
Reno mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. Ia merasa ingin sekali menghampiri Reihan dan menghajarnya habis-habisan. tapi mengingat Cahaya masih dalam periksaan ia pun mengurungkan niatnya dan berusaha menahan emosinya.
Pintu ruanganpun terbuka seorang dokter keluar dan Reno langsung menghampirinya dengan penuh kekhawatiran.
" Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Reno khawatir.
" Pasien tidak apa-apa pak, hanya butuh istirahat yang cukup dan asupan makanan yang bergizi. Selamat ya pak !" Dokter menyalami Reno dan disambut Reno dengan mengerutkan dahi. " Selamat karena dari hasil pemeriksaan saat ini isteri bapak tengah hamil dan usia kandungannya berjalan 6 minggu !"
Reno terkejut mendengar pernyataan dari dokter kalau adiknya ternyata tengah hamil.
Setelah dokter pergi meninggalkan Reno yang masih diam mematung dengan perasaan yang tidak menentu Intan menghampirinya. " Pak!" panggil intan.
" Apa yang harus aku katakan pada Cahaya?" Reno merasa lemas dan menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit.
" Saat ini Cahaya terguncang karena perbuatan suaminya yang ber***sek itu. dia bersama wanita lain disaat isterinya tengah mengandung anaknya dan wanita tua itu berani-beraninya menghina adikku. lihat saja akan aku hancurkan mereka!" geram Reno dengan menghantamkan pukulan keras ke tembok.
" Pak Reno jangan seperti itu bapak bisa melukai tangan bapak sendiri !" ucap intan yang sudah berdiri dibelakangnya.
Reno menoleh ke arah Intan. " Sebaiknya kita temui Cahaya sekarang pak!" intan berusaha menenangkan Reno.
Reno menatap lekat mata Intan lalu berjalan mengikuti intan masuk keruangan dimana Cahaya dirawat.
Cahaya berbaring lemas dengan selang infus ditangan kirinya. matanya menatap langit-langit meratapi nasib dirinya. " Dek, bagaimana keadaan kamu sekarang apa sudah merasa baikkan?" tanya Reno hati-hati.
Cahaya menoleh ke sumber suara ditatapnya lekat mata kakaknya yang kini berdiri disamping tempat tidurnya.
" Dek, apa ada yang sakit?" tanya Reno khawatir karena Cahaya hanya diam tak bicara.
" Ca, kamu kenapa, apa ada yang kamu rasain, sakit perut, mual atau apa gitu bilang aja Ca?" Tanya Intan yang berdiri didekat Reno.
Cahaya menatap intan dan Reno bergantian lalu tiba-tiba cairan bening meluncur dengan deras dari pelupuk matanya.
Reno dan Intan terkejut melihat reaksi Cahays yang tiba-tiba menangis. Reno merasa sangat sedih melihat keadaan adiknya dan langsung menarik cahaya dalam pelukannya.
" Dek, kenapa kamu menangis bilang sama mas kamu kenapa menangis ?" tanya Reno dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Mas, apa benar saat ini aku sedang hamil?" Tanya Cahaya datar tanpa ekspresi dan hal itu sontak membuat Reno semakin terenyuh.
__ADS_1
" Dek.... !" ucapnya lirih
" Mas, apa yang harus aku lakukan sekarang mas?" Reno melepaskan pelukannya dan menangkupkan tangannya dikedua pipi Cahaya.
" Dek, anak adalah sebuah anugerah yang allah percayakan untuk kamu rawat dan dijaga. sayangi dia dan jaga dia dengan baik. kamu gak perlu khawatir dek mas akan selalu menjagamu dan juga anakmu!"
" Bagaimana dengan mas Reihan? dia harus tau mas!" Ucap Cahaya lirih.
" Ca, Reihan memang harus tau karena dia adalah ayah dari anak yang kamu kandung tapi untuk saat ini sebaiknya kamu fokus dulu dengan kesehatanmu dan juga bayi yang ada didalam kandunganmu. Ca, kamu harus sabar dan kuat demi anakmu!" Ucap Intan sambil menggenggam erat tangan sahabatnya itu.
