
Reihan dan cahaya menghabiskan akhir pekan mereka hanya didalam apartemen. rasa bahagia begitu menyelimuti hati cahaya. ia berharap akan selalu bersama Reihan hingga maut memisahkan.
waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 Reihan dan Cahaya kembali ke rumah selain untuk mengambil barang-barang miliknya Cahaya juga hendak berpamitan terlebih dahulu kepada mertuanya yaitu Bramantyo dan Widia.
sekian jam perjalanan setelah melewati kemacetan lalu lintas akhirnya cahaya dan Reihan sampai didepan pekarangan rumah orang tua Reihan. Setibanya di rumah, cahaya berjalan masuk duluan sementara Reihan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Bramantyo dan widia sedang duduk di ruang tv. Saat melihat jam yang menempel diatas dinding menunjukkan pukul 23:00 melihat menantunya baru pulang Widia langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Cahaya dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.
" Dasar wanita tidak tau diri, di akhir pekanpun bisa-bisanya kau pergi pagi dan pulang selarut ini, apa sebenarnya pekerjaanmu? melayani laki-laki diluaran sana, iya dasar murahan?" Kata-kata yang terlontar dari mulut Widia sangat menyakitkan hati Cahaya. sungguh dia tidak menyangka sang mama mertua setega itu menghina dirinya. seketika butiran air mata lolos membasahi pipinya
" Cukup mah, sebaiknya jaga ucapan mamah!" bentak Reihan yang baru saja melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.
" Sayang kau sudah pulang, coba lihat isterimu yang tidak tau diri ini jam segini dia baru pulang. inikan akhir pekan bisa-bisanya dia keluar rumah dan pulang selarut ini" ucap widia yang berharap Reihan akan memarahi Cahaya dan kalau perlu diusirnya.
" Cahaya sebaiknya sekarang kau masuk kekamarmu dan segera kau kemasi barang-barangmu dan ingat jangan sampai ada yang tertinggal !" Titah Reihan dengan sorot mata yang merah menahan amarah.
Widia tersenyum-senyum mendengar ucapan yang dilontarkan Reihan terhadap Cahaya.
" Bagus sayang, sudah sepantasnya kau usir dia dari rumah ini dan juga dari kehidupanmu sayang" Batin Widia.
Bramantyo hanya terdiam mendengar ucapan Reihan terhadap cahaya dan melihat itu rasa gembira widia semakin bertambah.
" Tidak ada lagi yang memihakmu sekarang" guman pelan Widia.
Bramantyo lalu pergi meninggalkan mereka semua kekamarnya untuk beristirahat.
*flashback on โ
setelah sarapan Bramantyo masuk keruang kerjanya. ia duduk di sofa sambil membuka leptopnya.
tut...tut...tut... ponsel Bramantyo berdering
๐ BRAMANTYO
" Hallo Rei, ada apa nelpon papah, kamu dimana sekarang?
๐ REIHAN
" aku bersama cahaya pah di apartemen*"
๐ BRAMANTYO
" Pagi-pagi kamu sudah mengajaknya pergi tanpa sarapan dulu?"
๐ REIHAN
" Pah, aku dan Cahaya diapartemen sudah dari semalam. He..he...!" beritahu Reihan sambil tertawa kecil.
๐ BRAMANTYO
__ADS_1
" Dari semalam, jam berapa kalian pergi kok papah gak tahu?"
๐ REIHAN
" Tengah malam pah, papah pasti sudah tidur pulas." Reihan menarik napas dan ingin mengutarakan niatnya.
๐ BRAMANTYO
" Tengah malam, kaya gak ada siang aja?" ucap Bramantyo.
๐ REIHAN
"he..he..." Reihan terkekeh. " oia, pah aku rasa cahaya sudah merasa tidak nyaman tinggal di rumah kita jadi aku berencana untuk tinggal diapartemen ini bersama cahaya. dan memperbaiki hubungan pernikahan kami tanpa ada campur tangan mamah yang selalu membuat cahaya tertekan dan terganggu. !"
๐ BRAMANTYO
" Papah setuju saja, lalu bagaimana dengan pendapat cahaya apa dia setuju?"
๐ REIHAN
" iya pah, dia setuju."
๐ BRAMANTYO
"syukurlah, lalu kapan kalian pindah?"
