
" Tunggu dulu!" ucapan Reno mampu membuat Amira dan Intan bersitatap penuh kebencian.
" Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan, bagaimanapun caranya!" Bisik Amira pada Reno dengan senyum liciknya. Reno menoleh dan menatap Amira geram.
" Kau tau aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan yang harus menjadi milikku termasuk kau Reno!" Ancam Amira dan melirik Intan.
" Awas saja kalau kau berani menyentuh dan menyakitinya. aku tidak akan melepaskanmu sampai keliang lahat sekalipun!" Reno balik mengancam Amira dan menatapnya dengan tatapan membunuh.
Namun diluar dugaan Amira bukannya merasa takut ia justru tersenyum licik dan langsung mendaratkan ciuman di bibir Reno sontak saja hal itu lagi dan lagi telah membuat hati Intan hancur berkeping keping. Intan menutup mulutnya dengan satu tangannya dan airmatanya langsung tumpah seketika hanya ada satu kata untuk Intan SAKIT rasanya sangat sakit melihat orang yang dicintai dicium wanita lain dihadapannya. Intan sudah tidak kuasa lagi berada diruangan yang terasa sesak dan panas itu, bukan ruangannya yang tidak ber AC ataupun kamarnya sempit karena ruangan seorang CEO pastilah VVIP yang sudah jelas dari kata waaawwww.. tapi karena adegan itulah yang membuat kamar Reno menjadi sesak dan panas hingga membuat Intan tak sanggup lagi berada diruangan itu dan memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Intan berlari keluar dari kamar rawat Reno sambil menangis hatinya terasa sakit.
Intan berlari dan berhenti ditaman yang ada dirumah sakit tersebut dia duduk dibangku taman sambil terisak, bayangan saat Amira mendaratkan ciuman pada Reno bahkan Reno terlihat tidak menghindar dan menolak membuat Intan merasa dipermainkan dan dikhianati.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di kamar Hotel
Cahaya keluar dari kamar mba Yati selepas menenangkan dan menidurkan jagoan ciliknya yang sempat rewel. Cahaya membuka pintu kamarnya yang berada didepan kamar mba Yati dan Raka.
Cahaya masuk kedalam kamar dan mendapati suaminya sudah rapih dan bersiap untuk ke rumah sakit.
" Mas mau pergi sekarang?" Cahaya menghampiri suaminya dan Reihan menoleh melemparkan senyum tipis.
" Kasihan Intan, dia sudah terlalu lama menunggu. mas merasa gak enak!" Reihan membelai pucuk kepala sang Isteri.
" Iya mas, Intan juga belum sempat istirahat karena setibanya tadi kita langsung ke rumah sakit. aku juga merasa gak enak sllu merepotkan Intan!" Cahaya mendongak menatap wajah suaminya yang sungguh terlihat sangat tampan setelah mandi.
" Kenapa melihat mas seperti itu, apa kau tergoda dengan ketampanan suamimu ini?" goda Reihan memegang dagu Cahaya dan menatap matanya lekat sambil tersenyum dan terlihat sangat manis.
" Ge'er !" Cahaya mengerucutkan bibirnya dan mendorong pelan dada Reihan dengan wajah bersemu merah. Reihan yang melihat wajah Cahaya terlihat malu-malu merasa gemas dan menarik pinggangnya hingga membentur dada Reihan yang kekar.
" Mas, ihhh lepas... sudah sana pergi, kasihan Intan!" Cahaya berusaha meronta tapi Reihan semakin mengeratkan pelukannya dan tersenyum genit.
" Sebentar aja, mas masih kangen!" Reihan mengecup bibir Cahaya sekilas.
" Mas!" kesal Cahaya.
__ADS_1
" Iya... iya... mas pergi sekarang, tapi..!" Reihan menghentikan ucapannya dan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Cahaya.
" Tapi apa...?" Cahaya sebenarnya tahu apa yang selalu diinginkan suaminya kalau sedang seperti ini tapi ia membiarkan suaminya yang mengatakannya.
" Tapi nanti kamu harus membayarnya dua kali lipat!" Reihan tersenyum genit dan menaik turunkan alisnya.
Cahaya bergeleng geleng dengan omes dari suaminya. " Iya mas, tapi nanti ya kalau mas Reno sudah benar-benar sembuh!" Cahaya tahu suaminya pasti kesal dengan ucapannya.
" Apa? kamu gak salah yang, mas Reno kapan sembuhnya juga kita gak tahu masa selama itu sih yang?" Reihan kesal dan cemberut.
" Gak menerima protes ya!" Cahaya menahan tawanya dan merasa senang melihat raut wajah kesal sang suami.
" Yaudah gak apa-apa soal bayaran yang dua kali lipat itu nanti setelah mas Reno sembuh tapi untuk yang sekali gak dua kali lipat mah boleh dong yang !" Reihan mengedipkan matanya sebelah.
" Emmmm... gimana ya? liat aja nanti deh!" Cahaya pura-pura mikir dan mencoba menahan tawanya melihat wajah Reno yang ditekuk.
" Udah sana berangkat suamiku yang sangat tampan, ingat jangan macem-macem diluaran. awas saja kalau genit - genit!" wanti-wanti sang isteri yang mendaratkan cubitan kecil dipinggang suaminya.