" Yang dikatakan intan benar dek, soal Reihan kita bahas nanti saja. sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu dan juga calon keponakanku yang ada disini!" Ucap Reno tertawa kecil sambil mengelus perut Cahaya yang masih rata.
"Yaudah sekarang kamu istirahat dulu ya, mas mau melihat keadaan mamah dulu. gak apa-apakan kalau kamu mas tinggal dulu sebentar?" tanya Reno lembut.
" Iya mas gak apa-apa!" Jawab Cahaya
" Pak Reno tidak usah khawatir saya akan menemani cahaya disini!" ucap Intan.
" Yaudah kalau begitu mas tinggal dulu, Intan tolong ya titip Cahaya. kalau butuh apa-apa hubungi aku!" Pamit Reno.
" Iya pak!"
Saat keluar dari lif Reno seakan melihat seseorang yang dikenalnya. Reno memutuskan untuk memastikannya dan dia mengikuti orang tersebut. sesampainya di lantai 3 Reno menjadi geram dengan apa yang dilihatnya. Reihan orang yang ia buntuti masuk ke dalam ruangan tempat Clara dirawat.
" Apa dia tidak cemas sedikitpun tentang keadaan Cahaya saat ini? apa dia sudah tidak peduli lagi dengan isterinya? rasanya ingin sekali aku menghajarnya." geram Reno.
_______________________________
Didalam kamar Clara, Reihan yang baru datang meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya keatas lemari samping tempat tidur pasien.
" Kenapa kau belum tidur?" Tanya Reihan.
" Aku tidak bisa tidur, aku... aku kira kau tidak akan kembali kesini!" Ucap Clara sedih. " Rei, kamu tidak akan meninggalkanku lagi kan?" Tanya Clara menangis.
Reihan mendekati Clara dan duduk disampingnya. " Maafkan aku Clara, tanpa aku jawabpun aku yakin kamu pasti sudah tau jawabannya!". Reihan menatap lekat mata Clara.
" Rei, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, aku pasti akan memperbaiki hubungan kita. aku yakin kau pasti masih mencintaiku kan Rei?" Clara meraih tangan Reihan dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
" Clara jangan seperti ini. kamu pasti akan menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku!"
" tidak ! aku tidak mau. aku hanya menginginkanmu Rei... hanya kamu yang aku mau Rei.!" Clara menangis histeris hingga membuat Reihan merasa serba salah.
akhirnya Reihan menyerah dan mengiyakan kemauan Clara. Dia berharap setelah sembuh Clara bisa mengerti.
______****_____*****______
Setelah mengikuti Reihan akhirnya Reno memutuskan untuk kembali kekamar mamahnya dirawat.
Tokkk....tokk... tokk...
Reno mengetuk pintu setelah itu membukanya dan langsung masuk kedalam.
"Assalamu'alaikum!" ucap Reno.
" wa'alaikum salam, ehh aden udah sampe!"
" Iya bi!" Reno tersenyum. " Oia, bi bagaimana keadaan mamah?"
" Alhamdulillah den, besok sudah boleh pulang!" Bi susan tersenyum gembira.
" Syukurlah. kalau gitu bi susan tidur saja disofa biar mamah aku yang jagain" ucap pelan Reno.
" Ga usah den. biar bibi disini aja, Aden kan besok kerja sebaiknya aden saja yang istirahat!"
" Ehh...si bibi disuruh istirahat malah balik nyuruh sih!" Reno menggelengkan kepalanya.
"si aden itu gimana sih, kan besok aden mah harus kerja kalau bibi kan gak. jadi aden ja yang istirahat ya.!" Ucap bi susan.
" Aku belum ngantuk bi, jadi bibi istirahat ja duluan!"
" Yaudh kalau gitu. nanti kalau den Reno mau istirahat bangunin bibi ja ya!"
" iya bi!"
Reno mendekati mamahnya yang tengah berbaring dengan selang infus menempel ditangannya.
__ADS_1
Reno duduk disamping mamahnya memegang tangan mamahnya yang tidak di infus.