RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Kemarahan Intan


__ADS_3

Di Kediaman Mama Sekar


Saat ini Sekar sedang bermain dengan cucu kesayangannya Raka. semenjak pulang Sekar selalu menemani Raka bermain. Sekar juga rada cerewet dan bawel terhadap Intan setelah tau saat ini ia akan memiliki cucu lagi dari anak menantunya itu.


Sebenarnya Sekar sudah melarang Intan bekerja namun Intan terus saja merajuk agar di izinkan setidaknya sampai perutnya sudah terlihat membuncit.


Reno tidak mau memaksakan Intan, bagi Reno jika Intan merasa nyaman dan senang saat bekerja tidak masalah untuknya asalkan Intan tetap harus bisa menjaga kesehatan dia dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.


Sepulang kerja Reno membawa Intan ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya


betapa senangnya Reno dan Intan setelah tau bayi yang berada dalam kandungannya dalam keadaan sehat dan yang lebih membuatnya tambah bergembira lagi ketika dokter Maya mengatakan Intan mengandung dua calon bayi dan kini usia kandungannya sudah berjalan 8 minggu.


Reno sangat protektif terhadap dia tidak mau terjadi apa-apa terhadap isteri dan calon bayinya meski terkadang sikap Reno sering membuat Intan kesal tapi Intan senang suaminya begitu perhatian.


Intan memang masih bekerja karena menurutnya diam saja dirumah hanya membuatnya bosan dan stres. Reno tidak mempermasalahkan itu selama Intan bisa menjaga diri dan kandungannya dengan baik.


Setiap jam makan siang Intan selalu pergi ke ruangan Reno untuk makan siang bersama.


Makanan yang ia makan pun tak luput dari pengawasan adik ipar dan juga mama mertuanya. Hampir setiap hari Cahaya dan mama Sekar bergantian memasak untuk makan siang Reno dan Intan menyuruh sang sopir untuk mengantarkannya ke kantor Reno. Mendapatkan perhatian besar dari keluarga Reno membuat Intan merasa sangat beruntung, karena sejak kecil dia selalu berusaha untuk hidup mandiri dan tidak bergantung hidup dengan orang lain.


" Mas aku merasa tidak enak dengan Cahaya dan mama, mereka selalu mengirimkan kita makanan setiap hari!" Ucap Intan ketika sedang makan siang bersama Reno diruangannya.


" Tidak apa-apa sayang, itu kan kemauan mereka bukannya kamu sudah menolak tapi tetap saja kan mama dan Cahaya memaksa. jadi gak usah dipikirin ya, yang terpenting kamu dan calon anak-anak kita sehat.!" Reno mengusap lembut kepala Intan.


" Iya mas"


" Oia, hampir setiap hari aku makan siang disini apa teman-temanku gak akan curiga mas?" Pikir Intan


" Kenapa memangnya? kalau pun mereka tau gak masalah kan toh kamu makan bersama suamimu sendiri. aku tidak peduli tentang hal itu!" Reno kembali menyuap makanannya.


Setelah makan siang bersama Reno, Intan kembali ke ruangannya dan sesampainya di ruangan disana sudah ada Murni yang menatap sinis ke arah Intan. namun Intan tidak memperdulikannya untung saja kehamilan Intan tidak seperti wanita hamil pada umumnya yang menghadapi morning sickness, jadi hal itu membuat Intan terganggu dalam aktifitas kerjanya tapi lain hal pada Reno justru dialah yang harus kelelahan setiap bangun pagi disibukkan dengan gejolak diperutnya yang selalu ingin dikeluarkan isinya. kalau dalam dunia kedokteran itu dibilang sindrom cauved atau bisa juga dibilang kehamilan simpatik dimana seorang calon ayah yang merasakan gejala kehamilan yang dirasakan pada wanita hamil pada umumnya, seperti mual, muntah-muntah, mudah lelah, perubahan nafsu makan dan lain sebagainya.


Dan untuk mengatasi rasa mualnya Cahaya selalu membuatkan Reno sang kakak minuman segar yang dibekukan serta cemilan lainnya yang bisa membuat rasa mual Reno sedikit hilang.


Intan kembali fokus dengan pekerjaannya sementara Murni masih bersantai-santai meskipun beberapa file masih menumpuk diatas meja kerjanya. tidak berapa lama Lintang, Edo dan Andra kembali setelah ritual makan siang mereka. dengan canda tawa mereka berjalan menghampiri Intan.


" Duh... pegawai yang satu ini benar-benar telandan banget ya gak ? hemmm...kalau aku jadi CEO nya behhh... udah aku jadiin isteri CEO ni!" Goda Edo dengan cengiran khasnya dan tangan merangkul bahu Andra.


