
" Sayang..!" lanjut cahaya dengan tatapan lembut.
Reihan tersenyum manis dengan tetap fokus mengemudikan laju mobilnya.
" emmm... Terima kasih" kata cahaya.
" untuk....?" Reihan menoleh ke cahaya.
" semuanya" jawab cahaya singkat
" semuanya?" tanya Reihan bingung
" hemmm.... karena sudah mau mengajak kemakam ayahku" cahaya tersenyum manis.
" Sekarang kau adalah istriku apapun yang bisa membuatmu merasa senang sebisa mungkin akan aku penuhi"
Setelah menempuh 3 jam perjalanan sampailah cahaya dan Reihan disebuah pemakaman umum. Reihan membukakan pintu mobil dan menggandeng tangan cahaya berjalan menuju salah satu makam yang diatas batu nisannya tertuliskan nama Darmawan.
__ADS_1
sebuket bunga mawar diletakan cahaya diatas makam ayahnya, tak kuasa iapun bercucuran air mata, Reihan merangkul sang istri menenangkan hatinya.
" Ayah mertua aku Reihan menantumu datang bersama putrimu, restuilah kami " ucap Reihan dihadapan makam Darmawan.
"Ayah lihat ini !" cahaya mengangkat jemarinya menunjukkan cincin yang melingkar dijari manisnya. " Ayah sekarang aku sudah menikah, ayah tidak perlu mencemaskan aku lagi, aku sayang ayah aku sangat merindukan ayah. aku...." tutur cahaya dengan deraian air mata yang berlinang di kedua pipinya.
Reihan memeluk lekat tubuh cahaya, ia sandarkan kepala cahaya dibahunya, ia diam tanpa kata membiarkan cahaya menangis dalam dekapannya. setelah beberapa menit berlalu Reihan menggeser tubuh cahaya menatapnya lembut.
" Sayang, apa sudah menangisnya?" tanya Reihan lembut. " jangan terlalu lama menangis nanti matamu jelek seperti mata panda, malu sama ayahmu sudah bersuami tapi masih cengeng, bagaimana nanti kalau ayahmu marah denganku karena sudah membuat putri kesayangannya tidak mau berhenti menangis" ucap Reihan sambil mencubit hidung cahaya mencoba menghiburnya.
" Ayo kita pergi!" aja Reihan
" kemana ?" tanya cahaya yang merasa sedikit bingung mau diajak kemana oleh Reihan.
" kesuatu tempat" jawab Reihan menggandeng tangan cahaya dan menuntunnya masuk kedalam mobil.
kini keduanya sudah berada didalam mobil. Reihan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang tak lama perjalanan mobil tersebut sudah terparkir didepan sebuah rumah kecil berwarna biru muda disekelilingnya terdapat taman bunga yang berwarna warni. cahaya sangat terkejut ketika melihat rumah yang berada dihadapannya, ia tak menyangka Reihan membawanya ke rumah tempat dimana ia dibesarkan oleh ayahnya. tak terasa air bening yang menggenang dipelupuk matanya turun dengan deras. kenangan bersama ayahnya terputar kembali dalam memorinya, saat ia kecil sampai kenangan pahit yang menimpanya semua muncul seperti film yang diputar berulang ulang. kakinya lemas sampai tak mampu menopang berat tubuhnya, Reihan yang melihat cahaya hampir terjatuh dengan sigap menariknya sampai terperanjat dalam pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Reihan dengan penuh kekhawatiran.
" aku baik-baik saja, Mungkin aku terlalu capek" jawab cahaya dengan tangan yang memegangi dahinya.
" yasudah kalau begitu , mari kita masuk !" ajak Reihan masih dengan memeluknya.
saat menghampiri gerbang kecil yang masih berdiri tegak cahaya dikejutkan dengan kemunculannya seorang pria berumur dari dalam rumah " Pak Tejo!" Sapanya
" Apa kabar non cahaya?" sapa balik pak tejo sambil membuka pintu gerbang yang tak begitu besar.
" seperti yang pak tejo lihat, aku baik- baik saja pak"
" syukurlah non saya senang mendengarnya"
" maaf, tapi kenapa pak tejo bisa ada disini?" tanya cahaya yang sedikit heran dengan kemunculan pak tejo.
" Tuan Besar menyuruh saya untuk menjaga dan merawat rumah orang tua non cahaya. dan kemarin tuan muda menghubungi saya katanya non cahaya akan datang kesini jadi saya membersihkan rumah ini dan jika non dengan tuan muda mau beristirahat silahkan kamarnya sudah saya persiapkan."
__ADS_1