RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Saling Memaafkan


__ADS_3

Cahaya duduk dengan menunduk dan mengusap usap pucuk kepala Raka yang tengah tertidur dalam dekapannya.


Sekar duduk disampingnya dan merasa geram dengan sikap sombong besannya itu yang masih saja belum berubah.


Reihan sedang membujuk ibunya yang nampak masih kesal dengan keputusan Reihan yang lebih memilih isterinya.


" Mah aku mohon jangan bersikap seperti ini mah, Cahaya sudah begitu banyak menderita mah, aku mohon mah restui kami dan aku juga tidak mungkin meninggalkan isteri dan anakku mah" Lirih Reihan yang memelas.


" Dia tidak pantas untukmu nak!" ucapan widia yang begitu menusuk membuat Cahaya sedih dan sakit hati


" Yang pantas itu hanya...!"


" Cukup mah, hentikan segala omong kosong mu itu!" Bram geram dengan sifat widia yang belum juga berubah." Kalian tidak usah menghiraukan ucapan mamahmu itu. carilah kebahagiaan kalian sendiri. kalau mamahmu masih mengusik rumah tangga kalian papah juga bisa mengakhiri rumah tangga kita mah!" Ancam Bram bicara dengan tegas.


" Maksudmu apa pah?" Widia menghampir Bram dengan raut wajah bingung.


" Kau tentu tahu maksud ucapanku?" Bram bangkit dari duduknya.


" Kau mau menceraikanku pah?"


" Jika kau masih mengusik kebahagiaan anak, menantu dan juga cucuku untuk apa lagi aku hidup bersama seorang wanita yang tidak punya hati dan kasih sayang yang tulus!" tutur Bram


" Tapi pah mamah hanya ingin Reihan hidup bahagia!" tegas Widia


" Tau apa kamu dengan kebahagiaan putramu? apa kau pikir bersama Cahaya Reihan tidak bisa hidup bahagia? mana wanita yang selama ini kau bangga-banggakan sebagai calon menantumu itu? Dia pergi setelah tau Reihan terpuruk. itu yang kau bilang Reihan akan bahagia dengan wanita seperti itu yang hanya menginginkan harta semata?" Bram emosi dan menghujani widia dengan pertanyaan pertanyaannya hingga membuat Widia diam tidak dapat mengatakan apa-apa.


" Kau sendiri yang telah menghancurkan kebahagiaan anakmu sendiri!" Bram bicara dengan pelan.

__ADS_1


Reihan menunduk dan merasa sangat sedih lagi-lagi orang tuanya bertengkar karena rumah tangganya.Cahaya menitikkan airmata melihat ayah mertuanya yang begitu membela rumah tangganya. Sekar mengusap bahu Cahaya dia tau putrinya saat ini pasti sangat sedih.


" Aku... aku...!" Kata-kata widia terbata-bata.


" Kalau kau masih tidak menerima kehadiran mereka. biarkan mereka pergi dan lupakan kalau kau punya seorang putra karena kau tidak pantas menjadi seorang ibu yang tidak tau letak kebahagiaan anaknya sendiri. jangan jadikan harta sebagai tolak ukur sebagai suatu kebahagiaan karena sampai kapanpun kebahagiaan itu tidak akan pernah tercapai. cinta karena harta bisa hilang jika harta itu hilang tapi cinta karena ketulusan hati sampai matipun cinta itu tidak akan pernah pudar dan selamanya akan tetap ada halaupun hidup tanpa harta.!" Ucap Bayu dengan lirih.


" Pah...!" panggil Cahaya sangat pelan.


" Menantuku sangat mencintai putra kita. walaupun dia bisa saja meninggalkan putra kita yang bahkan kini tidak sepadan dengannya. kau lupa siapa putra kita sekarang kau masih saja menyombongkan diri. sungguh tidak tau diri. Menantuku Cahaya begitu tulus mencintai putra kesayanganmu kau tidak melihat kebahagiaannya karena yang ada diotakmu hanya ingin menjual putramu menukar kebahagiaannya. ibu macam apa kau ? lihat dengan jelas menantumu yang memiliki hati begitu mulia dan lihat cucu kita apa kau tidak melihatnya apa kau buta hah, kau ingin cucumu tidak memiliki ayah? kau tau dengan jelas bagaimana hidup tanpa ayah dan sekarang kau ingin cucumu merasakannya?" Bram bicara panjang lebar berharap isterinya sadar akan kesalahannya selama ini dan mau menerima cahaya dengan sebagai menantunya.