Deg...


Intan merasa terkejut dengan ucapan yang dilontarkan Edo pasalnya memang tanpa harus jadi pegawai teladan pun dia sudah menjadi Isteri pak CEO.


" Bang Edo bisa aja!" Intan tersenyum tipis menanggapi ucapan Edo.


" Tapi untungnya bang Edo bukan CEO nya jadi gak akan mungkin dia jadi isteri seorang CEO apalagi CEO Reno, jangan mimpi!" Cibir Murni dengan tatapan sinisnya. sementara Intan hanya membalas ucapan Murni dengan seulas senyuman manis dibibirnya.


" Sudah-sudah, waktunya kerja bang kembali sana ke meja abang jangan gangguin calon isteri saya terus!" Seloroh Andra sambil menaik turunkan alisnya kearah Intan. mendengar ucapan Andra Intan hanya geleng-geleng kepala.


" oia, Tan... akhir-akhir ini kemu makan siang dimana kok gak pernah makan siang bareng sih?" Tanya Lintang setelah Andra dan Edo kembali kemeja masing-masing hanya tinggal Lintang yang berada di meja kerja Intan.


" Emmm.. aku.. aku gak kemana mana kok. lagi malas aja makan keluar!" Jawab Intan gugup.


" Maksudnya kamu bawa bekal gitu dari rumah?" Tebak Lintang.


" Emmm.. iya!" Intan tidak berani menatap Lintang dan mengalihkan pandangannya pada berkas yang ada dimeja kerjanya.


" Wahhhh, rajin juga kamu ya Tan. pagi-pagi kamu udah masak dong ya buat sarapan dan juga bawa bekal?" sahut Andra ikut nimbrung.


" Benar-benar calon isteri idaman banget kamu Tan!" Edo ikut menimpali.


" Apaan sih bang, dra.. udah ah lanjut kerja sana. kamu juga Lin. nanti kalau pak Bima lewat bisa gawat loh kalau sampai di adukan pada pak Reno!"Intan mengingatkan.

__ADS_1


Mereka yang berada dalam satu ruangan Intan sibuk dengan pekerjaan masing-masing tidak terkecuali Intan. saat mereka sedang sibuk tiba -tiba mata Intan melihat seorang wanita cantik, seksi dan elegan berjalan menuju ruangan Reno. ruang kerja Intan yang memang hanya di sekat oleh kaca dan hanya bisa melihat dari dalam ruangan dengan jelas ia bisa mengenal sosok wanita yang tengah menuju ruangan suaminya.


" Amira!" Gumam Intan dalam hati dan tepat pada saat itu juga Murni melihat arah pandangan Intan yang sedang menatap Amira.


" Wah cantiknya pacar bos, itu pasti calon isterinya sangat cocok dengan bos Reno yang satu cantik yang satu tampan.!" Puji Murni saat melihat Amira.


Lintang, Edo dan Andra langsung menoleh kearah pandangngan Murni.


" Wawww...seksi bo, jadi itu pacar bos. tinggi juga ya seleranya!" Cibir Andra.


" Uhuk..uhukk...!" Intan tiba-tiba saja tersedak.


" Kamu kenapa Tan?" Tanya Lintang yang melihat raut wajah Intan yang seketika berubah muram.


" Aku gak apa-apa!" Sahut Intan dan tersenyum.


" Alahhh.... paling juga dia minder dan sadar diri kalau dia itu gak ada apa-apanya dengan calon isteri pak CEO kita, makanya ngaca !" ejek Murni yang langsung mendapat tatapan tajam dari Lintang.


" Eh... kalau ngomong tuh disaring dulu. yang seharusnya ngaca itu kamu yang halu mau jadi isteri pak Reno!" Cibir Lintang yang kesal dengan ucapan Murni pada Intan.


Hati Intan terasa panas saat melihat Amira berjalan menuju ruangan suaminya. pikirannya jadi tidak tenang ditambah lagi dengan ucapan dari Andra dan Murni yang mengatakan Amira terlihat seksi. ahhhh.... entah bagaimana rasanya Intan ingin meluapkan kemarahannya.


" Eh... Tan, ni dikerjakan ya sekarang dan setelah itu kalau udah selesai kamu taruh di atas meja aku. biar nanti aku yang akan mengantarkannya ke ruangan pak Reno. ingat ya Tan kerjakan yang benar awas kalau ada kesalahan tau akibatnya!" seperti biasa dengan songongnya Murni memerintah Intan seenak jidatnya. tapi kali ini Murni salah situasi menyuruh Intan disaat yang tidak tepat dan membuat kekesalan Intan bertambah apalag Murni saat memerintah Intan tanpa ada sopan santun.


