RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Rasa Takut Intan


__ADS_3

Reno terkejut mendengar isak tangis Intan yang kembali pecah.


" Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?" Tanya Reno cemas


" Apa kelak kau akan pergi meninggalkan aku dan anakku?" Tanya Intan disela tangisnya entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan nasibnya yang ditinggal oleh ayah dan ibunya dan harus hidup bersama neneknya tanpa mendapatkan rasa kasih sayang dari kedua orangtuanya dan ditambah lagi teringat akan nasib Cahaya yang berpisah dengan Reihan saat mengandung.


" Kamu ini bicara apa sih sayang,sudah ya jangan menangis lagi dan buang pikiran burukmu itu!" Titah Reno yang merasa ambigu dengan ucapan Intan.


" Kenapa kau bisa berpikir sejauh itu sayang, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu dan juga anak kita!" Ucap lembut Reno.


" Tapi aku... aku..." Intan begitu takut rasa takutnya mungkin terpengaruh karena hormon wanita hamil yang tidak stabil.


" Sudahlah sayang sekarang kau jangan berpikir yang bukan-bukan, cukup jaga dengan baik calon bayi kita sayang!" Reno dengan lembut kembali mengecup kening Intan.


" Aku berjanji akan sllu menjaga kalian, karena kau dan calon bayi kita adalah harta yang paling berharga yang aku miliki, aku mencintaimu sayang!" Reno mendaratkan bibirnya ke bibir Intan dan terjadilah ciuman hangat diantara keduanya. setelah merasa cukup Reno pun menyudahinya.


" Sekarang kau mau tetap istirahat disini dulu atau kita pulang saja!" Tanya Reno lembut.


" Apa hari ini mas ada meeting?"


" Itu tidak penting sayang, aku bisa membatalkannya yang terpenting saat ini adalah isteriku!"


" Jangan mas, jangan dibatalkan biar aku istirahat disini saja. mas pergi meeting saja!" Titah Intan " Tapi bagaimana dengan teman-temanku pasti mereka bingung mencariku karena aku belum juga kembali" Intan bingung.


" Kamu tenang saja nanti Bima yang akan mengatasinya, sekarang kau istirahat saja dulu biar nanti Cahaya yang akan menemanimu!" Reno menyelimuti tubuh Intan sampai pinggang.


" Cahaya?"Intan mengernyitkan alis.


" Iya Cahaya saat ini ada diluar, tadi dia dan Reihan datang kesini untuk mengajak kita makan siang bareng, tapi kau malah ada diatap gedung memaki-maki si playboy cap ubur-ubur!" Ucap Reno sedikit menahan tawanya.


" Ja... jadi mas mendengarnya?" Jantung Intan terasa ingin copot. malu itulah yang dirasakan saat ini.


" Ha..ha... kau ini ada-ada aja sayang sebegitu marahnya hanya karena candaanku dengan Cahaya"


" Mas...!" kesal Intan karena Reno mentertawainya.


" Maaf sayang!"


" Aku... aku marah padamu bu...bukan karena itu?" Intan menutup wajahnya dengan selimut setelah mengatakannya.


Reno nampak berpikir" Kalau bukan karena itu lalu karena apa sayang?"


Reno menarik selimut yang menutupi wajah cantik isterinya." Hemmmm, katakan?"


Intan cemberut rasanya hatinya begitu kesal jika teringat saat melihat Reno dengan wanita lain berjalan bersama sambil tertawa lepas.


" Kenapa malah cemberut?" Goda Reno sebenarnya dia tau Intan marah karena melihatnya bersama Luna.


" Aku... aku benci padamu karena kau pergi bersama wanita lain!" Teriak Intan lalu kembali menutup wajahnya dengan selimut.


" Jangan menyembunyikan wajahmu jika sedang berbicara dengan suamimu!" terdengar suara isak tangis dibalik selimut Reno menggelengkan kepalanya menghadapi emosi wanita hamil memang harus ektra sabar.

__ADS_1


" Wanita yang kau lihat tadi itu Luna!"


" Aku tidak peduli nama wanita itu!" Kesal Intan dari balik selimut


" Aku dan Luna dari dulu memang sangat dekat kami juga sempat kuliah di kampus yang sama di Amerika. Luna baru datang ke indonesia dan langsung memaksaku untuk menemaninya makan siang!" Tutur Reno


Hati Intan semakin terbakar api cemburu disaat mendengar kedekatan antara Reno dan Luna.


" Maaf sayang kalau tadi aku tidak menolaknya. karena aku pikir kamu itu sedang makan siang dengan teman-temanmu, makan?" Reno menepuk keningnya karena teringat kalau Intan belum makan begitu juga dengannya yang belum sempat makan karena saat pasanannya datang Reno langsung pergi meninggalkan Luna begitu saja.


" Aku pesan makanan dulu untukmu sayang!" Reno mengambil ponsel dari saku celananya namun saat baru ingin menelpon suara pintu terbuka dan terlihat Cahaya dan Reihan masuk dengan membawa 2 kotak berisi makanan ditangan Cahaya.


"Syukurlah kau sudah sadar Intan, Kalian pasti belum makan, ini aku bawakan makanan. sebaiknya kau makan yang banyak Intan demi calon keponakanku agar selalu sehat.!" Ucap Cahaya yang sudah berada berdiri di samping tempat tidur Intan.


" Terima kasih Ca!" Intan beringsut mendudukan dirinya dan dibantu oleh Cahaya.


Reno meraih box makanan yang dibawa Cahaya dan membukanya" biar aku suapi?" Reno menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya kemulut Intan namun Intan melengos menolak suapan dari Reno.