๐ REIHAN
๐ BRAMANTO
" ya sudah kalau begitu. papah setuju saja asalkan kau ingat satu hal jangan membuat menantu kesayanganku terluka dan bersedih lagi. camkan itu!"
๐ REIHAN
" iya pah, tenang saja. dan mamah jangan sampai tahu hal ini ya pah!"
๐ BRAMANTYO
" iya"
๐ REIHAN
"terima kasih pah, aku matikan telponnya ya pah!"
*flashback offโ
Cahaya bergegas ke kamarnya untuk mengemas semua barang miliknya seperti yang diperintahkan Reihan.
Dan sesaat setelah Cahaya pergi Reihanpun berjalan pergi kekamarnya meninggalkan mamahnya yang terlihat sangat gembira.
__ADS_1
Ada sepasang bola mata yang berada dibalik tembok menitikkan air mata mengetahui cahaya akan meninggalkan rumah itu ya siapa lagi kalau bukan mbok ijah yang mengintip dari balik tembok.
" Non Cahaya..!" ucap mbok ijah lirih dengan airmata yang sudah membasahi pipi.
Widia tersenyum penuh kemenangan melihat Cahaya mengemasi semua barang-barangnya. lalu ia mengirimi pesan singkat kepada seseorang sambil duduk disofa menunggu Cahaya keluar dari rumah itu.
๐ฉ" Sayang ada kabar gembira, wanita kampung itu telah diusir oleh Reihan. saat ini dia sedang mengemasi barangnya" pesan terkirim ke Clara.
๐ฉ" Bagus dong. mamah widia sekarang bisa lega tanpa diganggu lagi sama gadis kampung itu."
๐ฉ " Iya sayang dan satu lagi suami mamah juga tidak mencegahnya dia membiarkan Reihan mengusirnya. mungkin papahnya Reihan sudah sadar kalau wanita yang pantas untuk Reihan ya cuma kamu clara. "
๐ฉ" Maksud mamah widia?"
๐ฉ" Maksud mamah ya mungkin papahnya Reihan kini sudah setuju hubungan kamu dengan Reihan, dan tidak lagi memaksa menjodohkan Reihan dengan gadis kampung itu"
๐ฉ" Jadi selama ini Reihan dijodohkan dengan wanita itu ma?"
๐ฉ" Iya sayang, maafkan mamah ya yg gak kasih tau kamu sebelumnya, mamah cuma kamu salah paham dengan Reihan"
๐ฉ" Iya mah gak apa-apa, yang terpenting Reihan tidak tergoda dengannya dan tetap cinta mati denganku mah. hee..hee.."
๐ฉ " Kau benar sayang!"
Tak berapa lama Cahaya keluar dari kamarnya dengan membawa koper. dengan perlahan ia menyeret kopernya saat menuruni anak tangga.
Reihan yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Cahaya sedang menuruni anak tangga dengan koper ditangannya.
Reihan lalu bergegas mengambil paksa koper cahaya sehingga koper itu kini sudah berpindah ke tangan Reihan.
" Mas aku izin ingin pamit dulu sama mbok ijah" Ucap Cahaya yang berlalu pergi menuju kamar mbok ijah. namun sebelum sampai dikamarnya Cahaya melihat mbok ijah sedang duduk di kursi belakang sambil menundukkan wajahnya.
Cahaya berjalan mendekati mbok ijah dan menepuk pelan bahunya.
" Mbok ngapain kok malam-malam duduk sendirian disini?" Tanya cahaya yang sedikit mengejutkan mbok ijah.
mendengar suara Cahaya dengan bergegas mbok ijah menyeka air mata yang membasahk pipinya.
" Eh.. non mengagetkan si mbok saja"
ucap mbok ijah dengan senyum yang dipaksakan.
" Si mbok habis menangis?" tanya cahaya yang melihat mata sembab mbok ijah.
" Ah.. gak non, mata mbok tadi kelilipan debu" mbok ijah sedikit berbohong.
" Mbok !"
" iya non." si mbok sudah berusaha menahan tangisnya didepan cahaya namun mendengar cahaya memanggilnya dengan lembut si mbok akhirnya tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi sudah menggenang.
__ADS_1
" Loh si mbok kenapa menangis?" Cahaya terkejut lalu duduk disamping mbok ijah dan menghapus airmatanya.
" Non akan pergi meninggalkan si mbok kan?" ucap mbok ijah disela tangisnya.