Brakkk...


Intan berdiri dan menggebrak mejanya dengan sangat kuat sampai-sampai Andra, Edo dan juga Lintang terhempas kaget dari meja kerjanya apalagi Murni yang baru dua langkah meninggalkan meja Intan langsung diam seketika dengan keterkejutannya.


Intan berjalan menghampiri Murni dengan dokumen yang tadi Murni letakkan diatas meja kerjanya. sorotan mata ke 3 temannya terus memandang aneh dengan sikap Intan yang tidak seperti biasanya. Intan semakin dekat dengan Murni dan berhenti tepat dihadapan Murni. kali ini Murni merasa menciut saat pandangan matanya mendapat tatapan tajam mata elang Intan.


Dengan kasar Intan meletakkan dokumen yang dipegangnya ketelapak tangan Murni.


" Kau pikir kau siapa, beraninya membentakku seperti itu?" Murni memberanikan diri menjawab ucapan Intan.


Intan yang sudah melangkah kembali ke meja kerjanya seketika berhenti dan menoleh.


" Hah... kau pikir aku takut padamu. kau lihat wanita cantik calon isteri dari pak Reno tadi. dia itu sepupuku. dan jika dia sudah sah menjadi isteri dari bos Reno aku akan meminta saudara sepupuku untuk segera mendepak orang seperti mu!"


Deggg


Ucapan Murni mencelos begitu saja. kata-kata sepupu membuat Intan semakin bertambah kesal dan karena kondisi kehamilannya yang masih dibilang muda membuat tingkat emosi Intan tidak stabil sehingga membuat tubuh Intan lemas dan terjerabah hampir saja tubuh Intan terhempas kelantai jika tidak dengan cepat Reno datang keruangan tersebut.


Reno menyadari kedatangan Amira ke ruangannya pasti Intan sudah mengetahuinya karena takut Intan berpikir yang tidak-tidak dan menimbulkan masalah baru diantara mereka maka Reno memutuskan untuk menemui Intan keruangannya dan meninggalkan Amira begitu saja. awalnya Reno ingin meminta Intan keruangannya dengan alasan ingin melihat laporan yang Intan kerjakan tapi rencananya gagal karena saat hendak masuk keruangan Intan Reno melihat Intan tidak seperti biasanya yang selalu lemah lembut dan selalu menjauhi keributan tapi kali ini yang terjadi justru sebaliknya Intan terlihat sangat marah kepada Murni ditambah lagi dengan ucapan Murni yang seketika mampu memancing emosi ibu hamil tersebut.


Tanpa pikir panjang Reno yang panik melihat tubuh lemah Intan langsung saja mengangkat tubuh mungil Intan dalam gendongannya ala bridal style keruangannya dan sebelum melangkah Reno sempat menatap tajam pada Murni dan membuat murni gemetar ketakutan. dan apa yang Reno lakukan terhadap Intan tidak luput dari tatapan teman-teman Intan yang merasa terkejut dan juga heran dengan perlakuan CEO yang terkenal dingin tiba-tiba begitu peduli dengan pegawainya.


Reno melangkah dengan cepat menuju ruangannya dan setibanya diruangannya Reno langsung membaringkan Intan diatas sofa. " Sayang bangun dong sayang!" Reno menepuk nepuk pelan pipi Intan.


Untung saja Amira tidak mengikuti Reno uang pergi meninggalkannya diruangannya bersama Bima. Amira merasa kesal kala itu saat Reno pergi begitu saja ketika ia datang. Amira memutuskan untuk pergi dari kantor Reno karena pada saat Amira hendak menyusul Reno Bima dengan sigap melarang Amira dengan dalih saat ini Reno sedang menghadiri rapat dan tidak boleh diganggu jika ada yang mengganggunya Reno pasti akan marah besar.


Untung saja Amira percaya begitu saja dengan ucapan Bima sehingga dia lebih memilih untuk pergi.


Bima masuk ke ruangan Reno dengan membawa minyak angin dan juga air minum. tidak berapa lama akhirnya Intan tersadar dari pingsannya dan berusaha untuk bangun. Reno dengan sigap membantu Intan duduk.


" Kamu tidak apa-apa? apa ada yang sakit?" Tanya Reno lembut dan Intan hanya menggeleng.


" Kita pulang saja ya!" Reno berdiri dan mengulurkan tangannya namun Intan diam saja dengan wajah yang ia tundukkan.


" Kamu marah?" Intan tetap diam.