" Awww.... sakit sayang, kamu tuh ya!" Reihan gemes dan mencubit hidung Cahaya.
" Mas Reihan!" Cahaya memegang hidungnya yang habis dicubit. Reihan tersenyum tipis. Cahaya meraih tangan Reihan dan mencium punggung tangannya.
" Wa'alaikum salam!" Cahaya menutup pintu dan menguncinya.
Reihan keluar dari hotel dan mobilnya melaju menuju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang. hanya butuh waktu 20 menit mobil Reihan telah sampai di area parkir RS. CITRA MEDIKA. setelah memarkirkan mobilnya Reihan berjalan menuju ruangan Reno dirawat. namun ketika melewati lorong rumah sakit tersebut langkah Reihan terhenti saat matanya menangkap sosok yang ia kenal sedang menangis dibangku taman.
" Aku seperti mengenal wanita itu!" Gumam Reihan yang kemudian melangkah mendekati sosok wanita tersebut dengan rasa penasarannya. benar saja setelah semakin dekat ia benar-benar mengenali wanita yang tengah menangis sendirian itu.
" Kau jahat mas Reno, kau memintaku untuk mempercayaimu tapi kenapa kau tidak berkutik ketika wanita itu dihadapanmu? aku tidak sanggup!" Tangis Intan semakin terdengar memilukan Reihan yang berada dibelakang Intan cukup mendengar keluh kesah yang dirasakan Intan dan Reihan merasa iba terhadapnya.
" Apakah wanita yang diceritakan mas Reno adalah Intan ?" Gumam Reihan dalam hati.
" Aku benci kamu mas Reno!" Teriak Intan kesal.
Suasana taman yang sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang berada disana membuat Intan tidak peduli dengan rasa malunya karena beberapa pasang mata yang menoleh kearahnya. Intan semakin terisak meluapkan kesedihannya " Aku akan membiarkan diriku menangis hari ini tapi setelah ini aku tidak akan menangis lagi karena mu mas, aku akan berusaha melupakan dan menghapus perasaan ini, semoga kau dan Amira bahagia mas!" Lirih Intan
__ADS_1
" Amira?" Ucapan Reihan sontak membuat Intan terkejut saat mendengar suara pria dibelakangnya. Intan menoleh dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat wajah pria yang sangat dikenalnya.
" Pak Rei... Reihan!" Ucap Intan tergagap.
Reihan tersenyum dan duduk disamping Intan yang masih ada ruang kosong.
" Kenapa kamu disini dan menangis?" Reihan memberikan sapu tangannya pada Intan.
Dengan ragu Intan menerimanya karena dia merasa takut jika sahabatnya Cahaya salah paham.
" Ambillah, aku tahu kau takut Cahaya salah paham kan? tenang saja Cahaya tidak akan mempermasalahkan sapu tangan ini. dia sangat mempercayaiku apalagi kau sahabat baiknya justru dia pasti akan merasa sedih jika dia tahu sahabatnya menangis ditaman rumah sakit seorang diri!" tutur Reihan.
Intan mengusap airmatanya dengan sapu tangan yang diberikan Reihan.
" Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau disini dan menangis. kau meninggalkan mas Reno sendiran? apa kau menangis karena mas Reno?" Reihan kembalu bertanya dan menatap Intan menyelidik.
" Sa... saya meninggalkan mas Reno dengannya, saya tidak sanggup berada diruangan yang begitu menyesakkan itu!" lirih Intan tertunduk dengan airmata yang kembali menetes ketika bayangan diruangan itu terniang dalam ingatannya.
" Maksudmu dengannya?"
" saya juga tidak mengenalnya tapi tadi mas Reno menyebut namanya..!" ucapan Intan terhenti.
" Amira?" Tebak Reihan dan Intan mengangguk.
Reihan tersenyum tipis, dan menepuk pundak Intan pelan.
" Sebaiknya kita temui Mas Reno sekarang, kau jangan menangis lagi disini sendirian. aku rasa kau sudah salah paham !" Reihan berdiri dan menunggu Intan bangkit dari duduknya.
" Tidak pak Reihan, maaf saya tidak mau kesana lagi dan melihat mereka yang sedang.... !" Intan menghentikan ucapannya dan menghela napas berat.
" Mereka......?" Reihan mengerti ucapan yang terhenti Intan. " jadi tadi mereka melakukan itu?" Intan mengangguk dan terlihat kecewa.
" Aku akan mencari tahu dan meminta penjelasan mas Reno. tapi sebaiknya kau ikut aku!" Reihan kembali mengajak Intan dan menarik tangan sahabat isterinya itu.
" Tidak pak Reno saya mau pulang saja!" Intan yang sudah berdiri dan hendak melangkah pergi langkahnya terhenti ketika teringat sesuatu yang terlupakan. Intan menoleh dan Reihan mengernyitkan dahi.
__ADS_1
" Maaf pak sepertinya saya harus ikut bapak karena....!" Intan malu-malu " Tas saya tertinggal disana" Wajah Intan seketika bersemu merah menahan rasa malunya terhadap Reihan.
" Ya sudah ayo!" Reihan melangkah menuju kamar rawat Reno dan Intan mengekor dibelakangnya