" Aku...!" Ucap Widia lirih dan airmata membanjiri pipinya."Maafkan aku pah!" Widia tersungkur duduk dilantai dengan airmata yang berlinang.


Cahaya memberikan Raka pada Sekar dan dia berjalan menghampiri Widia duduk dilantai dan memeluk Widia sambil menangis. Widia diam karena terkejut Cahaya tiba-tiba memeluknya.


"Mah, Maafkan aku karena belum bisa menjadi menantu yang baik menantu yang bisa membahagiaakan mamah!" Ucap lirih Cahaya dengan berlinang airmata.


Bram, Reihan dan Sekar merasa takjub dengan sikap Cahaya. meraka pun tidak kuasa menahan rasa haru mereka.


" Maafkan mamah Cahaya karena selama ini sudah jahat sama kamu!" Widia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Cahaya.


" Mamah tidak perlu minta maaf, Cahaya sudah memaafkan mamah sejak dulu. karena Cahaya tau setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya ingin anaknya hidup bahagia termasuk mamah yang ingin melihat Mas Reihan hidup bahagia!" Ucap Cahaya lembut dan membuat Widia semakin menangis dan memeluknya.


" Kita lupakan semua mah dan mulai lagi dari awal, bagaimana?" Bram memecah kaharuan.


" Hemmm... Cahaya mengangukan kepalanya dan tersenyum tipis menatap lekat manik mata ibu mertuanya dan Widiapun mengangguk.


Cahaya dan Widia berdiri dibantu Reihan dan Reihan memeluk widia merasa sangat senang lalu bergantian memeluk isteri tercintanya. Sekar menghampiri ketiganya dan memperlihatkan Raka yang sedang tidur dalam gendongannya pada Widia.

__ADS_1


" Ini cucumu!" Sekar tersenyum dan Widiapun tersenyum.


" Boleh aku menggendongnya?" Tanya Widia


" Tentu saja kau kan omanya?" Jawab Sekar dengan senyum tipis diwajahnya.


Sekar memberikan Raka kepada Widia dan merasa sangat terharu saat menatap wajah polos Raka yang sedang terlelap.


" Sangat tampan mirip sekali dengan Reihan!" Widia mengecup kening Raka dan seketika Raka menggeliat merasa ada sentuhan dikeningnya namun tidak lama tertidur lagi.


" Sebaiknya tidurka putramu dikamarmu kasihan dia jika tidur seperti ini!" Widia menyerahkan Raka pada Reihan. " Ajak isterimu!" Ucapnya lagi.


" Iya mah!" Reihan melirik Cahaya dan Cahaya mengerti arti lirikan suaminya lalu berjalan mengikuti langkah suaminya.


Tinggal Widia, Sekar dan Bram yang berada duduk diruang tamu dan ketiganya terdiam.


"Mau minum apa, aku akan membuatkan minum terlebih dahulu dan sebaiknya kalian makan siang disini aku tinggal kedapur dulu." Ucap Widia memecahkan keheningan berdiri dan hendak pergi kedapur.


" Aku akan membantumu memasak bagaimana?" Tanya widia yang sudah bangkit dari duduknya.


" Tidak usah, kau tunggu saja disini dan kalian berbincang bincang saja. bukankah kaliain sudah lama tidak bertemu!"Ucap widia yang membuat Sekar merasa tidak enak hati.


" Tidak ada yang perlu diperbincangkan lagi, aku akan membantumu memasak!" Ucap Sekar yang sudah berjalan menghampiri Widia mendorong punggungnya pelan dengan seulas senyum diwajahnya.


" Terserah kau sajalah!" Widia tidak bisa menolak dan mereka pergi kedapur untuk memasak.


Sekar dan Widia masak bersama dan tidak butuh waktu lama keakrabanpun mulai tercipta antara keduanya tentu dengan sikap supel Sekar yang mudah membuat orang yang sudah mengenalnya akan merasa nyaman dan akrab.

__ADS_1


__ADS_2