" Aku bisa makan sendiri!" Ketus Intan lalu mengambil kotak makanan yang ada ditangan Reno dengan kasar. Reno hanya mendengus kesal ternyata kemarahan Intan masih belum reda.


Cahaya menepuk bahu Reno " Sabar, sebaiknya mas makan dulu gih!" serunya pelan dan memberikan kotak nasi yang satunya pada Reno.


Reno bangun dari duduknya dan keluar dengan membawa kotak nasi yang diberikan Cahaya.


Reihan pun ikut keluar membiarkan para wanita berdua didalam. mungkin Cahaya bisa menenangkan hati sahabat sekaligus kakak iparnya saat ini.


" Mas keluar dulu sayang!" Dijawab anggukan oleh Cahaya.


Intan mengambil minum dari kulkas yang ada diruangan itu dan memberikannya pada Intan.


" Minumlah!" Intan menerimanya lalu meminumnya.


" Terima kasih!" Intan menghentikan kegiatan makannya.


" Makanlah dengan perlahan sekesal apapun yang kamu rasakan tapi jangan diluapkan dengan cara makan seperti. bukan hanya membahayakanmu tapi juga bahaya untuk bayi yang kau kandung!" Cahaya berusaha menenangkan hati Intan.


" Kamu ini seperti bukan Intan sahabatku saja, biasanya kau selalu mencerna setiap permasalahannya dulu baru bertindak. gara-gara candaanku dengan mas Reno kau sampai seperti ini!"


" Bukan karena hal itu saja!"Ucap Intan lirih lalu memberikan kotak nasi yang sudah kandas isinya dimakan oleh Intan.


" Luna?" Ucap Cahaya to the point.


Intan mendongak menatap Cahaya seakan penuh tanya.


" Iya, dari mana kau tau?" tanya Intan


" Dari Bima!" Cahaya meletakkan box diatas nakas. lalu duduk disamping Intan.


" Bima?" Intan semakin bingung.


" Bima bilang kalau nyonya Reno putra Darmansyah yang satu ini terlihat sedih setelah melihat kakaku si playboy cap ubur-ubur pergi bersama seorang wanita!" ucap Cahaya dengan seringai senyum diwajahnya.

__ADS_1


" Wanita itu bernama Luna, iya kan?" Intan mengangguk sebagai jawabannya.


" Luna itu sahabat baikku , dia juga anak paman Sam adik almarhum papa Mark, bisa dibilang sepupu!" Suara Reno mengejutkan keduanya. Reno perlahan menghampiri keduanya.


Mark adalah suami dari mama Sekar tapi mereka tidak memiliki anak. Sikap tegas dan kerasnya Mark mendidik Reno untuk bersikap tegas sama seperti dirinya tapi beruntung sikap kejamnya tidak terbawa oleh Reno. tetaplah darah kental ayahnya yang ramah mengalir pada pribadi Reno.


" Tetap saja kalian tidak ada ikatan darah bukan?" Ketus Intan


" Kami memang tidak ada ikatan darah tapi aku sudah menganggapnya sebagai adik tidak lebih dari itu!" Tegas Reno.


" Mas.... !" Ucap pelan Cahaya.


" Aku tidak akan menemuinya lagi sayang, kalaupun dia memaksa aku akan memanggilmu untuk menemaniku. kalau perlu mulai besok kau tidak perlu bekerja lagi dan cukup menemaniku saja di ruang kerjaku bagaimana?" terang Reno.


" Tidak mau, aku masih ingin bekerja sebelum kehamilanku membesar!" pinta Intan manja.


" Baiklah tapi kau harus janji tidak boleh capek-capek. kau harus menjaga calon bayi kita sayang!"


" Iya" Singkat Intan.


" Dan sudah tidak marah lagi denganku?" goda Reno


" Masih!" Ketus Intan lalu diakhiri dengan tawa kecilnya.


" Ya ampun kau ini menggemaskan sekali!"


Reno ingin mencubit pipi Intan namun terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu.


Ceklekkk...


" Maaf pak Reno , waktunya meeting!" Bima dengan sopan mengingatkan Reno.


Reno menoleh kesumber suara dan mengangguk. " Baiklah kalau begitu sayang, aku pergi dulu. istirahatlah!" Ucap Reno lembut lalu pergi meeting namun sebelun beranjak tak lupa Reno mendaratkan kecupan dikening Intan.


" Ca kalau kamu mau pulang juga gak apa-apa kasihan Raka terlalu lama kamu tinggal pergi!" Ucap Intan yang merasa tidak enak pada Cahaya.


" Apa kamu gak apa-apa kalau aku tinggal.sendiri disini?"


" Gak apa-apa Ca, aku juga mau istirahat!" Intan tersenyum tipis.


" Kasihan juga Ca, Reihan juga pasti sedang sibuk kan?"


" Ahh... iya, aku hampir lupa mas Reihan tadi memang mengajakku untuk pulang!" Cahaya menepuk dahinya pelan.


" Kamu itu Ca, kebiasaan!" Cahaya hanya terkekeh lalu pamit pulang pada Intan dan setelah berpamitan Cahaya dengan segera keluar dari kamar yang ada di ruangan Reno mrnghampiri Reihan yang sedari tadi sudah menunggunya.


" Maaf ya mas, aku sampai lupa!" Ucap Cahaya yang merasa sangat bersalah.


" Tidak apa-apa, bagaimana Intan?"


" Sudah baikkan mas, dan sekarang dia mau istirahat katanya"

__ADS_1


" Ya udah sekarang kita pulang!" Cahaya mengangguk dan keduanya pun keluar dari ruangan Reno sambil merangkul satu sama lain.


__ADS_2