" Apa aku ada salah?" Reno kembali duduk disamping Intan dan lagi-lagi Intan hanya diam.

__ADS_1


" Kamu sebenarnya kenap? apa aku sudah melakukan kesalahan sampai kamu semarah ini, hem?" ucap Reno selembut mungkin.


Intan tidak menggubris semua pertanyaan Reno ia meremas jemarinya dan tidak lama terdengar isak tangisnya.


Reno yang melihat Intan menangis terasa sakit hatinya dan dengan lembut penuh sayang Reno membawa Intan dalam pelukannya. mencium kening Intan dan mengusap lembut punggungnya.


" Jangan menangis sayang, apa kamu tidak kasihan dengan bayi yang ada dalam kandunganmu. jika mommy nya bersedih nanti baby nya juga ikutan sedih. udah dong sayang jangan menangis lagi ya!" Dengan sabar Reno menenangkan Intan.


" Apa aku tidak pantas jadi isterimu, apa dia yang lebih pantas dari pada aku?" Tanya Intan disela tangisnya yang sesenggukan.


" Kamu bicara apa sih sayang?" Reno mengurai pelukannya dan mempertemukan tatapan matanya pada tatapan mata Intan.


" Dia cantik dan kau tampan, dia juga seksi sementara aku....!" Intan menundukan pandangannya.


" Sementara kamu apa, hem...?" Reno menarik dagu Intan dan membiarkan pandangan mata mereka kembali bertemu.


" Bagiku kau adalah wanita yang paling cantik dan paling seksi. karena aku hanya menyukai tubuh isteriku dan tidak peduli dengan wanita diluar sana. buat apa kamu membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain? asal kau tau sayang dimataku hanya kamu isteriku yang paling sempurna, dan aku tidak peduli dengan omongan orang lain.jadi jangan berpikir yang macem-macem apalagi yang aneh-aneh!" Tutur Reno panjang lebar.


" Tapi aku takut kalau kau akan meninggalkanku dan pergi bersamanya!" Intan memberanikan menatap mata Reno.


" Bodoh, darimana kamu punya pikiran seperti itu?" Reno menyentil dahi Intan.


" Awww.... sakit sayang!" Intan memberengut.


" Siapa suruh punya pikiran sebodoh itu!" Gemas Reno mengacak acak rambut Intan.


" Mas....!" kesal Intan menepis tangan Reno.


" Yaudah kita pulang aja ya,!" Reno bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya dan tersenyum. Intan menyambut tangan Reno dan membalas senyuman Reno.


" Gitu dong senyum, kan tambah cantik!" Goda Reno.


" Gombal!" Cibir Intan. " oia, mas tas aku gimana?" tanya Intan bingung.


" Tenang aja tadi aku sudah menyuruh Bima untuk mengambil tasmu.


" Makasih ya mas!" Intan tersenyum dan memeluk Reno.


" Udah gak marah lagi kan?" tanya Reno menggoda.


Intan mendongak melihat wajah suaminya yang tengah tersenyum lalu menggeleng, Reno menautkan alis." Maksudnya?"


" Aku masih marah sama mas, karena sudah berani membawa wanita keruanganmu!" Intan mengusel didada bidang Reno membuat Reno tertawa kegelian.


" No... no... no... kau salah sayang, aku tidak membawanya keruanganku tapi dia yang datang sendiri!" Ralat Reno yang tidak terima dibilang membawa wanita keruangannya.


" Lagi pula sayang, asal kau tau ya tadi saat dia masuk keruanganku, cepat-cepat aku langsung keluar dan menemuimu diruang kerjamu tapi ternyata saat itu kau sedang marah-marah sampai kau pingsan segala!" Turur Reno membuat Intan teringat sesuatu.


" Pingsan? lalu kenapa aku tiba-tiba ada diruanganmu. apa jangan-jangan mas yang....?" Pertanyaan Intan menggantung


" Hemmm... !" Reno mengangguk mengerti dari maksud arah pertanyaan Intan.


" Dan para karyawan yang lain..?"


" Mereka melihatnya!" Reno senyam senyum.


" Ihh... mas kok sesantai ini sih , bagaimana kalau mereka jadi berpikir macem-macem?" Intan merengek dan kesal dengan sikap santai suaminya.


" Berpikir macem-macem bagaimana? kalau mereka berani macem-macem dengan Isteri Reno putra Darmawan siap -siap ja mereka mas bikin tempe bacem!"


disela pembicaraan mereka ada suara ketukan pintu dan masuklah Bima dengan tangan menenteng tas milik Intan.

__ADS_1


__ADS_2