihan bahwa dia sudah tidak apa-apa.
" Aku sudah tidak apa-apa. jia aku merasakan sakit aku akan meminta dokter Ryan untuk memeriksaku!" Reno tersenyum tipis.
" Huhhhh... menyusahkan!" Gumam Reihan yang masih terdengar oleh Reno.
" Apa katamu?" kesal Reno yang mendengar sekilas gumaman Reihan.
" Akhhh... tidak ada!" Reihan menyangkal.
" Tajam sekali pendengarannya!" Gumam Reihan lagi.
" Aku masih bisa mendengar!" Teriak Reno yang tengah berjalan mengambil tas Intan yang sempat tertinggal.
" Ha...ha...!" Reihan tertawa garing dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Memang kau tahu Intan sekarang dimana?"
" Akhhh... iya aku lupa!" Reno menepuk jidatnya sendiri "cepat beritahu aku Intan menginap dihotel mana?".
" Tunggulah! Aku yang akan mengantarmu nanti, mana mungkin aku membiarkanmu kabur malam - malam begini menyetir sendirian dalam keadaan luka seperti itu!" Reihan menunjuk kepala Reno yang dibalut perban. " Kalau Cahaya tahu habislah!" Reihan geleng - geleng kepala.
" Aku masih bisa menyetir mobil sendiri, cepatlah katakan dimana?"
" Tidak boleh, kau mau aku antar atau tidak jadi menemui Intan.?" Ancam Reihan
" Baiklah - baiklah!" Reno mengalah
"Gitu dong anak manis !" Reihan menepuk bahu Reno.
" ishhh...!" Reno mendengus kesal
Reno dan Reihan akhirnya keluar dari rumah sakit setelah Tio datang menemui mereka. Tio mengurus semua tentang kepulangan Reno dari rumah sakit dan pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab tentang keadaan pasien yang meminta paksa untuk pulang.
Reihan dan Reno keluar dari rumah sakit ia masuk kedalam mobil dan Tio yang menyupir. Reihan enggan membawa mobilnya sendiri karena ia merasa sangat mengantuk. mobil menuju dengan kecepatan sedang melaju membelah jalan.
Reno senyum-senyum sendiri dengan pandangan keluar kaca mobil. sementara Reihan tengah tertidur pulas.
Tio melirik kebelakang melalui kaca spion dan tertarik garis dari sudut bibirnya melihat Reno yang nampak sesenang itu.
Hanya butuh 15 menit waktu yang ditempuh menuju Hotel Kejora. suasana yang lengang dan letak hotel yang tidak jauh mempersingkat waktu mereka untuk sampai di hotel tersebut.
Reno keluar dari dalam mobil begitu antusias dan langsung masuk kedalam hotel meninggalkan Reihan.
__ADS_1
Tio membangunkan Reihan yang masih tertidur didalam mobil.
Reihan bangun dan menyapu sekeliling ternyata Reno sudah tidak ada.
" Mana Reno?" Tanya Reihan dengan suara serak has bangun tidur dan turun dari dalam mobil.
" Itu disana!" Tunjuk Tio sopan pada Reihan.
Reihan yang merasa ditinggal hanya menggelengkan kepala.
" Cihh... Memang dia tahu kamarnya dimana apa?" Decak Reihan
" Lihat dia main pergi begitu saja, seperti tau saja dimana kamarnya!" Tio tersenyum tipis mendengar ucapan Reihan.
" Dasar bucin!" Ucap Reihan saat melihat Reno kembali menghampirinya.
" Kenapa kau masih diam saja disitu hah!" kesal Reno.
" Siapa suruh main pergi gitu aja dan tidak membangunkanku!"
" Sudah ayo cepat.!" Reno menarik tangan Reihan
" Tio tolong besok bawa mobilku kesini!"
Reihan melemparkan kunci mobil pada Tio karena Reno masih menariknya.
Untung saja kunci mobil yang Reihan lempat tepat jatuh ditangan Tio.
Reihan dan Reno masuk kedalam hotel dan Reihan mengambil kunci kamar untuk Reno setelah sebelumnya sudah memesan satu kamar untuknya melalui telpon.
Karena sudah sangat mengantuk Reihan langsung menuju kamarnya dan membiarkan Reno pergi kekamar Intan yang letaknya hanya terjeda 2 kamar dari kamar Baby Raka.
Reno sudah berdiri didepan kamar Intan . Jantung Reno tiba-tiba berdegup sangat kencang. " Tenang Reno tenang!" Reno menarik napas dan berusaha untuk menenangkan hatinya sendiri lalu mengetuk pintu kamar Intan.
Tokk... tokkk.... tokkk....
" Kau !"
Flashback off ๐
Reno menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang ada dikamar hotel tersebut dengan memangku satu kaki.
" Jika tidak ada hal penting sebaiknya anda pergi dan keluar dari kamar saya tuan Reno yang terhormat.!" ketus Intan dan membuang muka enggan untuk menatap orang yang ada dihadapannya.
" Aku ingin mengembalikan ini!" Reno meletakkan dan menggeser tas yang tadi ia bawa diatas meja yang ada dihadapannya.
" Ini tas ku . terima kasih !" Intan mengambil tasnya dan meletakkannya diatas nakas.
" Hanya itu cara berterima kasihmu padaku!" Reno bangkit dari duduknya dan berdiri berjalan mendekati Intan yang masih setia berdiri.
" Apa mau mu?" Tanya Intan dengan sedikit ada rasa khawatir dengan sikap Reno yang semakin jalan mendekat kearahnya.
" Aku hanya ingin kamu!" Ucap Reno santai dan tersenyum tipis.
" Jangan macam-macam. cepat sana pergi. keluar dari kamarku!" Bentak Intan yang merasa sedikit takut dengan sikap Reno.
" Tenanglah sayang, apa kamu tidak merindukanku hem?" Reno semakin mendekat dan Intan yang terus mundur akhirnya terhenti membentur tembok.
Reno tersenyum tipis melihat wajah panik Intan yang sungguh menggemaskan bagi Reno.
__ADS_1
Reno melangkah semakin dekat dan tiba-tiba senyumnya diwajahnya menghilang seketika pada saat Reno menatap lekat mata wanita yang sangat ia cintai....